- Sutradara Helfi Kardit merilis film Menjelang Magrib 2 pada 4 September 2025 yang tayang di ANTV malam ini.
- Dokter Giandra berusaha mengobati Layla yang dipasung warga desa terpencil Karuhun akibat stigma terhadap kesehatan mental.
- Film ini menyoroti konflik antara pendekatan medis modern dan kepercayaan mistis warga desa pada era tahun 1920-an.
Suara.com - Setelah sukses lewat prekuelnya yang mengangkat isu sensitif pasung dan mitos lokal, sutradara Helfi Kardit kembali membawa kengerian yang lebih intens melalui sekuel terbarunya, Menjelang Magrib 2: Wanita yang Dirantai.
Dirilis pada 4 September 2025, film ini menjanjikan perpaduan antara horor psikologis, kritik sosial, dan kearifan lokal yang mencekam.
Menjelang Magrib 2: Wanita yang Dirantai akan tayang pada Kamis (28/5/2026) malam ini pukul 21.30 WIB di ANTV. Berikut kami sajikan review-nya.
Film ini mengambil setting pada tahun 1920-an, di mana Indonesia masih dijajah Belanda.
Menjelang Magrib 2: Wanita yang Dirantai bercerita tentang dokter muda bernama Giandra (Aditya Zoni). Suatu hari, Giandra membaca berita di koran Javasche Courant.
![Film Menjelang Magrib 2: Wanita yang Dirantai yang dibintangi Aditya Zoni akan tayang pada Kamis (28/5/2026) malam ini pukul 21.30 WIB di ANTV. [Instagram]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/05/28/34154-film-menjelang-magrib-2-wanita-yang-dirantai.jpg)
Berita itu mengisahkan seorang gadis bernama Layla (Aisha Kastolan) yang dipasung di desa terpencil Karuhun.
Layla dianggap gila, makanya ia dirantai sebagai 'obat'. Tapi sebagai dokter, Giandra tidak setuju. Menurutnya, gangguan jiwa harus diobati dengan ilmu kedokteran, bukan cara-cara mistis.
Karena penasaran, Giandra nekat datang ke Desa Karuhun. Di sana, ia bertemu Rikke (Aurelia Lourdes), jurnalis yang menulis berita itu. Rikke cuma bilang tiga kata misterius: kultur, mistik, dan tahayul
Meski bingung, Giandra tetap berusaha menolong Layla dengan ilmu dokternya. Tapi, warga desa menolak keras. Mereka percaya Layla hanya bisa sembuh lewat ritual adat.
Di sinilah konflik memanas. Giandra tidak cuma melawan penyakit Layla, tapi juga kepercayaan warga yang sudah mendarah daging.
"Penonton akan diajak merasakan langsung kengerian kisah dua wanita yang dipasung dan tak bisa lari. Film ini bukan sekadar tontonan, tetapi pengalaman menegangkan," kata sutradara Helfi Kardit kepada wartawan saat acara gala premier.
Kehadiran aktris senior Muthia Datau sebagai Nenek Layla sekaligus tetua desa memberikan bobot emosional dan ketegangan tersendiri, memerankan sosok yang memegang kunci antara tradisi dan logika.
Satu hal yang menonjol dari sekuel ini adalah keberaniannya untuk tetap setia pada jalur "Horor Folklor Sosio-Kultural".
Aditya Zoni tampil meyakinkan sebagai protagonis yang skeptis namun rapuh.
Namun, sorotan utama patut diberikan kepada Aisha Kastalon. Perannya sebagai wanita yang dirantai menuntut akting fisik yang luar biasa; tatapan matanya mampu menyalurkan rasa sakit sekaligus ancaman tanpa perlu banyak dialog.
Penggunaan pencahayaan alami saat transisi waktu menuju Magrib menciptakan atmosfer uncanny yang membuat bulu kuduk berdiri.
Pengambilan gambar di lokasi yang tampak autentik memberikan kesan sesak dan terisolasi, seolah penonton ikut terperangkap bersama karakter di dalam layar.
Seperti film pertamanya, Menjelang Magrib 2 tidak hanya menjual jumpscare.
Film ini dengan berani menyentil stigma kesehatan mental di daerah pelosok Indonesia, di mana garis antara medis dan mistis seringkali kabur.
"Wanita yang dirantai" bukan sekadar objek horor, melainkan simbol ketidakberdayaan manusia di hadapan dogma yang salah kaprah.