alexametrics

Tak Cuma Perokok, Pengguna Vape Juga Berisiko Tinggi Kena Corona Covid-19

Bimo Aria Fundrika | Frieda Isyana Putri
Tak Cuma Perokok, Pengguna Vape Juga Berisiko Tinggi Kena Corona Covid-19
Ilustrasi vape atau rokok elektrik. (Shutterstock)

Banyak pakar menyebutkan tak ada bedanya dengan perokok, vape juga berisiko tinggi.

Suara.com - Sebuah penelitian di China beberapa waktu lalu mengungkapkan bahwa banyak dari pasien positif Covid-19 di negaranya adalah perokok. Sehingga perokok menempati posisi yang berisiko tinggi tertular virus tersebut.

Bagaimana dengan vape? Banyak pakar dan ahli yang menyebutkan tak ada bedanya dengan perokok, vape juga berisiko tinggi.

Hal ini disebabkan karena keduanya sama-sama merusak paru-paru dan membuatnya sulit untuk melawan Covid-19.

Dikutip dari Healthline, Dr Albert Rizzo, kepala medis dari American Lung Association menulis di dalam situs organisasinya bahwa vaping atau merokok dapat melemahkan kemampuan seseorang untuk pulih dari virus corona.

Baca Juga: Tenaga Medis Positif Corona saat Hamil, IDI: Bisa Ganggu Pertumbuhan Janin

Vape, Salah Satu Produk Tembakau Alternatif. (Shutterstock)
Vape, Salah Satu Produk Tembakau Alternatif. (Shutterstock)

"Yang kami tahu pasti adalah merokok dan vaping menyebabkan kerusakan pada paru-paru, mengakibatkan jaringan paru terinflamasi, rapuh, dan rentan terhadap infeksi," katanya.

Ada banyak kekhawatiran mengenai masalah kesehatan jangka panjang yang disebabkan oleh vaping, tapi karena prakteknya sendiri belum lama muncul untuk memberikan bukti jangka panjang.

Sama halnya seperti Covid-19 yang baru pada bulan Desember muncul di Wuhan, China. Penyakit ini disebabkan oleh infeksi dari virus corona yang bernama SARS-CoV-2.

Maka dari itu hal ini menjadikan efek dari vaping dan merokok dengan Covid-19 menjadi tantangan tersendiri bagi para peneliti.

"Hingga kini belum ada bukti. Walau begitu, hal ini sangat sulit untuk dilacak karena masih belum memiliki kode ICD-10 (versi terbaru dari International Statistical Classification of Diseases) untuk menunjukkan pasien mana yang melakukan vape dan mana yang tidak," kata Dr Laura Crotty Alexander, profesor kedokteran di Divisi ulmonary Critical Care and Sleep dari University of California San Diego.

Baca Juga: Update Corona Covid-19 2 April 2020 Global: Total Kasus Hampir Sejuta

Ia menambahkan, banyak juga tenaga medis yang tidak bertanya spesifik soal perilaku vaping pasien.

Komentar