Mengeluh Alami Mati Otak, Pria Ini Ternyata Derita Sindrom Langka

Yasinta Rahmawati, Shevinna Putti Anggraeni

Selasa, 05 November 2019 | 15:15 WIB
Mengeluh Alami Mati Otak, Pria Ini Ternyata Derita Sindrom Langka
ilustrasi orang sakit langka (Shutterstock)

Suara.com - Graham, pria usia 48 tahun ini menderita sindrom langka yang membuatnya merasa seperti mati otak. Ketika Graham mengeluh otaknya seperti mati, dokter langsung menduga ada sesuatu yang tak beres.

Kasus yang tertulis dalam jurnal CORTEX ini mengungkapkan bahwa Graham mulai datang menemui dokter umum ketika merasa otaknya sudah mati.

Menurut studi kasus yang dilansir dari Fox News, Graham menyadari bahwa ia memiliki kemampuan berpikir, mengingat dan berinteraksi dengan orang sekitarnya. Suatu ketika, Graham merasa bahwa otaknya sudah tidak berfungsi lagi.

Kondisi itu membuat Graham mengalami depresi berat sampai berniat bunuh diri dengan sengatan listrik.

Saat itulah, Graham didiagnosis mengalami masalah kejiwaan langka yang disebut Sindrom Cotard. Penyakit jiwa ini membuatnya merasa ada yang bermasalah dengan kondisi kesehatan tubuhnya.

Mana yang lebih sering Anda pikirkan, makan atau bercinta?
Ilustrasi kondisi otak manusia (shutterstock)

Sebenarnya, kasus Sindrom Cotard ini jarang terjadi. Tetapi, orang yang menderita sindrom langka ini biasanya mengalami malnutrisi parah dan kelaparan.

Efek samping ini dapat terjadi karena pasien tidak nafsu makan, kesulitan tidur dan tidak bersemangat melakukan kegiatan sehari-hari. Apalagi Graham harus tinggal di pemakaman terdekat yang sepi.

Kondisi itulah yang membuat Graham semakin tertekan dan merasa dekat dengan kematiannya. Graham berpikir akan tinggal lebih lama di dalam pemakaman itu.

Setelah Graham mendaoat bantuan medis, akhirnya dokter mengetahui permasalahan dalam otak pasien Sindrom Cotard. Pemindaian PET menunjukkan aktivitas metabolisme rendah yang abnormal dibandingkan dengan otak orang normal.

baca juga
Ilustrasi cedera otak akibat properti toko di pusat perbelanjaan. (Shutterstock)
Ilustrasi cedera otak akibat properti toko di pusat perbelanjaan. (Shutterstock)

Salah satu dokter Graham mengaku belum pernah melihat seseorang berjalan, berbicara dan beraktivitas dengan otak yang rendah. Dokter mengatakan kondisi ini seperti orang yang tidur karena pengaruh anestesi.

Penulis studi CORTEX ini pun menyimpulkan bahwa gangguan jiwa Cotard berasal dari gangguan besar di dalam otaknya. Gangguan inilah yang memengaruhi kesadaran inti seseorang terhadap dirinya sendiri dan berbagai peristiwa di sekitarnya.

Beruntungnya, Graham bisa melalui kehidupannya secara normal setelah melakukan banyak perawatan dan pengobatan kejiwaan.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Ketahui Gejala Ensefalitis, Infeksi di Otak yang Diderita Alfin Lestaluhu

Ketahui Gejala Ensefalitis, Infeksi di Otak yang Diderita Alfin Lestaluhu

Health | Jum'at, 01 November 2019 | 15:52 WIB

Dokter Terawan Komentari polemik Cuci Otak Usai Jadi Menkes

Dokter Terawan Komentari polemik Cuci Otak Usai Jadi Menkes

Health | Rabu, 23 Oktober 2019 | 18:03 WIB

Dahulu Kontroversi, Seperti Apa Metode 'Cuci Otak' dr Terawan?

Dahulu Kontroversi, Seperti Apa Metode 'Cuci Otak' dr Terawan?

Health | Rabu, 23 Oktober 2019 | 18:10 WIB

Terkini

Electricity Connect 2026: PLN Group Berkolaborasi Strategis, Estimasi Nilai hingga Rp3,3 Triliun

Electricity Connect 2026: PLN Group Berkolaborasi Strategis, Estimasi Nilai hingga Rp3,3 Triliun

Bisnis | Kamis, 24 September 2026 | 12:15 WIB

Saham Keluarga Taipan Hary Tanoe Kompak Ambruk

Saham Keluarga Taipan Hary Tanoe Kompak Ambruk

Bisnis | Kamis, 24 September 2026 | 12:11 WIB

Prabowo Kumpulkan Ahli Bahas Karhutla di Ratas, Bawa Agama dan Kurikulum Jadi Senjata Pencegahan

Prabowo Kumpulkan Ahli Bahas Karhutla di Ratas, Bawa Agama dan Kurikulum Jadi Senjata Pencegahan

News | Kamis, 24 September 2026 | 12:06 WIB

Data Karhutla Kalsel Beda-Beda, BNPB Minta Semua Instansi Pakai Satu Data

Data Karhutla Kalsel Beda-Beda, BNPB Minta Semua Instansi Pakai Satu Data

News | Kamis, 24 September 2026 | 12:02 WIB

Bos Geng Motor di Makassar Ditangkap Saat Asyik Live Tiktok

Bos Geng Motor di Makassar Ditangkap Saat Asyik Live Tiktok

Sulsel | Kamis, 24 September 2026 | 12:01 WIB

Eks Anggota Polres Probolinggo Dijatuhi Vonis Mati, Begini Reaksi Atasan

Eks Anggota Polres Probolinggo Dijatuhi Vonis Mati, Begini Reaksi Atasan

Jatim | Kamis, 24 September 2026 | 12:01 WIB

Kultus Mi Instan: Mengurai Sejarah Politik Pangan Indonesia

Kultus Mi Instan: Mengurai Sejarah Politik Pangan Indonesia

Your Say | Kamis, 24 September 2026 | 12:00 WIB

Akses Jalan Padang-Solok Sudah Bisa Dilalui Pasca Banjir Bandang

Akses Jalan Padang-Solok Sudah Bisa Dilalui Pasca Banjir Bandang

Riau | Kamis, 24 September 2026 | 11:55 WIB

Skenario Harga Bitcoin Menuju US$ 95.000, Tembus Basis Momentum Ini

Skenario Harga Bitcoin Menuju US$ 95.000, Tembus Basis Momentum Ini

Bisnis | Kamis, 24 September 2026 | 11:55 WIB

3 Skincare dengan Kandungan Benzoyl Peroxide, Ampuh Hempas Jerawat Remaja dan Dewasa

3 Skincare dengan Kandungan Benzoyl Peroxide, Ampuh Hempas Jerawat Remaja dan Dewasa

Lifestyle | Kamis, 24 September 2026 | 11:52 WIB

×