- Wanda Hamidah bersama seniman lainnya menghadiri aksi unjuk rasa di Jakarta pada 28 Oktober 2026.
- Ia memiliki latar belakang pendidikan hukum, karier sebagai artis, serta rekam jejak sebagai politisi daerah.
- Aktivismenya berakar dari Reformasi 1998 dan terus berlanjut dalam mengawal berbagai isu publik di Indonesia.
Suara.com - Aksi unjuk rasa pada 28 Oktober 2026 di Jakarta turut dihadiri oleh berbagai elemen masyarakat, termasuk jajaran seniman dan selebriti, salah satunya adalah Wanda Hamidah.
Kehadirannya di tengah barisan massa unjuk rasa tersebut kembali menyita perhatian publik mengenai sosok, latar belakang, serta konsistensinya dalam mengawal isu-isu publik di Indonesia.
Wanda Hamidah, S.H., M.Kn. lahir di Jakarta pada 21 September 1977. Perempuan yang dikenal luas melalui panggung hiburan ini memiliki perjalanan karier yang dinamis, meliputi profesi sebagai model, aktris, notaris, hingga politisi yang pernah menduduki kursi parlemen daerah.
Pendidikan Wanda Hamidah

Perjalanan dan kiprah publik Wanda tidak terlepas dari fondasi pendidikan hukum yang ditempuhnya. Ia menyelesaikan pendidikan menengah di SMA Negeri 3 Jakarta sebelum melanjutkan studi ke jenjang Sarjana Ilmu Hukum di Universitas Trisakti pada periode 1995 hingga 2000.
Untuk menunjang karier profesionalnya di bidang hukum, Wanda meneruskan pendidikan S-2 Magister Kenotariatan di Universitas Indonesia pada kurun waktu 2004 hingga 2006 dan kini resmi berpraktik sebagai Notaris serta Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT).
Rekam jejak karier Wanda di dunia hiburan bermula sejak era 1990-an ketika ia aktif sebagai model sampul majalah dan bintang iklan televisi.
Kariernya di industri seni peran berkembang pesat melalui keterlibatannya dalam berbagai judul film layar lebar, seperti Pengejar Angin, Cahaya dari Timur: Beta Maluku, Imperfect: Karier, Cinta & Timbangan, Serigala Langit, hingga judul-judul seperti Melodate, Paku Tanah Jawa, dan Mangku Pocong.
Di layar kaca dan platform digital, Wanda juga tercatat membintangi beberapa serial televisi dan web series, di antaranya Suci dalam Cinta, Code Helix, serta Rekaman Terlarang.
Karir Politik Wanda Hamidah
![Wanda Hamidah bergabung ke Partai Golkar. [ANTARA]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2022/10/20/30084-wanda-hamidah-bergabung-ke-partai-golkar.jpg)
Selain berkiprah di dunia seni, Wanda juga memiliki rekam jejak panjang di panggung politik praktis Indonesia. Keterlibatannya di partai politik dimulai saat bergabung dengan Partai Amanat Nasional (PAN) pada 2005, di mana ia pernah mengemban tugas sebagai Bendahara PAN periode 2006–2010.
Wanda juga terpilih menjadi Anggota DPRD DKI Jakarta periode 2009–2014. Jelang Pemilu 2014, Wanda diberhentikan dari PAN karena perbedaan arah dukungan dalam pemilihan presiden. Ia kemudian berlabuh ke Partai NasDem pada periode 2014 hingga 2022, sebelum akhirnya bergabung dengan Partai Golkar pada akhir 2022.
Karier politiknya di partai politik berakhir pada Agustus 2024 ketika Wanda secara resmi mengumumkan pengunduran dirinya dari Partai Golkar. Langkah pengunduran diri tersebut diambil sebagai bentuk penolakan terhadap langkah Badan Legislatif (Baleg) DPR RI yang merevisi UU Pilkada saat itu.
Aktif di Sejumlah Isu

Keterlibatan Wanda dalam pergerakan massa aksi berakar dari masa studinya di Universitas Trisakti, di mana ia menjadi salah satu mahasiswa yang terlibat dalam gelombang gerakan Reformasi 1998.
Sepanjang kiprahnya sebagai aktivis, Wanda tercatat aktif menyuarakan berbagai isu, mulai dari pengawalan putusan Mahkamah Konstitusi (MK), perlindungan hak anak dan perempuan saat menjabat sebagai Wakil Sekjen Komnas Perlindungan Anak, hingga isu kemanusiaan internasional seperti advokasi untuk warga Palestina.
Keterlibatannya dalam aksi 28 Oktober 2026 menambah panjang daftar aksi publik yang diikuti oleh mantan legislator tersebut.