- Sineas Joko Anwar merilis film horor Ghost In the Cell yang mengisahkan teror kematian narapidana di Lapas Labuhan.
- Produksi film melibatkan kolaborasi seniman visual kelas dunia untuk merancang adegan kematian narapidana secara artistik dan mendalam.
- Film yang digarap sejak 2017 ini menggunakan latar penjara sebagai metafora satir mengenai kondisi sosial di Indonesia.
"Bahkan mereka sudah membuat ilustrasi buat beberapa brand besar seperti DC, Marvel gitu ya," tambah Joko Anwar menekankan kualitas talenta yang ia ajak berkolaborasi.
3. Kehadiran golden scene Abimana Aryasatya dan Morgan Oey
Ada 'golden scene' yang melibatkan Abimana Aryasatya dan Morgan Oey. Keduanya menggabungkan aksi laga serta komedi.
"Fighting komedi harus ada expression yang komikal untuk menambah kesan komedinya. Itu, susah banget," kata Abimana Aryasatya.
Bahkan mereka melakukan take panjang, sekira 15 menit untuk adegan tersebut.
4. Totalitas Aming dalam memerankan Tokek
Aming, secara total memainkan Tokek. Sosok bengis, kocak dan punya kelainan seksual.
Nyatanya untuk memainkan tokoh tersebut, Aming harus mengingat trauma yang dialami.
"Sedikit banyak based on my personal experience gitu kan. Salah satunya kayak manggil trauma-trauma di masa lalu gitu kan, terus dari historical background-nya," kata Aming.
5. Pesan mendalam soal harapan kepada Indonesia
Meski ini merupakan film satir yang menyindir pemerintah, tapi Joko Anwar tetap memiliki harapan.
Harapan bahwa diantara banyak orang yang mungkin punya sifat serakah, mau menang sendiri, tapi ada pula mereka yang memiliki hati jujur.
"Kita nggak mau film ini berakhir dengan hopeless. Karena apa? Pasti ada 10 persen orang di Indonesia yang masih punya harapan," ucapnya mengakhiri.