tetapi juga mampu memberantas mafia, dan menegakan keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia tanpa terkecuali.
Sosok Presiden yang bukan mengabdi kepada partai politiknya, melainkan memiliki kedaulatan untuk mengabdi pada rakyat yang meilihnya.
Kita jangan sampai terjebak ibarat kerbau yang hidungnya ditutupi, hanya pasrah kepada calon pilihan partai.
Agar kedaulatan negara tidak di dikte oleh kepentingan para ketua partai, melainkan kembali ke tangan rakyat.
Benarkah saat ini, para ketua partai sudah serius mewakili nurani masyarakatnya? jawabanya ada pada pembaca, silakan menilai sendiri.
Untuk kalangan guru, yang jumlahnya mencapai jutaan, tentu menjadi sasaran empuk para calon Presiden.
Akan tetapi? adakah di antara para kandidat tersebut yang secara serius ingin memuliakan guru, memartabatkan guru?
Adakah di antara kandidat capres yang benar benar akan memiliki rasa simpati peduli terhadap Pendidikan?
Jangan melihat bajunya apa, partainya apa, tetapi adakah diantaranya yang akan memuliakan guru, dan peduli terhadap Pendidikan, dalam visi, misi dan prgramnya?
Baca Juga: Bukan ke Inara Rusli, Virgoun Nangis Cuma Minta Maaf ke Anak-anaknya
Anis Baswedan yang diusung Koalisi Perubahan, memang mantan Mendiknas, tetapi visi pendidikan dan keberpihakanya kepada guru honorer terutama, belum jelas.
Tidak boleh lagi ada dikotomi status guru, honorer, PPPK, hingga PNS. Semua guru harus sama kesejahteraannya.
Karena Undang-Undang Gurunya juga hanya satu, artinya dasar hukumnya sama.
Negara Jepang bisa melampaui negara besar Asia lainya, karena mereka sangat memuliakan guru.
Dengan begitu, memilih Presiden bukan soal ingin, tetapi bagaimana memilih calon Presiden sebagai kebutuhan.
Butuh sosok Presiden yang bisa berpihak kepada rakyat pemilihnya, bukan kepada partai yang menaunginya.