- Guru Besar FEB UI Profesor Rhenald Kasali menyatakan konser internasional di Indonesia memicu experience economy dan mempromosikan pariwisata.
- Penyanyi Andrea Bocelli dijadwalkan menggelar konser di Candi Borobudur dan Jakarta pada akhir Oktober hingga November 2026.
- Penyelenggara konser menggalang donasi kemanusiaan berupa sepatu bagi anak-anak terdampak konflik di Palestina serta berbagai wilayah lainnya.
Suara.com - Penyelenggaraan konser musik skala besar di Tanah Air, kian membuktikan peran strategisnya di luar industri hiburan. Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI), Profesor Rhenald Kasali, menilai gelaran konser internasional tidak hanya menghasilkan perputaran uang yang masif.
Lebih dari itu, kata dia, konser musik berskala internasional juga bertransformasi menjadi etalase promosi pariwisata yang sangat efektif bagi Indonesia.
Rhenald menerangkan, pertunjukan panggung kelas dunia memicu fenomena experience economy.
Dalam lanskap ini, penonton—khususnya wisatawan mancanegara—tidak semata-mata datang untuk menyaksikan idola bernyanyi, tetapi juga mencari pengalaman menyeluruh selama menjelajahi destinasi di Indonesia.
Tren ini tercermin jelas di era digital, di mana para penikmat konser asing kerap membagikan seluruh perjalanan mereka ke media sosial.
![Founder Deep Intelegence Research, Prof. Rhenald Kasali memberikan pemaparan dalam acara Diskusi Bulanan AMSI di Kantor Redaksi Suara.com, Jakarta, Jumat (30/1/2026). [Suara.com / Alfian Winanto]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/02/03/69660-rhenald-kasali.jpg)
Lewat unggahan tersebut, sorotan audiens global tidak berhenti pada aksi panggung, melainkan merambah ke budaya lokal, keramahan warga, hingga denyut gaya hidup perkotaan maupun pedesaan.
"Mereka juga membuat konten, menyebarkannya, bahwa Indonesia itu sebenarnya seperti apa, kafenya seperti apa, transportasinya, masyarakat, pedagang, semuanya bisa diceritakan ke dunia internasional," kata Rhenald Kasali, dikutip dari akun Instagramnya, Sabtu (31/10/2026).
Menurut Rhenald, experience economy merupakan dinamika yang sangat wajar hadir dari kegemaran atau hobi personal.
Penikmat musik rela merogoh kocek untuk hadir secara langsung di venue megah, meski lagu-lagu musisi favorit mereka dapat didengarkan kapan saja lewat platform streaming digital.
Fenomena tersebut sejalan dengan antusiasme di bidang lain, seperti para pegiat lari yang tetap antusias mendaftar ajang maraton kendati aktivitas berlari sejatinya bisa dilakukan sendiri secara gratis.
![Andrea Bocelli akan menggelar konser di Indonesia dan digelar di dua tempat yakni Borobodur dan Jakarta Convention Center. [Instagram]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/08/19/42821-andrea-bocelli.jpg)
"Setiap orang itu menginginkan experience, pengalaman. Mereka juga ingin mendapatkan rasa, pengen terlibat," kata dia.
Potensi experience economy serupa diperkirakan turut mengalir dari agenda pertunjukan musisi legendaris asal Italia, Andrea Bocelli.
Penyanyi tenor ternama dunia tersebut dijadwalkan tampil di dua panggung istimewa di Indonesia, yakni Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, pada 31 Oktober 2026 hari ini, serta Jakarta pada 3 November 2026.
Pemilihan Candi Borobudur sebagai lokasi konser dinilai dapat mengakselerasi eksposur pariwisata cagar budaya Indonesia ke pentas dunia.
Rhenald menyebutkan bahwa pemanfaatan situs bersejarah sebagai panggung pertunjukan seni megah telah menjadi strategi pariwisata global yang lumrah di berbagai belahan dunia.
"Contohnya saja di Italia, banyak tempat-tempat bersejarah menjadi tempat pertunjukan seni. Di Yunani, Acropolis," kata dia.
Terkait dinamika dan kontroversi yang sempat mewarnai rencana konser sang maestro di tanah air, Rhenald mengingatkan pentingnya konsep nilai bersama (shared value) yang inklusif dan adil.
Melalui pendekatan ini, manfaat ekonomi dan promosi wisata dapat dinikmati masyarakat, sementara kepekaan terhadap suara publik tetap terakomodasi dengan baik.
Salah satu wujudnya terlihat dari inisiatif sosial yang disematkan dalam rangkaian kegiatan konser. Penyelenggara acara, Shoemaker Live, menggalang donasi kemanusiaan untuk anak-anak terdampak konflik di Palestina serta wilayah lainnya, baik dari kalangan pembeli tiket maupun publik yang tidak menonton langsung.
"Saya juga mendengar panitia akan membagikan sepatu untuk anak-anak Palestina, itu baik. Lalu ada lampion, di mana orang-orang bisa meletakkan harapan di sana. Ini akan menjadi baik. Dampaknya bukan hanya kepada penonton Indonesia, tapi negara lain," kata dia.
Rhenald kembali menekankan bahwa setiap penyelenggaraan konser di Indonesia selayaknya diposisikan sebagai peluang bersama yang mengalirkan dampak positif bagi beragam lapisan masyarakat.
"Itulah dampak ekonomi dari sebuah pertunjukan. Ada yang harus didengarkan, dan juga di sisi lain ada dampak ekonominya," kata Rhenald Kasali.