- Film kolaborasi MD Pictures dan STB berjudul Ahlan Singapore tayang perdana 5 Februari 2026, menampilkan kisah cinta segitiga diperankan tiga aktor utama.
- Penampilan Rebecca Klopper sebagai Aisyah dinilai berubah namun busana dan riasannya terkadang kurang sesuai karakter agamisnya.
- Visual Singapura ditampilkan indah melalui Oceanarium dan Haji Lane, namun dialog film dikritik terasa kaku menyerupai sinetron modern.
Suara.com - Film drama romantis Ahlan Singapore, kolaborasi MD Pictures dengan Singapore Tourism Board (STB), tayang perdana hari ini, Kamis, 5 Februari 2026, di bioskop seluruh Indonesia.
Disutradarai oleh Indra Gunawan, film ini menghadirkan Rebecca Klopper sebagai Aisyah, Kiesha Alvaro sebagai Liam, dan Ibrahim Risyad sebagai Ridwan, dalam sebuah kisah cinta segitiga yang cukup membingungkan seorang muslimah perantauan.
Secara keseluruhan, Ahlan Singapore menyuguhkan tontonan yang ringan dengan premis sederhana, namun tidak lepas dari beberapa catatan penting, terutama dalam aspek penokohan dan eksekusi cerita.
Penampilan Pemain: Antara Manglingi dan Klise
![Gala Premiere film Ahlan Singapore di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan pada Senin, 2 Februari 2026 [Suara.com/Tiara Rosana].](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/02/03/24883-gala-premiere-film-ahlan-singapore.jpg)
Rebecca Klopper sebagai Aisyah tampil cukup 'manglingi' dengan hijab dan busana serba tertutup, yang memberikan kesan berbeda dari citra dirinya di layar lebar sebelumnya.
Namun, di balik perubahan penampilan tersebut, riasan wajah Rebecca terasa agak berlebihan, kurang merepresentasikan karakter mahasiswa.
Pilihan busana yang dikenakan Aisyah, meskipun modis, kadang dirasa kurang sesuai dengan penggambaran karakternya yang cukup agamis hingga enggan bersentuhan dengan lawan jenis.
Penggunaan celana yang membentuk lekuk tubuh, misalnya, terasa kurang elok dibandingkan jika Aisyah dipakaikan rok.
Lalu gaya hijab yang dikenakannya cukup monoton dan kurang santai. Sepanjang film, Rebecca hanya menggunakan satu gaya jilbab yang harusnya bisa lebih divariasikan agak tidak membosankan.
Di sisi lain, Kiesha Alvaro cukup berhasil memerankan Liam, laki-laki Singapura dengan perawakan santai namun memiliki budi pekerti yang baik.
Usahanya untuk berbicara dengan aksen Singlish patut diapresiasi. Meskipun di beberapa adegan terdengar agak canggung, logatnya cukup meyakinkan sebagai warga lokal Negeri Singa.
Sementara itu, Ibrahim Risyad sebagai Ridwan cenderung kembali pada gaya akting yang biasa dia tampilkan. Penampilannya terasa "lempeng dan klise", tanpa ada momen yang benar-benar menggetarkan hati penonton.
Visual Singapura: Cantik Tapi Kurang Eksploratif
Salah satu kekuatan utama film ini adalah sajian visual Singapura yang estetik dan cantik.
Penonton diajak melihat keindahan Singapore Oceanarium dan jalanan berwarna-warni di Haji Lane, yang berhasil membangkitkan rasa penasaran untuk mengunjunginya secara langsung.
Namun, bagi sebagian penonton, jumlah scene yang menampilkan sisi lain Singapura terasa agak kurang.
Bila salah satu tujuan film ini adalah untuk memperkenalkan Singapura, seharusnya lebih banyak lagi destinasi ikonik maupun hidden gem yang bisa ditampilkan.
Dialog dan Alur Cerita: Terjebak Sinetron Modern
Aspek yang paling banyak mendapat sorotan adalah dialog dalam film yang terasa terlalu cheesy dan kaku, menyerupai gaya sinetron.
Beberapa momen bahkan bisa membuat penonton bergidik, terutama saat Liam melemparkan gombalan kepada Aisyah.
Adegan-adegan yang didasarkan pada "kebetulan" juga terasa kurang realistis dan terkesan dipaksakan untuk mengisi durasi film yang mencapai dua jam.
Salah satu adegan seperti Aisyah yang berlari menghindari Liam, terasa "terlalu kuno" untuk film yang diproduksi di era modern ini.
Melihat keseluruhan sajiannya, muncul pandangan bahwa Ahlan Singapore akan lebih cocok disajikan dalam bentuk mini-series.
Dengan format tersebut, visual Singapura bisa dieksplorasi lebih luas, dan cerita dapat mengalir perlahan, memberikan ruang lebih banyak bagi Aisyah untuk secara logis memilih antara Ridwan atau Liam.
Secara keseluruhan, Ahlan Singapore adalah film ringan yang bisa dinikmati sebagai hiburan santai, namun dengan beberapa sentuhan yang mengingatkan pada gaya sinetron.