- Rhoma Irama tampil energik membawakan lagu-lagu hits di PestaPora 2026 pada Sabtu, 27 September 2026 malam.
- Musisi berusia 79 tahun tersebut menyampaikan orasi nasionalisme dan seruan penghentian korupsi di atas panggung.
- Ia mengajak penonton mendukung KPK serta mengusir koruptor melalui pidato dan lagu berjudul "Indonesia".
Suara.com - Bagi Rhoma Irama, festival musik bergengsi tidak hanya sekadar panggung musik.
Rhoma mengubah panggung PestaPora 2026 menjadi mimbar orasi yang membakar semangat nasionalisme dan perlawanan terhadap korupsi.
Tampil di panggung Hingar Bingar Stage pada Sabtu (27/9/2026) pukul 21.00 WIB, Rhoma Irama membuktikan bahwa kharismanya belum pudar.
Meski harus "berduel" jadwal dengan penampilan Sheila On 7 dan penyanyi viral Naykilla di panggung lain, area penonton tetap dipenuhi massa yang setia menanti sang legenda.
Mengenakan kostum kuning emas yang berkilau di bawah lampu panggung, musisi berusia 79 tahun ini tampil energik.
Tanpa banyak basa-basi, Rhoma langsung menggebrak lewat sederet hits bertempo cepat yang memaksa penonton bergoyang massal.
Selama satu jam penuh, "Viva Dangdut" menjadi pembuka yang sempurna, disusul rentetan lagu ikonik seperti "Malam Minggu", "Tabir Kepalsuan", "Badai Fitnah", hingga "Gali Lobang Tutup Lobang".
Stamina Bang Haji, sapaan akrabnya, seolah tak termakan usia, memberikan performa vokal dan petikan gitar yang tetap prima.
Orasi Politik di Atas Panggung
Namun, kejutan sesungguhnya muncul di penghujung acara. Rhoma Irama tidak hanya ingin penonton pulang dengan keringat setelah bergoyang, tapi juga dengan pemikiran yang tajam.
Di penghujung penampilannya, Rhoma mendadak menyuarakan kegelisahannya terhadap kondisi bangsa.
![Rhoma Irama menyerukan anti korupsi saat tampil di festival musik PestaPora 2026, Sabtu (27/9/2026). [Ferry Noviandi/Suara.com]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/09/27/98551-rhoma-irama-pestapora.jpg)
Sambil berdiri tegak, ia mengutip Pasal 33 ayat (3) UUD 1945 tentang kekayaan alam yang seharusnya digunakan untuk kemakmuran rakyat.
"Saya mau tanya, rakyat sudah makmur apa belum?" tanya Rhoma dengan suara menggelegar.
"Belum!" sahut penonton serempak.
"Kenapa belum makmur? Karena banyak yang dikorupsi! Stop korupsi!" teriaknya yang langsung disambut gemuruh tepuk tangan.
Seruan "Bangkit KPK"
Tak berhenti di situ, Rhoma juga secara spesifik menyinggung penegakan hukum di Indonesia.
Ia menyampaikan harapannya agar Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kembali bertaji seperti sedia kala.
"Stop korupsi, bangkit KPK, bangkit KPK! Kita usir koruptor dari bumi Indonesia!" serunya dengan nada penuh penekanan.
Rhoma Irama pun kembali menghentak dengan lagu "Indonesia". Lagu tersebut menggambarkan kondisi Indonesia, negara kaya raya namun rakyatnya tetap miskin akibat korups.
Salah satu penggalan lirik terkenal dari lagu tersebut yakni "Yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin."
Sebagai penutup yang sarat makna, setelah membawakan lagu "Indonesia", Rhoma memberikan "bonus" lagu "Nafsu Serakah". Sebuah pilihan lagu yang seolah menjadi sindiran telak bagi para pencuri uang rakyat.
Malam itu, Rhoma Irama bukan sekadar penghibur; ia adalah pengingat bahwa musik bisa menjadi senjata paling ampuh untuk menyuarakan kebenaran.