- Seniman Rully Irawan merilis proyek musik bertajuk "Markisa" di Copenhagen sebagai bentuk komunikasi kasih sayang kepada putrinya.
- Setelah menetap di Denmark selama lima tahun, Rully kembali bermusik untuk mengekspresikan identitasnya melalui nama panggung RAUN.
- Lirik berbahasa Indonesia dalam karya ini menjadi jembatan budaya agar sang putri tetap terhubung dengan latar belakangnya.
Suara.com - Jarak ribuan kilometer antara Riau dan Copenhagen bukan sekadar angka bagi Rully Irawan.
Bagi seniman visual sekaligus musisi ini, jarak tersebut adalah sebuah perjalanan panjang mencari makna "pulang".
Setelah lima tahun menepi dari dunia musik, Rully kini kembali dengan sebuah karya personal yang hangat bertajuk "Markisa", sebuah proyek musik di bawah nama RAUN.
"Markisa" bukan sekadar lagu. Ia adalah sebuah catatan harian, sebuah surat cinta, dan jembatan komunikasi antara seorang bapak dengan putrinya di negeri orang.
Kehidupan Rully berubah drastis saat pandemi COVID-19 melanda. Terjebak di Belanda sebelum akhirnya menetap di Denmark, ia mengalami transisi hidup yang besar.
![Rully Irawan merilis lagu "Markisa". Dalam lagu tersebut Rully ingin menyampaikan pesan tentang pentingnya berhenti sejenak dari hiruk-pikuk dunia untuk menemukan bagian dari diri sendiri. [Instagram]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/04/18/32491-rully-irawan.jpg)
Dari seorang seniman yang bebas berekspresi, Rully bertransformasi menjadi seorang stay-at-home dad (ayah rumah tangga) di Copenhagen.
Tanpa sistem pendukung dari keluarga besar, hari-harinya diisi dengan mengurus rumah tangga, mempelajari bahasa Denmark, dan beradaptasi dengan budaya baru.
Rutinitas ini sempat membuatnya "asing" dengan alat musik. Selama hampir lima tahun, gitarnya hanya tersimpan di sudut ruangan, membisu di tengah kesibukan domestik.
Namun, melodi itu tidak pernah benar-benar pergi. Ia hanya menunggu waktu yang tepat untuk kembali mengetuk pintu kesadaran Rully.
Titik balik kreativitas Rully muncul dari momen sederhana di ruang tamu. Saat ia kembali mencoba memetik gitar, putrinya, Flora, awalnya merasa terganggu oleh suara bising instrumen tersebut.
Namun, perlahan tapi pasti, petikan senar itu justru menjadi magnet. Musik menjadi bahasa baru yang menghubungkan mereka berdua.
![Rully Irawan merilis lagu "Markisa" sebuah lagu tentang mendalami makna tentang rumah. [Instagram]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/04/18/33707-rully-irawan.jpg)
"Lagu ini menjadi medium untuk menyampaikan perasaan yang belum sepenuhnya bisa diungkapkan secara verbal kepada anak," ujar Rully.
Salah satu lirik yang paling menyentuh berbunyi: "Saat nanti kau bisa berbahasa". Sebuah refleksi mendalam tentang harapan seorang ayah agar kelak sang anak memahami kasih sayang dan perjuangan orang tuanya.
Dalam karya ini, Rully memperkenalkan konsep RAUN. Di Copenhagen, ia menemukan nama itu sebagai nama seseorang.
Namun, bagi Rully yang berasal dari Riau, "Raun" memiliki arti yang sangat akrab: berjalan-jalan atau berkeliling (to go around).
RAUN menjadi simbol perjalanan emosional Rully dalam mencari identitas di tanah rantau. Pendekatan musiknya pun dibuat sangat jujur dan minimalis.
Tanpa pretensi ingin terdengar seperti musisi besar lainnya, ia hanya bermain gitar dan bass, menyuarakan apa yang ada di hatinya.
Judul "Markisa" sendiri diambil dari hal kecil yang sangat dekat dengan kesehariannya: buah kesukaan Flora.
Melalui metafora buah markisa, Rully berpesan tentang pentingnya berhenti sejenak dari hiruk-pikuk dunia untuk menemukan bagian dari diri sendiri.
"Terkadang jangan lupa menepi, lihatlah itu rumahmu juga. Tempat berpuas makan markisa, tempat temukan bagian dari diri sendiri," tulisnya dalam lirik tersebut.
Meski menetap di Denmark, Rully memilih tetap menggunakan bahasa Indonesia dalam liriknya.
Ini adalah upaya sadar untuk menjaga koneksi budaya. Ia ingin Flora, meski tumbuh besar di Eropa, tetap memiliki ikatan emosional dengan "bahasa bapaknya".
Berbeda dengan karya-karyanya di masa lockdown 2020 yang cenderung getir, "Markisa" lahir dari fase hidup yang lebih tenang dan penuh penerimaan.
Rully tidak lagi mengeluh tentang sulitnya adaptasi, melainkan merayakan kedamaian yang ia temukan dalam kesederhanaan peran sebagai seorang ayah.
Melalui "Markisa", Rully Irawan dan RAUN mengajak kita semua untuk ikut "raun", berkeliling sejenak, menepi, dan akhirnya menemukan bahwa "rumah" bukan sekadar bangunan, melainkan tempat di mana cinta dan diri sendiri saling bertemu.