Suara.com - Dunia kuliner tanah air, khususnya bagi para pecinta jajanan kaki lima seperti bakso dan mie ayam, baru-baru ini dihebohkan oleh sebuah pengakuan jujur dari salah satu produsen saus ternama.
Selama bertahun-tahun, saus yang sering ditemukan di gerobak pinggir jalan kerap mendapatkan stigma negatif sebagai makanan "tak sehat" atau berbahan kimia berbahaya.
Namun, sebuah video unggahan resmi dari akun Surabraja Putra mendadak viral karena mengungkap fakta yang sangat berbeda dari dugaan publik selama ini.
Dalam tayangan tersebut, terungkap bahwa rahasia kelezatan saos mereka terletak pada penggunaan bahan nabati alami.
"Sobat SBP, siapa nih yang baru tahu kalau salah satu bahan baku pembuatan saus itu adalah ubi, Sobat?" tulis akun surabrajaputra.official.
Bukan sembarang ubi, produsen ini mengklaim menggunakan jenis ubi AC yang memiliki standar kualitas sangat tinggi.
Jenis ubi ini kabarnya merupakan komoditas yang umum digunakan untuk kebutuhan ekspor ke mancanegara seperti Amerika, Jepang, hingga Korea.
Proses produksinya pun dilakukan dengan tahapan yang cukup ketat untuk menjaga kualitasnya.
Dimulai dari pemilihan ubi berkualitas yang kemudian dibersihkan secara menyeluruh dari sisa-sisa tanah yang menempel.
Setelah bersih, ubi-ubi tersebut dimasukkan ke dalam mesin oven berukuran besar agar teksturnya melunak.
Tahap selanjutnya adalah penghalusan menggunakan mesin penggiling khusus sebelum akhirnya dicampur dengan berbagai bumbu dan bahan pilihan lainnya di tempat pemasakan.
Setelah matang, saus ini langsung dikemas dan siap didistribusikan ke berbagai penjuru kota besar di Indonesia.
Unggahan ini pun memicu reaksi beragam dari warganet, bahkan ada yang secara terbuka menyampaikan permohonan maaf karena selama ini telah berprasangka buruk terhadap produk tersebut.
"Pantesan umi gue suka bener sama ni saus. Kalau makan bakso atau mie ayam tuh enggak mau kalau enggak pakai saos ini, katanya ini enak. Padahal gue udah negatif bae sama nih saos maaf," tulis seorang netizen di kolom komentar.
Meski fakta mengenai ubi ini telah menjawab keraguan banyak orang, transparansi ini justru memicu rasa penasaran baru di kalangan konsumen yang sangat peduli pada aspek kesehatan.
Sebagian netizen masih mempertanyakan detail lain, terutama terkait proses pemberian warna pada produk akhir yang terlihat mencolok.
"Spill proses pewarnaannya min," tanya salah satu netizen yang ingin tahu lebih dalam.
Kekhawatiran mengenai jenis zat pewarna tetap menjadi topik hangat, dengan komentar seperti, "Semoga pewarna merahnya yang aman bukan pewarna textil atau pewarna yang berbahaya."
Ketajaman mata netizen bahkan menyoroti perbedaan warna antara bahan baku dan produk jadi. Seorang pengguna media sosial memberikan catatan kritis.
"Warna ubinya kuning, sausnya orange. Lantas bagian penambahan rhodamine B tidak masuk inframe?" kata si netizen.
Netizen saat ini yang tidak hanya mencari rasa enak, tetapi juga kepastian akan keamanan bahan tambahan pangan dalam produk yang mereka konsumsi sehari-hari.
Kontributor : Tinwarotul Fatonah