- Musisi Zendhy Kusuma menyampaikan permohonan maaf atas kesalahannya dalam kasus dengan restoran Bibi Kelinci, yang sempat jadi sorotan DPR RI.
- Permasalahan berawal dari protes pesanan makanan dan berlanjut saling lapor polisi, menimbulkan dampak hukum serta tekanan siber.
- Kasus tersebut berakhir damai melalui mediasi kepolisian, memberikan pembelajaran tentang media sosial dan hukum bagi semua pihak terlibat.
Suara.com - Musisi Zendhy Kusuma kembali menyampaikan permohonan maaf terkait kasus yang melibatkan dirinya dengan restoran Bibi Kelinci. Apalagi kasus ini sampai disorot anggota DPR RI.
Dalam pernyataan resminya kepada awak media, Zendhy Kusuma menegaskan bahwa ia menyadari kesalahan yang terjadi dan menyesal atas dampak yang ditimbulkan.
“Saya menyadari bahwa dalam situasi tersebut kami tentu tidak sempurna,” katanya.
Ia menambahkan, “Dalam kondisi lapar dan emosi, mungkin ada sikap kami yang seharusnya bisa disampaikan dengan cara yang lebih baik. Untuk itu saya kembali menyampaikan permohonan maaf.”
Zendhy Kusuma mengaku tidak menyangka bahwa permasalahan sederhana ini bisa berkembang hingga masuk ranah hukum.
![Zendhy Kusuma [Youtube]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2025/09/27/85244-zendhy-kusuma.jpg)
Ia maupun pemilik restoran Bibi Kelinci saling melaporkan ke polisi, yang kemudian membuat situasi menjadi rumit dan menyedihkan bagi semua pihak.
“Situasi ini tentu membuat kami semua bersedih. Hal yang awalnya sederhana menjadi sangat sulit bagi semua pihak,” jelasnya.
Tak hanya berdampak secara hukum, kasus ini juga menimbulkan tekanan psikologis bagi Zendhy dan keluarganya. Ia menyebut bahwa selama beberapa bulan terakhir, mereka mengalami cyberbullying yang cukup besar.
Banyak komentar negatif, tuduhan, bahkan penyebaran informasi pribadi yang terjadi di media sosial.
“Saya tidak ingin menyalahkan siapa pun, tetapi pengalaman ini membuat kami memahami betapa kuatnya dampak media sosial terhadap kehidupan seseorang,” imbuhnya.
Meski begitu, Zendhy Kusuma menyatakan rasa syukur karena persoalan ini akhirnya dapat diselesaikan secara damai. Ia berterima kasih kepada pihak kepolisian yang memfasilitasi proses mediasi hingga kasus ini dinyatakan selesai.
“Saya berterima kasih kepada pihak kepolisian yang telah memfasilitasi proses mediasi sehingga persoalan ini dapat dinyatakan selesai,” ujarnya.
Zendhy juga menyinggung keterlibatan DPR RI yang sempat menyoroti kasus ini dalam rapat resmi. Menurutnya, perhatian DPR menjadi pembelajaran penting mengenai penegakan hukum di era media sosial.
“Kami menghormati perhatian DPR yang ikut menyoroti kasus ini sebagai pembelajaran dalam penegakan hukum di era media sosial. Kami memahami bahwa DPR ingin memastikan agar penegakan hukum berjalan secara adil dan proporsional bagi semua pihak,” jelasnya.
Dari pengalaman ini, Zendhy Kusuma mengaku banyak belajar, baik sebagai konsumen maupun sebagai warga negara. Ia menekankan bahwa kasus ini menjadi pembelajaran bagi semua pihak, termasuk pelaku usaha dan masyarakat luas.
“Saya belajar menjadi konsumen yang lebih baik. Teman-teman yang menjalankan usaha juga tentu belajar menjadi pelaku usaha yang lebih baik. Dan kita semua belajar menjadi warga negara yang lebih dewasa di tengah kehidupan yang sangat dipengaruhi media sosial,” lanjutnya.
Seperti diketahui, persoalan bermula ketika Zendhy Kusuma dan istri memprotes pesanan makanan di restoran Bibi Kelinci.
Ketidakpuasan mereka membuat keduanya pergi membawa pesanan tanpa membayar terlebih dahulu. Imbasnya, pihak restoran kemudian memviralkan kasus ini di media sosial.
Merasa dirugikan, Zendhy Kusuma melaporkan pihak restoran ke polisi, sambil menegaskan bahwa ia sudah membayar pesanan meskipun tidak dilakukan di tempat.
Setelah melalui proses panjang dan mediasi, akhirnya kasus ini berakhir damai.