- Ajang DTI-CX 2026 resmi dibuka di Jakarta International Convention Center untuk mewujudkan kedaulatan digital nasional.
- BSSN menekankan pentingnya penerapan strategi pertahanan siber terintegrasi guna mencegah celah kerentanan serta kebocoran internal.
- Pemerintah menargetkan kemandirian talenta lokal melalui kerja sama pendidikan agar tidak bergantung pada tenaga asing.
Suara.com - Di tengah percepatan adopsi teknologi global, Indonesia masih menghadapi tantangan besar terkait pemerataan infrastruktur, ancaman keamanan siber yang kian canggih, hingga ketergantungan pada talenta asing.
Tanpa fondasi yang mandiri, transformasi digital berisiko menjadi pedang bermata dua yang mengancam kedaulatan data dan ekonomi nasional.
Menjawab tantangan tersebut, Digital Transformation Indonesia Conference & Expo (DTI-CX) 2026 resmi dibuka di Jakarta International Convention Center (JICC) sebagai pusat inovasi teknologi paling ambisius tahun ini.
DTI-CX 2026 bukan sekadar pameran dagang; ini adalah manifestasi strategi nasional untuk memutus ketergantungan teknologi.
Mengusung tema “Konektivitas Digital untuk Indonesia Berdaulat”, ajang ini menjadi titik temu teknologi masa depan seperti Artificial Intelligence (AI), Cloud Computing, hingga penguatan Cyber Resilience.
Loncatan Teknologi: Melampaui Infrastruktur Dasar
Indonesia tidak lagi bisa bergerak secara linear. Ketua Umum Mastel, Sarwoto Atmosutarno, menegaskan bahwa untuk bersaing di level global, Indonesia harus berani mengambil langkah ekstrem dalam adopsi teknologi mutakhir.
"Indonesia harus loncat segera ke 5G, Indonesia harus loncat segera ke kripto kuantum, kemudian Indonesia harus loncat juga ke satelit yang non-terrestrial network. Kita juga harus loncat ke persediaan data center yang kapasitasnya memenuhi kebutuhan," tegas Sarwoto.
Menurutnya, kebutuhan penyimpanan dan pengolahan data nasional sudah sangat mendesak, tidak hanya untuk kebutuhan masyarakat tetapi juga demi integrasi data pemerintah yang aman.
Keamanan Siber: Menggeser Paradigma ke "Resilient by Architecture"
Seiring dengan masifnya digitalisasi, celah kerentanan pun terbuka lebar. Kepala Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), Nugroho Sulistyo Budi, menyoroti bahwa teknologi yang canggih tidak akan berarti tanpa sistem pertahanan yang terintegrasi sejak awal pengembangan.
Ia mengungkapkan bahwa mayoritas insiden siber bermula dari kebocoran internal dan kelalaian manusia. Oleh karena itu, pendekatan keamanan harus berubah total.
"Kita wajib menerapkan apa yang kita sebut sebagai security by design dan resilient by architecture. Strategi pengamanan harus dimulai dari layer regulasi, SOP, hingga pemantauan bersama melalui pertukaran informasi ancaman," jelas Nugroho.
Enam Strategi Menuju Ekonomi 8 Persen
Pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Digital telah menyiapkan roadmap sistematis untuk memperkuat ekosistem ini.
Dirjen Ekosistem Digital, Edwin Hidayat Abdullah, memaparkan enam pilar utama: Konektivitas, Kompetensi, Katalisator, Permodalan, Kepatuhan, dan Komersial.