- Seorang santri SD berusia 11 tahun di Wonogiri tewas setelah berkelahi dengan teman sekelasnya akibat candaan dan aksi saling ejek yang berlebihan.
- Pihak pesantren awalnya menyebut korban masuk angin, namun keluarga menemukan kejanggalan berupa bekas darah sehingga meminta proses ekshumasi atau bongkar makam.
- Polisi telah menetapkan teman korban berinisial R (11) sebagai tersangka dalam insiden yang terjadi saat ruang kelas tanpa pengawasan guru tersebut.
Suara.com - Sebuah tragedi memilukan terjadi di lingkungan Pondok Pesantren kawasan Desa Geneng, Kecamatan Bulukerto, Kabupaten Wonogiri.
Santri berinisial DRP yang berusia 11 tahun dinyatakan meninggal dunia. Penyebabnya, terlibat perselisihan dengan teman sebayanya.
Pihak pondok pesantren awalnya memberikan kabar kepada keluarga bahwa korban hanya dilarikan ke klinik karena mengalami gejala masuk angin, bukan berkelahi.
Namun keluarga mendapati DRP sudah tidak bernyawa ketika mereka sampai di fasilitas kesehatan untuk menjenguknya.
Ironisnya, sang ayah baru saja kembali dari perantauannya di Pontianak, Kalimantan Barat pada Minggu, 15 Februari 2026.
Keluarga kemudian curiga pada kematian DRP yang janggal. Seorang kerabat mengaku melihat adanya bekas darah kering yang menempel di bagian hidung jenazah bocah malang tersebut.
"Ayah DRP melapor ke polisi bila menemukan kejanggalan dari kematian anaknya," terang keterangan yang dihimpun oleh pihak kepolisian setempat.
Kepolisian akhirnya bertindak tegas dengan menggelar proses ekshumasi atau pembongkaran makam korban pada Selasa (17/2/2026) untuk memastikan penyebab kematian.
Setelah penyelidikan, polisi menetapkan teman sekelas korban berinisial R (11) sebagai tersangka dalam kasus ini.
Baca Juga: Sosok Shelyn Adlyani Hendroharto, Drummer Cilik dari Papua yang Multitalenta dan Inspiratif
Peristiwa nahas itu dipicu aktivitas bercanda yang berlebihan. Sehingga berujung pada aksi saling ejek di dalam ruangan kelas.
"Candaan itu menjadi saling mengejek, hingga kedua berkelahi di kelas pada Sabtu lalu," jelas pihak berwajib mengenai kronologi kejadian tersebut.
Mirisnya, insiden baku hantam tersebut terjadi saat tidak ada guru yang mengawasi, meski sempat dilerai oleh beberapa rekan sekolah lainnya.