SUARA GARUT - Sejumlah guru dan pengawas sekolah mengikuti Training Of Trainer (TOT) modul Setara (Semangat dunia remaja).
Dalam kegiatan ini dibahas terkait kesehatan reproduksi yang selama ini tabu diperbincangkan di kalangan masyarakat.
Namun belakangan ini, dari berbagai hasil riset diakui bahwa kesehatan reproduksi harus dikenalkan sejak dini kepada remaja yang sedang menempuh pendidikan.
Salah seorang peserta TOT Modul Setara, Tony Syafari, M.Pd mengaku Materi yang diterima Orientasi Modul SETARA sebagai bekal untuk mensosialisasikan program PKRS (Pendidikan Kesehatan Reproduksi dan Seksolog) ke sekolah bina.
"Atas nama peserta mengucapkan terimakasih kepada Yayasan SMAK telah memfasilitasi kegiatan yang sangat bermanfaat ini," kata Tony, Sabtu (17/6/2023).
Menurut Tony, memperhatikan fakta saat ini diperlukan pendekatan positif untuk mengatasi isu terkait persoalan seputar masalah Kesehatan reproduksi pada remaja.
"Sehingga remaja atau siswa SMP/MTs perlu dibekali Pendidikan Kesehatan Reproduksi remaja yang komprehensif," ujarnya.
Pendidikan ini, menurutnya, sangat penting bagi siswa untuk memahami bahwa tindakan yang ingin mereka lakukan itu perlu berdasarkan ilmu pengetahuan.
"Jika mereka sudah mengetahui ilmunya, resiko dan konsekwensi yang mereka lakukan dapat lebih bertanggung jawab dalam setiap keputusan yang mereka pilih sehingga mereka bisa melindungi dirinya tidak terkontaminasi dengan hal hal yang tidak baik seperti bebagai bentuk kekerasan, diskriminasi, ekploitasi namun mereka akan menjalani masa remaja secara sehat dan Bahagia," ungkapnya.
Peserta lainnya, Atin Kartinah, M.Pd mengatakan setelah mengikuti kegiatan ini dirinya memahami bahwa modul Setara sangat menarik dan bagus untuk diterapkan di sekolah sekolah.
Baca Juga: PPP Resmi Usung Sandiaga Jadi Bakal Cawapres Ganjar, Mardiono: Melalui Perdebatan Sengit
"Alasannya pada modul ini diperkenalkan bagaimana para remaja bisa mengenali dirinya, bisa beradaptasi dengan lingkungan baru dari lingkungan keluarga ke dunia anak menjelang remaja," imbuhnya.
Menurutnya, untuk penerapan pada proses pembelajaran di sekolah bisa dintegrasikan dengan pembelajaran tiap Mapel.
"Misalnya pada Mapel IPA, Olah Raga, atau Pendidikan Agama dll atau melalui Kegiatan Ekskul misalnya dalam Kegiatan PMR, pengebangan diri Keputrian atau melalui Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) dengan tema Bangunlah Jiwa dan Raganya," urainya.
Atin melanjutkan, agar program pendidikan Kesehatan Reproduksi berjalan sesuai dengan tujuan dan harapan perlu adanya dukungan dari berbagai pihak terlkait terutama dinas pendidikan.(*)