Ratusan Orang Sesak Napas di Amerika, Babak Baru Kontroversi Rokok Elektrik

M. Reza Sulaiman | Risna Halidi | Suara.com

Kamis, 19 September 2019 | 07:30 WIB
Ratusan Orang Sesak Napas di Amerika, Babak Baru Kontroversi Rokok Elektrik
Ilustrasi vape atau rokok elektrik yang bisa sebabkan gangguan pernapasan. (Dok. Suara.com)

Kasus pesakitan dan meninggal akibat rokok elektrik ini juga ditanggapi oleh Ketua Perhimpunan Dokter Paru Indonesia, Dr. dr. Agus Dwi Susanto, Sp.P(K). Menurutnya, apa yang terjadi di Amerika saat ini merupakan sebuah epidemi, yang sebelumnya juga sempat terjadi di beberapa negara lain.

"Hampir 400 kasus dalam beberapa bulan, sebagian besarnya dirawat di rumah sakit hingga masuk ICU, bahkan 5 orang meninggal ini. Kejadian ini sebelumnya sudah pernah terjadi di beberapa negara lain, sudah ada warning, cuma memang kasusnya tidak sebanyak di Amerika ini sampai jadi epidemi," urai dr Agus saat dihubungi Suara.com, Senin (16/9/2019).

Ia menjelaskan, hampir semua pasien yang dirawat karena penggunaan rokok elektrik mengalami respiratory distress, alias gangguan fungsi pernapasan yang membuat seseorang menjadi sesak napas.

Kerusakan ini terjadi secara cepat dan hebat, sehingga selain sesak napas, pasien juga bisa terancam nyawanya karena tidak bisa bernapas. Lalu, apakah sudah ada kasus serupa yang terjadi di Indonesia?

Menurut dr Agus berdasarkan laporan resmi Dinas Kesehatan maupun Kementerian Kesehatan, hingga saat ini belum ada kasus gangguan fungsi pernapasan karena penggunaan rokok elektrik. Hal ini dikarenakan belum ada mekanisme pelaporan kasus gangguan paru-paru yang secara khusus disebabkan oleh rokok elektrik di fasilitas kesehatan, baik itu klinik, puskesmas, maupun rumah sakit.

"Tapi berdasarkan pengalaman rekan-rekan sejawat dokter paru, ada pasien yang paru-parunya kolaps dan bocor setelah beberapa bulan gunakan vape," tuturnya.

"Pasien saya pun ada, mengeluh paru-paru berat, batuk-batuk lama, dan itu terjadi setelah menggunakan vape selama beberapa bulan," tambah lelaki berkacamata ini.

Ia berharap apa yang terjadi di Amerika Serikat tidak terjadi di Indonesia. Namun berkaca pada tren penggunaan vape dan rokok elektrik yang semakin marak di kalangan masyarakat, menurutnya bukan tidak mungkin masalah yang sama bisa terjadi di Indonesia di masa depan.

Untuk itu, dr Agus berhadap ada sikap tegas dari pemerintah terkait pelarangan peredaran produk vape dan rokok elektrik ini. Ia menegaskan vape dan rokok elektrik bukanlah cara yang tepat digunakan jika perokok ingin berhenti merokok.

"Di Amerika dan negara-negara lain sudah mulai melakukan pelarangan. Kita tentu tidak ingin di sini kejadian juga. Jadi sebelum terlambat, baiknya dilarang supaya masyarakat tidak terkena dampak buruknya," ungkap dr Agus.

Di sisi lain, Asosiasi Personal Vaporizer Indonesia (APVI) menyebut apa yang terjadi di Amerika merupakan penyalahgunaan rokok elektrik. Ketua APVI Aryo Andrianto menegaskan, korban meninggal karena mengonsumsi THC oil yang berkadar tinggi dan dijual secara ilegal di Amerika.

Vape atau rokok elektronik (elektrik). (Shutterstock)
Rokok elektrik. (Shutterstock)

"Pemberitaan itu kami konfirmasikan kepada Asosiasi Vape di seluruh dunia. Dan kami sekali lagi mendapatkan penjelasan bahwa kasus itu terjadi di Amerika dan benar adanya tetapi bukan karena liquid vape yang normal/legal/yang biasa digunakan oleh umumnya pengguna vape atau vapers," kata Aryo dalam keterangan kepada media, Selasa (17/9/2019).

Aryo menjelaskan, THC oil adalah unsur utama psikoaktif yang terdapat di dalam tanaman ganja. Zat ini yang disalahgunakan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab.

"Dan ada juga ditemukan kandunganya terdiri dari muatan minyak Vitamin E dosis tinggi dengan menggunakan media yang sama dengan alat alat vape yang biasa digunakan. Artinya ini kasuistis," jelas dia.

Polemik Rokok Elektrik: Klaim Manfaat VS Risiko Bahaya

Sejak awal, rokok elektrik memang dipasarkan sebagai produk tembakau alternatif pengganti rokok konvensional (rokok tembakau).

Rokok konvensional sudah terbukti secara ilmiah berbahaya bagi kesehatan. Beragam penelitian di jurnal-jurnal kesehatan mengatakan merokok meningkatkan risiko terserang kanker, serangan jantung, impotensi, dan gangguan kehamilan dan janin. Pesan ini pun tertera di setiap bungkus rokok yang dijual di Indonesia.

Atas dasar ini, keberadaan rokok elektrik disambut baik. Rokok elektrik tidak mengandung tar dan beragam racun lainnya yang ada di rokok konvensional. Bahkan, penelitian menyebut rokok elektrik bermanfaat membantu perokok yang ingin berhenti.

Pada tahun 2015, Public Health England, organisasi dibawah Kementerian Kesehatan Inggris menyimpulkan bahwa rokok elektrik lebih rendah risiko kesehatannya hingga 95 persen dibandingkan rokok konvensional.

Selanjutnya: Simpang Siur Peraturan Rokok Elektrik di Indonesia

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Cairan Rokok Elektrik Berperisa Resmi Dilarang di New York

Cairan Rokok Elektrik Berperisa Resmi Dilarang di New York

Health | Rabu, 18 September 2019 | 15:39 WIB

Rokok Elektrik Kembali Diduga Menelan Korban Meninggal Dunia

Rokok Elektrik Kembali Diduga Menelan Korban Meninggal Dunia

Health | Rabu, 18 September 2019 | 07:35 WIB

APVI: Korban Vape di Amerika Karena THC Oil Bukan Liquid Legal

APVI: Korban Vape di Amerika Karena THC Oil Bukan Liquid Legal

Bisnis | Selasa, 17 September 2019 | 11:44 WIB

Terkini

Gudang Berdebu hingga Area Perkebunan, Ini Lingkungan yang Bisa Jadi Sarang Penularan Hantavirus

Gudang Berdebu hingga Area Perkebunan, Ini Lingkungan yang Bisa Jadi Sarang Penularan Hantavirus

Health | Kamis, 14 Mei 2026 | 13:52 WIB

Waspada Hantavirus, Ketahui Cara Membersihkan Kotoran Tikus yang Benar

Waspada Hantavirus, Ketahui Cara Membersihkan Kotoran Tikus yang Benar

Health | Kamis, 14 Mei 2026 | 12:59 WIB

Rahim Ayu Aulia Diangkat Gegara Tumor Ganas, Benarkah Riwayat Aborsi Jadi Pemicunya?

Rahim Ayu Aulia Diangkat Gegara Tumor Ganas, Benarkah Riwayat Aborsi Jadi Pemicunya?

Health | Rabu, 13 Mei 2026 | 18:25 WIB

Gatal-Gatal Tak Kunjung Sembuh? Bisa Jadi Tanda Gangguan Liver yang Sering Diabaikan

Gatal-Gatal Tak Kunjung Sembuh? Bisa Jadi Tanda Gangguan Liver yang Sering Diabaikan

Health | Rabu, 13 Mei 2026 | 17:00 WIB

Turun 10 Kg dalam 8 Minggu, Ini Perjalanan Vicky Shu Jaga Berat Badan dengan Pendampingan Medis

Turun 10 Kg dalam 8 Minggu, Ini Perjalanan Vicky Shu Jaga Berat Badan dengan Pendampingan Medis

Health | Selasa, 12 Mei 2026 | 22:34 WIB

Panas Ekstrem Ancam Ibu Hamil, Risiko Prematur hingga Bayi Lahir Mati Meningkat

Panas Ekstrem Ancam Ibu Hamil, Risiko Prematur hingga Bayi Lahir Mati Meningkat

Health | Selasa, 12 Mei 2026 | 17:02 WIB

Konsumsi Gula Orang Indonesia Tembus 75 Gram Sehari: Ancaman Serius Bagi Kesehatan Gigi

Konsumsi Gula Orang Indonesia Tembus 75 Gram Sehari: Ancaman Serius Bagi Kesehatan Gigi

Health | Selasa, 12 Mei 2026 | 16:59 WIB

Kasus Hantavirus Ada di Provinsi Indonesia Mana Saja? Korban Meninggal Capai 3 Orang

Kasus Hantavirus Ada di Provinsi Indonesia Mana Saja? Korban Meninggal Capai 3 Orang

Health | Selasa, 12 Mei 2026 | 15:56 WIB

Hantavirus Ada Sejak Kapan? Menilik Sejarah dan Munculnya Kasus di Indonesia

Hantavirus Ada Sejak Kapan? Menilik Sejarah dan Munculnya Kasus di Indonesia

Health | Selasa, 12 Mei 2026 | 15:05 WIB

Gejala Awal Mirip Flu, Apa Perbedaan Hantavirus dan Corona?

Gejala Awal Mirip Flu, Apa Perbedaan Hantavirus dan Corona?

Health | Selasa, 12 Mei 2026 | 14:46 WIB