Suara.com - Feby Febiola menyoroti maraknya pembahasan agama dalam podcast yang dinilainya semakin meresahkan selama momentum Ramadan tahun ini.
Melalui unggahan Threads pada Jumat, 20 Maret 2026, Feby mengungkap kegelisahannya terhadap cara sebagian konten kreator mengangkat dialog lintas agama.
"Beberapa dialog antar agama di podcast-podcast terkadang meresahkan, kayak misalnya, 'Kenapa kok kamu enggak masuk agama saya saja?'" tulisnya.
Dia menilai pertanyaan seperti ajakan berpindah keyakinan terdengar kurang etis karena agama merupakan ranah personal yang tidak seharusnya diperdebatkan terbuka.
"Aku pikir agama itu sangat perseonal dan pertanyaan seperti itu kurang etis," tulis Feby sambil meminta pendapat publik terkait fenomena tersebut.
Unggahan Feby langsung memicu diskusi panjang di kalangan warganet yang memiliki sudut pandang berbeda tentang batasan dialog keagamaan.
Seorang warganet menilai hanya di Indonesia topik agama sering dibedah habis-habisan meski perilaku sosial masyarakat belum sepenuhnya mencerminkan nilai keimanan.
"Cuma di Indonesia topik agama dibedah habis-habisan dan orang-orang berusaha mencari agama mana yang paling benar, sementara kelakuan masyarakatnya sendiri banyak yang tidak benar," komentar seorang warganet.
Komentar lain menyinggung podcast milik Daniel Mananta yang menghadirkan momen sensitif saat narasumber menanyakan soal keyakinan pribadinya.
Dalam podcast tersebut, Daniel mendapat pertanyaan dari Khalid Basalamah terkait alasan yang menghalanginya untuk masuk Islam.
Pertanyaan itu berbunyi, "Apa yang menghalangi Mas dari masuk Islam?" yang kemudian dijawab panjang oleh Daniel dengan refleksi spiritual pribadinya.
Daniel menjelaskan bahwa pengalaman hidup membuatnya sangat mencintai Yesus dan mempertanyakan apakah perasaan itu akan sama jika lahir berbeda keyakinan.
Mantan VJ MTV itu juga menyebut sosok Yesus sebagai Raja dalam hidupnya yang dia hormati sepenuh hati dengan cara ibadah penuh ketundukan.
"Jadi sekarang ini ketika saya ditanya, 'Niel, Yesus itu siapa?', Raja saya. Dia itu Raja saya. Jadi saya menyembah Dia sebagai Raja," ucapnya.
Selain itu, Daniel mengaku merasa tidak layak atas kasih yang diterimanya karena percaya Yesus telah menebus dosa-dosanya melalui pengorbanan besar.
"Dia harus mati di kayu salib untuk menebus dosa saya yang selama ini sudah... aduh borok banget," ujarnya.
Pernyataan tersebut mempertegas bahwa hingga kini Daniel Mananta masih teguh pada keyakinannya sebagai umat Katolik meski kerap berdialog dengan tokoh Muslim.
Sementara itu, sebagian warganet menilai pertanyaan lintas agama tidak selalu bermaksud memaksa, melainkan bentuk kepedulian terhadap orang lain.
Namun mereka sepakat bahwa batas etika tetap penting, terutama ketika jawaban yang diberikan tidak sesuai harapan penanya dalam diskusi sensitif.
Kontributor : Chusnul Chotimah