- Film ini mengonversi buku pengembangan diri non-fiksi tentang Stoisisme menjadi drama naratif keluarga yang emosional.
- Sherina Munaf dipilih sebagai pemeran utama karena dianggap memiliki kepribadian rasional yang sangat mewakili pembaca buku aslinya.
- Proyek garapan MD Pictures ini bertujuan memberikan bimbingan praktis bagi penonton dalam mengelola emosi dan menghadapi masalah hidup.
Suara.com - MD Pictures secara resmi mengumumkan proyek film terbaru mereka bertajuk Filosofi Teras, sebuah adaptasi dari buku pengembangan diri (self-improvement) karya Henry Manampiring yang telah terjual lebih dari 500 ribu eksemplar.
Disutradarai oleh Affandi Abdul Rachman, film ini bukan sekadar memindahkan teks non-fiksi ke layar lebar, melainkan meramu prinsip-prinsip Stoisisme ke dalam konflik naratif sebuah keluarga.
Proyek yang telah direncanakan sejak 2019 ini akhirnya memulai proses produksinya tepat saat buku aslinya memasuki cetakan ke-100.
Visi Produser dan Penantian Panjang
CEO MD Entertainment sekaligus produser, Manoj Punjabi, menyebutkan bahwa penundaan produksi akibat pandemi justru memberikan momentum yang lebih kuat bagi film ini. Doa meyakini bahwa Filosofi Teras memiliki daya tarik yang konsisten meski bukunya sudah dirilis bertahun-tahun lalu.
"Everything happens for a reason. Timing-nya sangat tepat sekarang. Jarang ada buku yang sudah tujuh, delapan tahun masih hyped-nya setinggi ini. Saya rasa ini adalah puncak dari hype tersebut. Kita mau buat film yang bagus, karya terbaik dari MD," kata Manoj Punjabi dalam konferensi pers yang digelar di kawasan Setiabudi, Jakarta Selatan, pada Rabu, 25 Februari 2026.
Terkait pemilihan pemain, Manoj menegaskan bahwa MD Pictures tidak asal dalam menunjuk jajaran cast. Dia mengedepankan kecocokan karakter di atas segalanya.
"Saya selalu percaya karakter yang memilih pemain. Kalau karakter yang milih, pengalaman saya 90 persen akan sesuai. Kalau kita cuma 'taruh' pemain, seringnya enggak terjadi karena kesannya memaksa. Di film ini, semua enggak ada yang dipaksa," tegasnya.
Tantangan Menerjemahkan Non-Fiksi ke Visual
Henry Manampiring selaku penulis buku mengaku sempat terkejut saat bukunya dilirik oleh rumah produksi besar. Dia sempat meragukan bagaimana sebuah buku panduan hidup bisa diubah menjadi format film drama.
"Jujur saya kaget, karena ini bukan buku fiksi. Kalau novel diadaptasi itu biasa, tapi ini buku self-improvement. Di sinilah kekuatan visi Pak Manoj, melihat ada sesuatu yang powerful untuk dijadikan cerita. Menariknya, film ini memberikan napas dan jiwa lain dalam bentuk fiksi keluarga yang penuh drama," tutur Henry Manampiring.
Sutradara Affandi Abdul Rachman menyadari bahwa dia memegang materi yang sangat sensitif bagi banyak pembacanya. Dia fokus pada cara menyampaikan pesan yang kompleks menjadi narasi yang mudah dicerna oleh penonton lintas generasi.
"Saya harus hati-hati sekali karena ini materi yang sangat delicate buat generasi sekarang. Semua karakternya merepresentasikan orang-orang di sekitar kita, bahkan mungkin ada di dalam diri kita sendiri," ucap Affandi.
"Tugas saya adalah menerjemahkan filosofi dari buku Henry ke cerita naratif yang membantu penonton menemukan solusi atas masalah hidup mereka," tambahnya.
Sherina Munaf Jadi Pemeran Utama dan Cerita Pemain Lain