Suara.com - Kabar mengejutkan datang dari Vilmei yang mengaku akun TikTok miliknya diblokir permanen oleh pihak platform.
Akun yang telah mengumpulkan 68,8 juta pengikut itu kini tidak lagi dapat diakses oleh pemiliknya.
Informasi tersebut pertama kali disampaikan Vilmei melalui unggahan di akun Instagram pribadinya, @vilmei, kepada para pengikut setianya.
Dalam keterangan yang diterimanya dari TikTok, disebutkan alasan pemblokiran dilakukan karena pelanggaran kebijakan berulang.
"Akun anda telah diblokir secara permanen karena beberapa kali melanggar kebijakan," bunyi keterangan informasi yang diterima Vilmei dari TikTok.
Kehilangan akun sebesar itu tentu bukan perkara kecil bagi seorang kreator dengan basis audiens puluhan juta.
Vilmei pun menyampaikan permohonan maaf kepada para pengikutnya karena merasa gagal menjaga akun tersebut dengan baik.
"Maafin aku ya teman-teman, aku gak bisa jaga akun aku dengan baik," tulis Vilmei dalam unggahan yang memperlihatkan kesedihannya.
Baca Juga: Membongkar Operasi Informasi dari Gelombang Video Hoaks 'China Bantu Gaza'
Meski tampak terpukul, pemilik nama asli Meicy Villia Kalangi itu berusaha menunjukkan sikap tegar dan mencoba menerima kenyataan pahit tersebut.
"Nggak apa-apa, seenggaknya pernah ngerasain jadi TikTokers no 2 di Indonesia," pungkasnya dalam nada pasrah namun tetap bersyukur.
Pada unggahan berikutnya, Vilmei terlihat menangis dan mengaku pesimis untuk kembali membangun semuanya dari awal.
Dia menyebut perjalanan lima tahun konsisten mengunggah video setiap hari terasa runtuh dalam sekejap.
"Nggak akan bisa di titik itu lagi," tulis Vilmei, menggambarkan keraguan untuk kembali mencapai posisi puncaknya.
Secara industri, hilangnya akun dengan 68,8 juta pengikut membawa dampak finansial yang sangat signifikan.
Dengan jumlah pengikut sebesar itu dan engagement tinggi, potensi penghasilan bulanan dari live streaming, gift, dan kerja sama brand bisa mencapai miliaran rupiah.
Nilai kontrak endorsement untuk akun sebesar tersebut biasanya memiliki tarif fantastis per unggahan promosi.
Pemblokiran permanen berarti hilangnya peluang kerja sama baru sekaligus kemungkinan pembatalan kontrak yang sedang berjalan.
Selain uang tunai, kerugian terbesar justru berada pada aset digital berupa data algoritma dan komunitas yang terbentuk selama lima tahun.
Basis audiens yang loyal tidak bisa digantikan secara instan meskipun kreator memulai akun baru dengan strategi agresif.
Membangun kembali dari nol membutuhkan waktu panjang, biaya promosi besar, serta konsistensi ekstra untuk menembus algoritma.
Kontributor : Chusnul Chotimah