- Sineas Joko Anwar merilis film horor Ghost In the Cell yang mengisahkan teror kematian narapidana di Lapas Labuhan.
- Produksi film melibatkan kolaborasi seniman visual kelas dunia untuk merancang adegan kematian narapidana secara artistik dan mendalam.
- Film yang digarap sejak 2017 ini menggunakan latar penjara sebagai metafora satir mengenai kondisi sosial di Indonesia.
Suara.com - Sineas ternama Joko Anwar kembali menggebrak industri layar lebar tanah air melalui karya terbarunya yang bertajuk Ghost In the Cell.
Film ini tetap mengusung genre horor yang mencekam. Namun sang sutradara menjanjikan nuansa yang sangat berbeda dari kisah-kisah setan yang pernah ia buat sebelumnya.
Ghost In the Cell mengangkat cerita tentang kehidupan kelam para narapidana yang menghuni Lapas Labuhan.
Fokus cerita tertuju pada kehadiran penghuni baru bernama Dimas (Endy Erfian). Dimas dikisahkan sebagai wartawan yang dituduh membunuh bosnya.
Kehadiran sosok Dimas di dalam penjara ternyata membawa petaka besar. Di mana para penghuni lapas mulai tewas satu per satu dengan cara mengerikan.
Berikut adalah beberapa poin menarik yang menjadi sorotan utama dalam proses produksi film horor terbaru garapan Joko Anwar ini:
1. Latar belakang cerita
![Jumpa pers film Ghost In the Cell ditemui di Kuningan, Jakarta Selatan pada Kamis, 9 April 2026. [Suara.com/Rena Pangesti]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/04/10/19337-jumpa-pers-film-ghost-in-the-cell.jpg)
Ide dimulai sejak 2017 dengan mengusung tema keresahan sosial mengenai kondisi Indonesia saat ini.
Bagi Joko Anwar, konsep penjara dalam film terbarunya merupakan metafora besar bagi negara Indonesia. Di mana tidak semua orang memiliki kemampuan atau hak istimewa untuk keluar.
"Penjaranya sendiri adalah negara, dan semua napi-napi itu adalah WNI kita. Karena apa? Kita enggak bisa kabur. Cuman beberapa orang aja punya privilege untuk kabur," jelas Joko Anwar dalam konferensi pers di Kuningan, Jakarta Selatan pada Kamis, 9 April 2026.
2. Keunikan visual di adegan kematian para narapidana
![Joko Anwar, sutradara film Ghost In the Cell ditemui di Kuningan, Jakarta Selatan pada Kamis, 9 April 2026. [Suara.com/Rena Pangesti]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/04/10/41804-joko-anwar.jpg)
Tanpa memberikan spoiler, film ini menghadirkan adegan pembunuhan. Tapi mayatnya dirancang secara artistik.
Nyatanya, Joko Anwar melibatkan seniman visual kelas dunia dari berbagai bidang profesi.
"Jadi setiap kematian itu didesain oleh satu orang ilustrator," ungkap Joko Anwar mengenai kolaborasi lintas profesi yang ia terapkan dalam proyek film ini.
Para ilustrator yang terlibat bukan sembarang orang, melainkan mereka yang sudah memiliki kiprah global dan sering mengerjakan proyek besar untuk jenama internasional.