-
Pangeran Harry kembali dan menetap di Inggris tanpa niat meminta maaf kepada keluarga.
-
Duke of Sussex menuduh lingkaran dekat Raja Charles III menghalangi upaya perdamaian mereka.
-
Hubungan Pangeran Harry dan Istana memburuk akibat peluncuran memoar serta wawancara televisi.
Suara.com - Kembalinya Pangeran Harry ke Tanah Britania Raya membawa pesan tegas mengenai posisinya dalam konflik keluarga yang belum usai. Duke of Sussex menegaskan ketidaksediaannya untuk meminta maaf terlebih dahulu kepada pihak Istana.
Langkah menetap dalam jangka panjang ini menandai babak baru setelah enam tahun masa pengasingan dirinya dari lingkar utama kerajaan. Situasi ini menunjukkan perselisihan internal keluarga penguasa Inggris tersebut masih berada di titik didih.
Kehadiran kembali sang pangeran di kampung halamannya tidak serta-merta meredakan emosi yang memicu kepindahannya bertahun-tahun lalu. Tingkat kemarahan yang dibawanya saat ini dinilai masih sama besarnya dengan momen awal ia meninggalkan Inggris.

Laporan media lokal menyebutkan bahwa keputusan menetap dalam durasi cukup lama ini diambil bersama sang istri, Meghan Markle. Langkah ini diambil usai ketegangan panjang yang terus mewarnai hubungan mereka dengan pihak keluarga istana.
Pusat persoalan kini tertuju pada tuntutan Pangeran Harry agar sejumlah anggota keluarga kerajaan menyampaikan permohonan maaf kepadanya. Tanpa adanya iktikad tersebut, prospek perdamaian internal dinilai hampir mustahil terwujud.
Pangeran Harry secara terbuka menuding lingkaran terdekat Raja Charles III sengaja memasang barikade untuk menghalangi komunikasi mereka. Pihak pembantu dekat sang ayah dituding aktif menggagalkan setiap upaya pendekatan yang coba dilakukan.
Sikap dan narasi perlawanan ini menyita perhatian para pengamat karena dinilai mencerminkan pola lama di dalam Istana. Narasi yang diusung sang pangeran memperlihatkan kemiripan yang mencolok dengan perlawanan almarhumah ibunya, Putri Diana.
Mendiang Putri Diana pada masanya juga berulang kali melontarkan tuduhan serupa terhadap lingkar dalam kerajaan. Ia menyebut para pejabat istana kerap melakukan langkah sistematis untuk melemahkan posisi politik serta personalnya.
Keretakan hubungan antara Duke of Sussex dan pilar utama Kerajaan Inggris kian meruncing pasca-peluncuran buku memoar kontroversial bertajuk "Spare". Dampak tulisan tersebut makin diperparah oleh serangkaian wawancara eksklusifnya di berbagai televisi global.
Hingga saat ini, belum ada sinyal terbuka mengenai kompromi atau langkah perdamaian resmi dari kedua belah pihak. Situasi dingin tersebut diprediksi terus berlanjut selama belum ada pihak yang bersedia mengalah.