Dampak Kemarau Panjang, 2 Kecamatan di Garut Masuk Zona Merah

Suara Garut

Rabu, 06 September 2023 | 15:44 WIB
Dampak Kemarau Panjang, 2 Kecamatan di Garut Masuk Zona Merah
Kemarau Panjang, 2 Kecamatan di Garut Masuk Zona Merah. (foto: pixabay)

SUARA GARUT - Musim kemarau yang cukup panjang mulai dirasakan dampaknya di beberapa wilayah Kabupaten Garut.

Bahkan, pemerintah Kabupaten Garut telah mengkatagorikan dua kecamatan menjadi wilayah dengan zona merah.

Untuk menanggulangi dampak kekeringan, Pemerintah Kabupaten Garut bergerak melakukan  langkah-langkah terkoordinasi dan efektif dengan sejumlah pihak terkait.

Rapat Koordinasi Tanggap Darurat Bencana Kekeringan pada Selasa (5/9/2023) secara hybrid di Halaman Kantor BPBD Kabupaten Garut ini menjadi salah satu langkah konkret dalam menghadapi tantangan ini.

Asisten Daerah I Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat (Pemkesra) Setda Kabupaten Garut, Bambang Hafidz, menjelaskan bahwa rapat ini bertujuan untuk mengantisipasi inflasi, mendukung sektor pertanian, dan mengurangi dampak buruk kekeringan di Kabupaten Garut. Ia menekankan perlunya evaluasi dan peningkatan langkah-langkah yang sudah diambil.

"Ya, tindak lanjutnya tentu kita antisipasi ya bahwa ini masih kekeringan ini dimungkinkan masih panjang, sehingga apa yang kita sudah laksanakan kita evaluasi apa kekurangannya yang harus kita perbaiki, dan tentu itu yang harus kita tindak lanjuti untuk selanjutnya langkah-langkah," ucapnya.

Bambang menambahkan, dalam rakor ini masing-masing SKPD melaporkan apa yang telah dilaksanakan dalam rangka penanganan dampak kekeringan di Kabupaten Garut. Bambang menerangkan, sejauh ini penanganan dampak kekeringan ini sudah berjalan sesuai dengan rencana.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Garut, Aah Anwar Saefulloh, mengatakan, pihaknya telah mengidentifikasi daerah-daerah yang terkena dampak kekeringan. Saat ini, ada 19 kecamatan dalam status siaga bencana kekeringan dan 10 kecamatan dalam kondisi tanggap darurat bencana kekeringan.

Aah menerangkan, pihaknya melakukan dua langkah penanganan di antaranya  pendistribusian air bersih ke tempat-tempat yang mengalami dampak kekeringan, serta membangun infrastruktur penyediaan air bersih melalui kerja sama dengan TNI Polri. Ia menambahkan, masa tanggap darurat bencana kekeringan di Kabupaten Garut ini adalah selama 14 hari.

baca juga

"Dan kita melihat perkembangan sampai tanggal 10, karena tanggal 10 ini adalah akhir dari tanggap darurat 10 September, sehingga apa mau dilanjut atau diperpanjang atau cukup selesai di tanggal 10," ucapnya.

Aah mengimbau kepada masyarakat untuk memanfaatkan air bersih secara efektif, mengingat pihaknya memiliki kesulitan dalam melaksanakan suplai air yang jaraknya cukup jauh, selain itu ketersediaan air bersih  juga tidak bisa memenuhi kebutuhan masyarakat dalam kondisi normal, sehingga warga diharapkan dapat memanfaatkan air bersih dengan sebaik-baiknya.

"Namun demikian kita tetap berusaha untuk mengirimkan sehingga masyarakat jangan panik, tentu (jika) ada hal-hal yang berkaitan (kekeringan), diserahkan laporan kepada call center 117, ya. Sehingga nanti kita bisa segera mengantisipasi (dengan unit) reaksi cepat," lanjut Aah.

Di tempat terpisah, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Garut, Beni Yoga, melaporkan dampak kekeringan pada sektor pertanian. Ia mengungkapkan bahwa hingga 30 Agustus kemarin  kondisinya berkisar dari kekeringan ringan, sedang, berat hingga puso (gagal panen). Lahan pertanian yang sudah memasuki kondisi kekeringan tingkat ringan sudah mencapai 163 hektar, kekeringan tingkat sedang mencapai 70 hektar, kekeringan tingkat berat 36 hektar, dan lahan pertanian yang sudah dipastikan puso adalah sekitar 22 hektar, sehingga total kekeringan dari berbagai kriteria adalah sebanyak 251 hektar.

Adapun untuk kriteria dari kekeringan ringan sendiri, imbuh Beni, sekitar 25% luas lahan telah terserang kekeringan. Sementara untuk kekeringan sedang, lahan yang sudah masuk dalam kondisi kekeringan yaitu mencapai hampir 50%. Sedangkan, untuk kondisi kekeringan berat yaitu tingkat kekeringa di lahan pertanian sudah mencapai di atas 75% dan mendekati kondisi puso (gagal panen), namun masih memiliki peluang untuk dipanen.

"Dan terakhir itu yang puso, yang pusonya memang ini sudah tidak bisa ditolong lagi, dia pasti gagal panen begitu, karena hampir sebagian besar di atas 75% sudah terkena kekeringan, sehingga petani ini tidak bisa menghasilkan produksi sama sekali," ucap Beni.

Ia menerangkan, ada 2 kecamatan di Kabupaten Garut yang lahan pertaniannya mengalami kondisi puso di antaranya Kecamatan Pasirwangi seluas 7 hektar dan Kecamatan Selaawi seluas 15 hektar. 

Beni menyoroti zonasi berdasarkan tingkat kekeringan, di mana beberapa wilayah telah mencapai zonasi merah, menunjukkan kekurangan sumber air yang signifikan. Untuk mengatasi situasi ini, perlunya jaminan hidup (jadup) untuk petani dan buruh tani, termasuk bantuan sembako.

"Yang puso 2 kecamatan itu sudah zonasi merah. Artinya di zonasi merah ini tidak ada sama sekali sumber air yang bisa dieksplorasi untuk menyelamatkan kondisi _standing crop_ yang di lapangan," ungkapnya.

Untuk antisipasi wilayah zonasi merah ini, lanjut Beni, harus terdapat jaminan hidup (jadup) berupa sembako untuk mendukung para petani termasuk para buruh tani agar tetap memiliki cadangan pangan.

"Nah bagi buruh tani, kalau misalkan sudah tidak ada lahan yang bisa digarap resikonya dia kan tidak punya pekerjaan sama sekali begitu ya, jadi tidak ada penghasilan sama sekali, artinya ini memang jadup, artinya kebutuhan sembako dan sebagainya," ungkapnya.

Lain halnya dengan  zonasi kuning, Beni memaparkan bahwa di wilayah tersebut terdapat sedikit sumber air namun masyarakat memiliki kesulitan untuk mengakses sumber air, baik itu karena jauh maupun ketinggian yang sulit dijangkau.
 
Sedangkan zonasi hijau, lanjut Beni, di wilayah tersebut terdapat irigasi teknis sehingga kebutuhan air masih terpenuhi meskipun debit air mulai berkurang karena kekeringan.

"Nah yang paling harus kita lakukan di zonasi hijau ini adalah penanganan atau pengendalian hama penyakit terutama hama, karena ini hama yang tadinya ada di zonasi merah sebarannya dengan di zonasi kuning ini akan bermigrasi ke daerah yang hijau," ujarnya.

Beni mengimbau kepada seluruh petani di Kabupaten Garut, termasuk para petugas penyuluh, UPT Pertanian, yang berada di lapangan untuk segera melaksanakan sosialisasi secara masif agar masyarakat di lokasi-lokasi yang masih terdapat sumber air bisa memanfaatkan air tersebut dengan menanam tanaman yang tidak memerlukan air yang banyak.

"Jadi cari tanaman yang pendek, yang 30 hari, 40 hari bisa dipanen dalam rangka nanti mempertahankan kondisi ekonomi di daerah yang bersangkutan," tandasnya.(*)

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Kisruh Kartu Tani, Para Petani Garut Menduga Ada Kongkalikong Pihak Dinas dan Bank

Kisruh Kartu Tani, Para Petani Garut Menduga Ada Kongkalikong Pihak Dinas dan Bank

Garut | Rabu, 06 September 2023 | 14:36 WIB

Sirkuit BMX Berubah Jadi Joging Track, Bupati Garut Tak Mengetahuinya

Sirkuit BMX Berubah Jadi Joging Track, Bupati Garut Tak Mengetahuinya

Garut | Rabu, 06 September 2023 | 08:00 WIB

Merasa Tupoksinya Tak Difungsikan Sekjen dan Wasekjen Askab PSSI Garut Mundur dan Akan Diikuti Bidang Lainnya

Merasa Tupoksinya Tak Difungsikan Sekjen dan Wasekjen Askab PSSI Garut Mundur dan Akan Diikuti Bidang Lainnya

Garut | Rabu, 06 September 2023 | 06:30 WIB

Terkini

100 Personel Damkar Masih Berjibaku Padamkan Kebakaran Gedung Bapenda DKI

100 Personel Damkar Masih Berjibaku Padamkan Kebakaran Gedung Bapenda DKI

News | Jum'at, 07 Agustus 2026 | 23:47 WIB

Kantor Bapenda DKI Jakarta Dilalap si Jago Merah, Api Semakin Membesar

Kantor Bapenda DKI Jakarta Dilalap si Jago Merah, Api Semakin Membesar

News | Jum'at, 07 Agustus 2026 | 23:40 WIB

Rekor Buruk Timnas Indonesia di Piala AFF Semakin Panjang, Pemain Naturalisasi Tak Berkutik

Rekor Buruk Timnas Indonesia di Piala AFF Semakin Panjang, Pemain Naturalisasi Tak Berkutik

Bola | Jum'at, 07 Agustus 2026 | 23:39 WIB

100 Petani Sidomulyo Muba Serahkan Diri, Bela 4 Warga yang Dituduh Mencuri di Kebun Sendiri

100 Petani Sidomulyo Muba Serahkan Diri, Bela 4 Warga yang Dituduh Mencuri di Kebun Sendiri

Sumsel | Jum'at, 07 Agustus 2026 | 23:34 WIB

Eks Penyidik KPK: Kasus Febrie Adriansyah Harus Dikembangkan ke Atas, Bawah, dan Samping

Eks Penyidik KPK: Kasus Febrie Adriansyah Harus Dikembangkan ke Atas, Bawah, dan Samping

News | Jum'at, 07 Agustus 2026 | 23:29 WIB

Dari Batam Menuju Timnas Indonesia, Garudayaksa FC Buka Kesempatan bagi Talenta Muda

Dari Batam Menuju Timnas Indonesia, Garudayaksa FC Buka Kesempatan bagi Talenta Muda

Bola | Jum'at, 07 Agustus 2026 | 23:15 WIB

Tak Berdiri Sendiri, Pengamat Unas Endus Ada Sosok Berpengaruh di Kasus Eks Jampidsus

Tak Berdiri Sendiri, Pengamat Unas Endus Ada Sosok Berpengaruh di Kasus Eks Jampidsus

News | Jum'at, 07 Agustus 2026 | 23:05 WIB

Erick Thohir Evaluasi Skuad Timnas Indonesia Usai Gagal di Piala AFF 2026, John Herdman Out?

Erick Thohir Evaluasi Skuad Timnas Indonesia Usai Gagal di Piala AFF 2026, John Herdman Out?

Bola | Jum'at, 07 Agustus 2026 | 22:59 WIB

Kata-kata Mengharukan Rizky Ridho Usai Timnas Indonesia Tersingkir dari Piala AFF 2026

Kata-kata Mengharukan Rizky Ridho Usai Timnas Indonesia Tersingkir dari Piala AFF 2026

Bola | Jum'at, 07 Agustus 2026 | 22:36 WIB

Tangis Haru Karsa, Rumah Reotnya di Klapanunggal Kini Kokoh Direnovasi Indocement

Tangis Haru Karsa, Rumah Reotnya di Klapanunggal Kini Kokoh Direnovasi Indocement

Bogor | Jum'at, 07 Agustus 2026 | 22:17 WIB

×