Rahasia Sehat Alami, Jalan Tanpa Alas Kaki di Atas Rumput

Vania Rossa | Suara.com

Senin, 12 Agustus 2019 | 13:17 WIB
Rahasia Sehat Alami, Jalan Tanpa Alas Kaki di Atas Rumput
Berjalan Tanpa Alas Kaki di Atas Rumput. (Pixabay)

Suara.com - Bukan rahasia lagi bahwa menghabiskan waktu di alam terbuka sangat baik untuk kesehatan. Selama bertahun-tahun, para peneliti telah merinci bagaimana orang-orang yang tinggal di dekat ruang hijau - taman, jalan-jalan yang dipenuhi pepohonan, pedesaan - memiliki kesehatan fisik dan mental yang lebih baik.

Hingga akhirnya, para peneliti menemukan ide bahwa berjalan tanpa alas kaki di rumput memiliki dampak kesehatan yang baik pada tubuh manusia, Gagasan dibaliknya adalah apa yang disebut grounding, bahwa manusia berevolusi dalam kontak langsung dengan muatan listrik halus Bumi, tetapi hal itu telah kehilangan koneksinya akibat pembangunan gedung, pengunaan furnitur, atau pemakaian sepatu dengan sol sintetis yang mengisolasi.

Dalam artikel di Chicago Tribune yang ditulis oleh Carrie Dennet, seorang nutrisionis terdaftar, disebutkan bahwa para pendukung paham grounding mengatakan pemutusan kontak dengan bumi ini mungkin berkontribusi pada penyakit kronis yang lazim terjadi di masyarakat. Dan memang ada beberapa ilmu yang dapat menjelaskan bahwa berjalan tanpa alas kaki dan menapak langsung dengan tanah dapat memberikan perubahan hampir instan dalam berbagai tindakan fisiologis, seperti membantu meningkatkan tidur, mengurangi rasa sakit, mengurangi ketegangan otot, dan menurunkan stres.

Ada banyak alasan bahwa terhubung dengan alam sangat baik untuk pikiran dan tubuh, tetapi faktor arus listrik mungkin bukan yang Anda pertimbangkan.

Jika Anda mengingat kembali saat terakhir Anda mengambil kelas sains, Anda mungkin ingat bahwa semuanya, termasuk manusia, terdiri dari atom. Partikel-partikel mikroskopis ini mengandung sejumlah elektron bermuatan negatif yang sama, yang berpasangan, dan proton bermuatan positif, sehingga atom menjadi netral - kecuali jika kehilangan elektron.

Ketika sebuah atom memiliki elektron yang tidak berpasangan, ia menjadi "radikal bebas" dengan muatan positif, yang mampu merusak sel-sel kita dan berkontribusi terhadap peradangan kronis, kanker, dan penyakit lainnya. Dalam hal ini, "positif" bukanlah hal yang baik.

Salah satu alasan kontak fisik langsung dengan tanah mungkin memiliki efek fisiologis yang menguntungkan adalah permukaan bumi memiliki muatan negatif dan terus-menerus menghasilkan elektron yang dapat menetralkan radikal bebas, atau dengan kata lain bertindak sebagai antioksidan.

Anda selama ini mungkin menganggap antioksidan hanya berasal dari makanan, seperti diet yang kaya buah-buahan, sayuran, dan makanan lain yang menyediakan beta-karoten, selenium, lutein, likopen, dan vitamin A, C, dan E. Namun, ternyata, kita mungkin bisa mendapatkan antioksidan secara langsung dari bumi.

Penelitian juga menunjukkan kontak fisik dengan permukaan bumi dapat membantu mengatur sistem saraf otonom kita dan menjaga ritme sirkadian kita - yang mengatur suhu tubuh, sekresi hormon, pencernaan dan tekanan darah - disinkronkan dengan siklus siang / malam. Desinkronisasi jam internal telah dikaitkan dengan sejumlah masalah kesehatan, sebagaimana dibuktikan oleh penelitian terhadap para pekerja shift.

Kuncinya mungkin dampak pada saraf vagus. Ini adalah saraf terbesar dari sistem saraf otonom - memanjang dari otak ke usus besar - dan memainkan peran kunci dalam fungsi jantung, paru-paru, dan pencernaan. Jika saraf ini kuat, Anda akan merasa rileks lebih cepat setelah mengalami stres, namun jika lemah, hal ini dikaitkan dengan peradangan kronis.

Peradangan, pada gilirannya, dikaitkan dengan sejumlah penyakit kronis - termasuk penyakit kardiovaskular, diabetes tipe 2, dan beberapa jenis kanker.

Sudah banyak studi klinis yang menunjukkan perubahan fisik yang menguntungkan ketika peserta di-ground, meski studi cenderung kecil dan dilakukan di dalam ruangan menggunakan kabel yang terhubung ke tanah. Ini sebagian karena studi dilakukan di dalam laboratorium yang lebih praktis daripada membawa peserta keluar ruangan.

Nah, karena berada di luar ruangan terbukti baik untuk Anda, mungkin tidak ada salahnya untuk mencobanya sendiri untuk melihat apakah Anda melihat adanya manfaat. Cukup biarkan kulit Anda bersentuhan dengan konduktor alami dari listrik bumi, bekerja hingga setidaknya 30 menit. Anda bisa berjalan tanpa alas kaki di atas rumput, tanah lembab, pasir, atau kerikil. Anda dapat berenang di laut, danau, atau sumber air alami lainnya. Anda juga bisa duduk di bawah sebatang pohon, atau bersandar di batang pohon.

Perhatikanlah bahwa Anda akan menjadi lebih rileks, atau Anda tidur lebih nyenyak, atau Anda memiliki lebih sedikit rasa sakit atau kelelahan.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

8 Manfaat Jalan Kaki Tanpa Alas, Termasuk Perbaiki Pencernaan!

8 Manfaat Jalan Kaki Tanpa Alas, Termasuk Perbaiki Pencernaan!

Health | Selasa, 25 Juni 2019 | 07:00 WIB

Rutin Jalan Kaki Membuat Wanita Hidup Lebih Lama

Rutin Jalan Kaki Membuat Wanita Hidup Lebih Lama

Lifestyle | Minggu, 09 Juni 2019 | 19:40 WIB

Peneliti Ungkap Wanita yang Banyak Jalan Kaki Lebih Berumur Panjang

Peneliti Ungkap Wanita yang Banyak Jalan Kaki Lebih Berumur Panjang

Health | Senin, 03 Juni 2019 | 15:40 WIB

Terkini

Rahim Ayu Aulia Diangkat Gegara Tumor Ganas, Benarkah Riwayat Aborsi Jadi Pemicunya?

Rahim Ayu Aulia Diangkat Gegara Tumor Ganas, Benarkah Riwayat Aborsi Jadi Pemicunya?

Health | Rabu, 13 Mei 2026 | 18:25 WIB

Gatal-Gatal Tak Kunjung Sembuh? Bisa Jadi Tanda Gangguan Liver yang Sering Diabaikan

Gatal-Gatal Tak Kunjung Sembuh? Bisa Jadi Tanda Gangguan Liver yang Sering Diabaikan

Health | Rabu, 13 Mei 2026 | 17:00 WIB

Turun 10 Kg dalam 8 Minggu, Ini Perjalanan Vicky Shu Jaga Berat Badan dengan Pendampingan Medis

Turun 10 Kg dalam 8 Minggu, Ini Perjalanan Vicky Shu Jaga Berat Badan dengan Pendampingan Medis

Health | Selasa, 12 Mei 2026 | 22:34 WIB

Panas Ekstrem Ancam Ibu Hamil, Risiko Prematur hingga Bayi Lahir Mati Meningkat

Panas Ekstrem Ancam Ibu Hamil, Risiko Prematur hingga Bayi Lahir Mati Meningkat

Health | Selasa, 12 Mei 2026 | 17:02 WIB

Konsumsi Gula Orang Indonesia Tembus 75 Gram Sehari: Ancaman Serius Bagi Kesehatan Gigi

Konsumsi Gula Orang Indonesia Tembus 75 Gram Sehari: Ancaman Serius Bagi Kesehatan Gigi

Health | Selasa, 12 Mei 2026 | 16:59 WIB

Kasus Hantavirus Ada di Provinsi Indonesia Mana Saja? Korban Meninggal Capai 3 Orang

Kasus Hantavirus Ada di Provinsi Indonesia Mana Saja? Korban Meninggal Capai 3 Orang

Health | Selasa, 12 Mei 2026 | 15:56 WIB

Hantavirus Ada Sejak Kapan? Menilik Sejarah dan Munculnya Kasus di Indonesia

Hantavirus Ada Sejak Kapan? Menilik Sejarah dan Munculnya Kasus di Indonesia

Health | Selasa, 12 Mei 2026 | 15:05 WIB

Gejala Awal Mirip Flu, Apa Perbedaan Hantavirus dan Corona?

Gejala Awal Mirip Flu, Apa Perbedaan Hantavirus dan Corona?

Health | Selasa, 12 Mei 2026 | 14:46 WIB

Waspada! 7 Jenis Tikus di Sekitar Rumah Ini Bisa Jadi Penyebab Hantavirus di Indonesia

Waspada! 7 Jenis Tikus di Sekitar Rumah Ini Bisa Jadi Penyebab Hantavirus di Indonesia

Health | Selasa, 12 Mei 2026 | 10:53 WIB

4 Penyebab Hantavirus dan Gejala Awalnya, Ramai Dibahas usai Kasus MV Hondius

4 Penyebab Hantavirus dan Gejala Awalnya, Ramai Dibahas usai Kasus MV Hondius

Health | Selasa, 12 Mei 2026 | 07:58 WIB