Array

Parasit Kucing Bisa Membuat Manusia Gila?

Dythia Novianty Suara.Com
Kamis, 23 Februari 2017 | 20:19 WIB
Parasit Kucing Bisa Membuat Manusia Gila?
Ilustrasi perempuan dan kucing. [Shutterstock]

Suara.com - Dalam sebuah studi dikatakan bahwa kucing yang membawa parasit dapat mengubah otak dan perilaku manusia. Fenomena ini kadang disebut sebagai 'Crazy Cat Lady Syndrome' atau sindrom wanita kucing gila.

Tapi dalam penelitian terbaru, para pecinta kucing bisa bernafas lega. Pasalnya, sebuah studi yang diterbitkan dalam Psychological Medicine saat ini telah menolak studi sebelumnya.

Sejumlah penelitian sebelumnya mengatakan bahwa kucing yang membawa parasit, membuat pemiliknya memiliki risiko lebih besar untuk terjangkit gejala psikotik atau gila. Karena kucing biasanya telah membawa toxoplasma gondii atau parasit yang dikaitkan dengan skizofrenia dan halusinasi.

Sebuah tim ahli epidemiologi dari University College London, mencoba menguji teori dengan menganalisis data dari Avon Longitudinal Study of Parents and Children (ALSPAC) dan mendata anak yang lahir pada 1991 dan 1992, sampai mereka berusia 18 tahun.

Untuk studi ini, peneliti secara khusus fokus pada peserta dengan data lengkap tentang pengalaman psikotik pada awal masa remaja, ketika mereka masih berusia 13 tahun (6705 total partisipan) dan pada akhir masa remaja pada usia 18 (4676 total partisipan).

Dari kuesioner yang diisi oleh ibu peserta, peneliti mengumpulkan informasi tentang paparan anak-anak pada kucing ketika mereka masih dalam kandungan dan berusia 47 bulan dan pada usia 10 tahun.

Infeksi toksoplasma gondii sendiri diperkirakan berisiko sangat tinggi pada perkembangan saraf saat masa-masa awal hidup.

Mereka juga memperhitungkan variabel lain, seperti status perkawinan ibu dalam kehamilan dan perpindahan saat anak masih di bawah usia empat tahun.

Pada akhirnya, penelitian ini tidak menemukan adanya bukti bahwa kepemilikan kucing selama kehamilan atau saat tumbuh dewasa dikaitkan dengan timbulnya gejala psikotik di kemudian hari.

Baca Juga: Sony Luncurkan Kartu SD Tercepat

Ada sejumlah alasan mengapa hasil penelitian mereka berbeda dari studi sebelumnya.

"Studi kami didasarkan pada [pengalaman psikotik] awal dan akhir masa remaja, tidak seperti penelitian lain yang berdasarkan diagnosis klinis skizofrenia," tulis mereka.

Penelitian sebelumnya juga memiliki ukuran sampel yang lebih kecil. Hal tersebut diduga terjadi karena keterbatasan metodologis.

"Kami tentu ingin tahu tentang buruknya kualitas ilmu pengetahuan sampai sekarang dan hubungan antara kepemilikan kucing serta kasus psikotik," kata Francesca Solmin, ahli epidemiologi psikiatri dan penulis utama studi tersebut, dikutip dari Broadlycom. [Risna Halidi]

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Simulasi TKA Kelas 12 SMA Soal Matematika dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 15 Soal Bahasa Inggris Kelas 9 SMP dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kamu Beneran Orang Solo Apa Bukan?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pemula atau Suhu, Seberapa Tahu Kamu soal Skincare?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA: Soal Matematika Kelas 6 SD dengan Jawaban dan Pembahasan Lengkap
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Tahu Kamu Soal Transfer Mauro Zijlstra ke Persija Jakarta? Yuk Uji Pengetahuanmu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Fun Fact Nicholas Mjosund, Satu-satunya Pemain Abroad Timnas Indonesia U-17 vs China
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 10 Soal Matematika Materi Aljabar Kelas 9 SMP dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan John Herdman? Pelatih Baru Timnas Indonesia
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Otak Kanan vs Otak Kiri, Kamu Tim Kreatif atau Logis?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Apakah Kamu Terjebak 'Mental Miskin'?
Ikuti Kuisnya ➔
×
Zoomed

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI