Suara.com - Menurut data dari Badan Pusat Statistik, jumlah penduduk miskin di Indonesia pada Maret 2017 sebanyak 27.77 juta orang atau sekitar 10.64 persen. Sebanyak 11 juta jiwa atau 40 persen di antaranya adalah anak-anak.
Parahnya, kondisi tersebut menjadi gambaran masa depan bangsa Indonesia. Maka dari itu, program Indonesia Emas 2045 yang dicanangkan oleh Pemerintahan Presiden Joko Widodo melalui Kemenpora besar kemungkinan akan menghadapi banyak hambatan.
Plt Sekertaris Kementerian Perlindungan Perempuan dan Anak, Lenny Rosalina mengatakan akan ada 84 juta anak Indonesia di bawah usia 18 tahun pada 2045. Sayangnya, dari sekian banyak masalah yang dihadapi oleh anak, masalah gizi tetap menjadi masalah utama baik itu kurang gizi, stunting bahkan obesitas.
Dalam acara yang sama, Anggota Satgas Perlindungan Anak dari Ikatan Dokter Anak Indonesia-- dr. TB Rahmat Sentika mengatakan jika masalah gizi dan tumbuh kembang anak tidak selalu semata-mata disebabkan oleh faktor ekonomi keluarga.
"Melainkan juga karena kurangnya pengetahuan ibu. Anak yang seharusnya diberi ASI, tapi malah diberi makanan lain yang tinggi kandungan gula, garam dan lemak. Tidak heran kalau saat ini obesitas dan diabetes pada anak mengingkari," terangnya.
Untuk menghindari kegagalan pencapaian program Indonesia Emas 2045, ia pun menuturkan bagaimana pemerintah telah membuat lima strategi untuk mengatasi masalah gizi pada anak.
"Pertama langsung kepada anak. Kita kemas dengan gaya bahasa mereka termasuk membuat wadah bagi anak seperti forum anak dari tingkat desa hingga nasional. Ini untuk mewadahi aktifitas anak-anak, dilatih menjadi pelopor hal-hal baik," ucapnya dalam acara Hari Anak Nasional 2017 di Aula 1, Gedung Kemendikbud, Jakarta.
Strategi kedua, intervensi dilakukan langsung kepada keluarga dengan cara membuat pusat pembelajaran keluarga di tingkat provinsi, kabupaten dan kota. Pusat pembelajaran keluarga tersebut juga dilengkapi dengan psikolog dan psikiater juga tenaga profesional yang dapat membantu memecahkan masalah-masalah keluarga.
Ketiga, intervensi juga dilakukan ke sekolah-sekolah tempat anak sebagian besar waktunya dihabiskan di sana. Lalu keempat, pemerintah melakukan strategi langsung melalui lingkungan. "Kita ada pojok kesejahteraan anak, pusat kreativitas anak dan ruang bermain ramah anak."
Strategi terakhir atau yang kelima, intervensi dilakukan melalui dimensi wilayah. "Kita ingin pemimpin daerah memberikan perhatian pada generasi emas," tuturnya.