Industri perfilman Indonesia baru saja kedatangan sebuah karya thriller psikologis unik bertajuk Lift.
Di bawah arahan Randy Chans, film Lift mencoba keluar dari zona nyaman pasar lokal yang biasanya didominasi oleh horor supranatural.
Tanpa kehadiran sosok hantu maupun pembunuh berantai, Lift mencoba mengeksplorasi ketakutan manusia di ruang sempit yang terisolasi dan suara misterius dari balik interkom.
Sayangnya premis apik dan akting Shareefa Daanish yang memukau disebut terbentur dengan naskah yang kurang menggigit membuat film Lift menuai kritik.
Padahal film Lift meraih dua penghargaan dalam ajang The North Film Festival, Barcelona 2026 untuk kategori Best Cinematography Feature dan Best Audience Award.
Nah, biar nggak makin penasaran simak ulasan lengkap review film Lift berikut ini.
1. Sinopsis dan Plot Utama

Cerita bermula enam tahun setelah sebuah insiden tragis yang merenggut nyawa Gabriel, Direktur Utama PT Jamsa Land.
Kini, perusahaan tersebut kembali dilanda teror saat Hansen (Verdi Solaiman), sang direktur baru, menghilang secara misterius.
Baca Juga: Sinopsis Getih Ireng, Baru Menyusul Puncaki Daftar Terpopuler Netflix Hari Ini
Di tengah situasi yang kacau, Linda (Ismi Melinda), staf humas perusahaan, terjebak di dalam lift yang macet bersama seorang mantan jurnalis yang kini menjadi podcaster, Anton (Max Metino).
Ketegangan dimulai ketika suara asing lewat interkom mendikte gerakan mereka.
Situasi kian genting saat Linda menyadari bahwa anaknya, Jonathan, disandera oleh sang peneror.
Di luar lift, Doris (Shareefa Daanish), istri Hansen, turut terseret ke dalam pusaran masalah setelah menerima pesan misterius yang memaksanya datang ke kantor di tengah malam.
2. Naskah Ambisius Tapi Kehilangan Fokus

Meski mengusung konsep one location thriller yang menjanjikan ketegangan intens seperti film Phone Booth, Lift justru terjebak dalam naskah yang terlalu rumit.
Alih-alih memberikan efek twist yang cerdas, alur maju mundur yang berliku justru terasa membingungkan dan melelahkan bagi penonton.
Potongan informasi yang dilemparkan terasa acak, membuat penonton sibuk menyusun logika cerita daripada merasakan simpati pada nasib karakter.
Kelemahan lain terletak pada dialognya yang terasa kaku dan puitis sehingga pesan yang ingin disampaikan terdengar janggal.
Selain itu terlalu banyak poin yang ingin dibahas tapi tidak ada satu pun isu yang berhasil digali secara mendalam.
3. Performa Akting yang Terbatas Naskah

Kehadiran aktris spesialis genre thriller seperti Shareefa Daanish awalnya diharapkan mampu mengangkat kualitas film.
Tapi penulisan karakter yang tidak konsisten di babak akhir membuatnya sulit memberikan performa yang benar-benar berkesan.
Begitu pula dengan Teuku Rifnu Wikana yang justru hanya mendapatkan peran dengan waktu layar yang sangat terbatas.
Secara keseluruhan, Lift adalah sebuah eksperimen sinematik yang menarik dari segi konsep namun lemah dalam eksekusi.
Bagi penonton yang menyukai genre thriller minimalis, film ini tetap memberikan penyegaran di tengah gempuran film horor.
Film ini mulai tayang di bioskop pada 26 Februari 2026, tertarik untuk menonton?
Unsur komedi yang sesekali disisipkan untuk mencairkan suasana pun sering kali tidak tepat sasaran.
Kontributor : Safitri Yulikhah