Suara.com - Insiden dramatis menimpa Fairmont The Palm setelah serpihan rudal menghantam area depannya dan memicu kebakaran besar pada Sabtu, 28 Februari 2026.
Hotel mewah di kawasan ikonik Palm Jumeirah itu disebut terdampak serpihan ledakan saat Uni Emirat Arab mencegat serangan udara dari Iran.
Serpihan rudal dilaporkan jatuh tepat di depan bangunan, memicu kobaran api dan kepulan asap hitam yang membumbung tinggi.
Video yang beredar luas di media sosial memperlihatkan suasana mencekam dengan langit memerah dan tamu berlarian panik.
Sejumlah saksi mata menyebut ledakan keras terdengar sebelum api membesar, mengubah sore tenang menjadi kepanikan massal.

Pihak Dubai Government Media Office mengonfirmasi insiden tersebut serta menyebut sedikitnya empat orang mengalami luka-luka akibat kejadian itu.
Meski api berhasil dikendalikan otoritas setempat, investigasi penyebab pasti insiden masih berlangsung hingga kini.
Di tengah situasi genting tersebut, kolom ulasan Google hotel justru dibanjiri ribuan rating bintang satu bernada sarkastik.
"Saya tidak merekomendasikan tempat ini, rudal menghantam kamar kami," kritik salah satu ulasan.
"Tidak ada sistem pertahanan udara," ujar pengguna lain, seolah menyalahkan pihak hotel atas serangan tersebut.
Beberapa jam setelah membanjirnya komentar miring, ulasan-ulasan tersebut mendadak menghilang dari halaman Google Reviews.
Data terakhir menunjukkan ulasan terbaru yang terlihat hanya sampai 27 Februari 2026, sehari sebelum insiden terjadi.
Sebelum kejadian ini, Fairmont The Palm memegang rating tinggi 4,6 bintang dari puluhan ribu ulasan tamu.
Banyak tamu sebelumnya memuji pantai pribadi sepanjang 450 meter serta delapan kolam renang luar ruangan.
Hotel yang dibuka sejak 2012 itu memiliki lebih dari 390 kamar dan suite dengan panorama Teluk Persia.
Tarif menginap rata-rata mencapai sekitar Rp4,9 juta per malam, menempatkannya sebagai akomodasi kelas premium.
Nilai bangunan hotel tersebut ditaksir mencapai Rp 5,4 triliun, mencerminkan skala investasi properti mewah di Dubai.
Insiden ini turut menambah kekhawatiran industri pariwisata Timur Tengah yang terdampak konflik panas yang sedang berlangsung antara Iran dan Israel.
Hingga saat ini, manajemen Fairmont belum memberikan pernyataan resmi terkait serangan ulasan maupun rencana renovasi.
Kontributor : Chusnul Chotimah