- Festival Bedhayan VI sukses digelar di Gedung Kesenian Jakarta pada tanggal 8 Agustus 2026.
- Acara budaya tersebut menampilkan enam belas kelompok tari serta dihadiri oleh Menteri Kebudayaan Fadli Zon.
- Kegiatan ini juga dirangkaikan dengan Pasar UMKM guna menggerakkan sektor ekonomi kreatif masyarakat Nusantara.
Suara.com - Gedung Kesenian Jakarta (GKJ) kembali menjadi saksi bisu keagungan budaya Nusantara.
Pada Sabtu, 8 Agustus 2026, Festival Bedhayan VI resmi digelar, mengubah panggung legendaris tersebut menjadi ruang sakral yang mempertemukan keindahan gerak, kedalaman spiritual, dan komitmen pelestarian alam.
Mengangkat tema luhur "Memayu Hayuning Bawana", festival tahunan ini bukan sekadar panggung pertunjukan.
Perhelatan ini merupakan sebuah ajakan mendalam bagi masyarakat untuk memperindah dan menjaga keseimbangan dunia.
Di bawah sorot lampu panggung, filosofi Jawa tersebut diterjemahkan ke dalam gerak tari Bedhaya yang lembut namun penuh tenaga.
![Festival Bedhayan VI mengangkat tema luhur "Memayu Hayuning Bawana" dan digelar di Gedung Kesenian Jakarta pada 8 Agustus 2026. [dokumentasi pribadi]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/08/10/23338-festival-bedhayan-vi.jpg)
Acara ini turut mendapat perhatian khusus dari Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon yang menegaskan bahwa warisan budaya seperti Bedhayan harus terus diberi ruang istimewa agar tetap relevan di tengah arus modernisasi.
Kolaborasi Maestro dan Generasi Muda
Festival tahun ini merupakan buah kerja sama apik antara Laskar Indonesia Pusaka, Jaya Suprana School of Performing Arts, dan Yayasan Swargaloka.
Keistimewaan Festival Bedhayan VI terletak pada kemampuannya menyatukan berbagai elemen ekosistem seni, mulai dari maestro legendaris, akademisi, hingga penari muda.
Tak tanggung-tanggung, sejumlah tokoh besar tari Indonesia hadir sebagai pengamat untuk menjaga kualitas artistik sekaligus memberikan edukasi, di antaranya Theodora Retno Maruti, GKR Wandansari Koes Moertiyah (Gusti Moeng), KP Sulistyo S. Tirtokusumo, Wahyu Santoso Prabowo, dan Dr. Sal Murgiyanto.
Kehadiran para "penjaga gawang" seni tradisi ini memastikan adanya regenerasi dan kesinambungan ilmu kepada generasi penerus.
![Festival Bedhayan VI mengangkat tema luhur "Memayu Hayuning Bawana" dan digelar di Gedung Kesenian Jakarta pada 8 Agustus 2026. [dokumentasi pribadi]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/08/10/77273-festival-bedhayan-vi.jpg)
16 Karya, Satu Napas Harmoni
Sepanjang hari, penonton disuguhi dua sesi pertunjukan yang menampilkan 16 kelompok tari dari berbagai penjuru Indonesia.
Masing-masing kelompok membawa warna dan kekhasan koreografinya sendiri, namun tetap dalam satu napas pelestarian.
Beberapa penampilan yang memukau penonton antara lain Bedhayan Arum Dalu dari Jaya Suprana School of Performing Arts, Bedhaya Brama Astra oleh Satria Buwana, hingga penampilan enerjik dari Komunitas Perempuan Menari dengan Bedhayan Wanu Prasthi Mataya.
Keberagaman ini membuktikan bahwa tari Bedhaya, meski berakar pada tradisi klasik, memiliki ruang kreativitas yang luas bagi berbagai komunitas.
Sebelum puncak acara, rangkaian edukasi telah dimulai sejak 28 Juli 2026 melalui lokakarya "Beksan Srimpi Sangupati" yang dipandu oleh Rahmalina Lintang Sasongka di Jaya Suprana Institute.
Lebih dari Sekadar Tari: Ekonomi Kreatif dan Harapan
Festival Bedhayan VI tidak hanya memanjakan mata dan telinga. Di area luar gedung, pengunjung dimanjakan dengan Pasar UMKM yang menyajikan aneka kuliner khas, wastra (kain tradisional), kriya, hingga produk kreatif Nusantara lainnya.
Kehadiran pasar ini menjadi bukti nyata bahwa kebudayaan mampu menjadi motor penggerak ekonomi kreatif.
Ketua Umum Laskar Indonesia Pusaka, Aylawati Sarwono, menyampaikan harapannya agar festival ini menjadi pemantik semangat bagi generasi muda.
"Melalui Festival Bedhayan VI, kami berharap masyarakat tidak hanya menikmati keindahan estetika tari tradisi, tetapi juga memahami nilai-nilai luhur di dalamnya. Di tengah perubahan zaman, seni tradisi harus tetap hidup, berkembang, dan menjadi inspirasi dalam menjaga identitas bangsa," tutur Aylawati.
Dengan berakhirnya Festival Bedhayan VI, pesan "Memayu Hayuning Bawana" diharapkan tidak berhenti di atas panggung, melainkan meresap ke dalam sanubari setiap penonton untuk terus menjaga harmoni antara manusia, alam, dan budaya.