- Majelis Ulama Indonesia mengecam keras promosi minuman keras menggunakan tantangan hafalan Al-Qur'an di festival musik.
- Kasus tersebut terungkap setelah sebuah akun Threads membagikan video booth produk minuman beralkohol di The Sound Project.
- Tindakan tersebut memicu kecaman publik karena dianggap telah melewati batas kepatutan keagamaan dan moral.
Suara.com - Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengecam keras promosi minuman keras (miras) yang menggunakan tantangan hafalan Al-Qur'an.
Ketua MUI Bidang Fatwa, Prof KH Asrorun Niam Sholeh, mengatakan penggunaan ayat suci untuk mempromosikan minuman beralkohol telah melewati batas kepatutan.
“Tindakan tersebut tidak bisa dibenarkan, baik secara keagamaan, moral etika, maupun secara hukum. Pelaku harus mempertanggungjawabkan perbuatannya,” tegas Prof Niam dinukil dari laman resmi MUI.
Kasus tersebut mencuat setelah akun Threads @JARRKOJARR membagikan pengalamannya ketika menghadiri festival musik The Sound Project.
Dalam unggahannya, akun tersebut memperlihatkan sebuah booth produk miras New Port yang mengadakan tantangan hafalan Surah Ad-Duha.
Peserta tantangan disebut diminta menghafalkan ayat Surah Ad-Duha dengan imbalan berupa sebotol minuman beralkohol.
Konten tersebut kemudian menyebar luas di media sosial dan memicu reaksi maraj publik.
Makna Surah Ad-Duha
Frasa “waḍ-ḍuḥā, wal-laili iżā sajā” yang diucap pengunjun acara The Sounds Project di booth Newport demi mendapatkan hadiah sebotol miras memiliki makna yang sangat suci.
waḍ-ḍuḥā, wal-laili iżā sajā, merupakan dua ayat pertama Surah Ad-Duha, surah ke-93 dalam Al-Qur'an.
Ayat tersebut bermakna “Demi waktu dhuha” dan “Dan demi malam apabila telah sunyi.”
Surah Ad-Duha sendiri memiliki pesan yang sangat erat dengan penguatan hati dan penegasan kasih sayang Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW.
Surah tersebut turun dalam konteks ketika Nabi Muhammad SAW mengalami masa terhentinya wahyu.
Kaum musyrik kemudian mengejek beliau dengan mengatakan bahwa Tuhannya telah meninggalkannya.
Melalui ayat-ayat berikutnya, Allah SWT menegaskan bahwa Dia tidak meninggalkan dan tidak membenci Nabi Muhammad SAW.
Pesan tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa masa sulit tidak berlangsung selamanya dan akan diikuti datangnya kemudahan.
Selain memberikan penguatan kepada Nabi Muhammad SAW, Surat Ad-Dhuha memuat pesan sosial yang kuat.
Umat Islam diperintahkan untuk tidak berlaku sewenang-wenang terhadap anak yatim maupun menghardik orang yang meminta pertolongan.
Surat ini juga mengingatkan manusia agar senantiasa menyadari dan mensyukuri nikmat yang telah diberikan Allah SWT.
Pesan tersebut menjadi bagian penting dari kandungan Surat Ad-Dhuha yang tidak hanya berbicara mengenai keteguhan hati, tetapi juga kepedulian terhadap sesama.
Surat Ad-Dhuha memiliki pesan yang luas, kesulitan bukan pertanda Allah meninggalkan manusia.
Sebaliknya, manusia diminta tetap bersabar, bersyukur, serta memberikan perhatian kepada mereka yang berada dalam kondisi membutuhkan.
Surah Adh-Dhuha: Arab, Latin dan Terjemahan Lengkap
Adh-Dhuha
Makkiyah · 11
وَالضُّحٰىۙ ١
wadl-dluḫâ
Demi waktu duha
وَالَّيْلِ اِذَا سَجٰىۙ ٢
wal-laili idzâ sajâ
dan demi waktu malam apabila telah sunyi,
مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ وَمَا قَلٰىۗ ٣
mâ wadda‘aka rabbuka wa mâ qalâ
Tuhanmu (Nabi Muhammad) tidak meninggalkan dan tidak (pula) membencimu.
وَلَلْاٰخِرَةُ خَيْرٌ لَّكَ مِنَ الْاُوْلٰىۗ ٤
wa lal-âkhiratu khairul laka minal-ûlâ
Sungguh, akhirat itu lebih baik bagimu daripada yang permulaan (dunia).
وَلَسَوْفَ يُعْطِيْكَ رَبُّكَ فَتَرْضٰىۗ ٥
wa lasaufa yu‘thîka rabbuka fa tardlâ
Sungguh, kelak (di akhirat nanti) Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu sehingga engkau rida.
اَلَمْ يَجِدْكَ يَتِيْمًا فَاٰوٰىۖ ٦
a lam yajidka yatîman fa âwâ
Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungi(-mu);
وَوَجَدَكَ ضَاۤلًّا فَهَدٰىۖ ٧
wa wajadaka dlâllan fa hadâ
mendapatimu sebagai seorang yang tidak tahu (tentang syariat), lalu Dia memberimu petunjuk (wahyu);
وَوَجَدَكَ عَاۤىِٕلًا فَاَغْنٰىۗ ٨
wa wajadaka ‘â'ilan fa aghnâ
dan mendapatimu sebagai seorang yang fakir, lalu Dia memberimu kecukupan?
فَاَمَّا الْيَتِيْمَ فَلَا تَقْهَرْۗ ٩
fa ammal-yatîma fa lâ taq-har
Terhadap anak yatim, janganlah engkau berlaku sewenang-wenang.
وَاَمَّا السَّاۤىِٕلَ فَلَا تَنْهَرْ ١٠
wa ammas-sâ'ila fa lâ tan-har
Terhadap orang yang meminta-minta, janganlah engkau menghardik.
وَاَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْࣖ ١١
wa ammâ bini‘mati rabbika fa ḫaddits
Terhadap nikmat Tuhanmu, nyatakanlah (dengan bersyukur).