- Infeksi Helicobacter pylori adalah faktor risiko utama kanker lambung yang menyebabkan sekitar 700.000 kematian global per tahun.
- Gejala awal infeksi *H. pylori* sering tampak umum, namun dapat memicu peradangan kronis berpotensi menjadi lesi prakanker.
- Deteksi dini infeksi dapat dilakukan melalui Urea Breath Test (UBT) yang sensitif, diikuti penanganan individual sesuai stadium keganasan.
Suara.com - Setiap tahun, sekitar satu juta orang di dunia didiagnosis kanker lambung, dengan angka kematian mencapai 700.000 kasus. Salah satu faktor risiko utamanya adalah infeksi Helicobacter pylori (H. pylori), bakteri yang menginfeksi lebih dari separuh populasi global.
Bakteri ini telah diklasifikasikan sebagai karsinogen kelas I oleh International Agency for Research on Cancer karena kaitannya yang kuat dengan kanker lambung. Masalahnya, kanker lambung kerap berkembang tanpa gejala khas pada tahap awal.
Banyak pasien baru mencari pertolongan medis ketika penyakit sudah berada pada stadium lanjut. Di saat yang sama, infeksi H. pylori—yang dapat dideteksi lebih dini—sering kali tidak disadari atau diabaikan.

Keluhannya tampak umum: nyeri ulu hati, perut kembung, mual, atau gangguan pencernaan ringan. Namun di balik gejala yang terlihat “biasa” itu, dapat terjadi peradangan kronis pada mukosa lambung.
Dalam jangka panjang, kondisi ini berpotensi berkembang menjadi lesi prakanker hingga kanker. Sejumlah data menunjukkan pasien dengan infeksi H. pylori memiliki risiko kanker lambung sekitar 3% lebih tinggi dibandingkan mereka yang tidak terinfeksi.
Menurut dr. David Reinhard Sumantri Samosir, SpPD-KGEH, infeksi H. pylori dapat didiagnosis melalui metode non-invasif seperti Urea Breath Test (UBT), maupun prosedur invasif seperti endoskopi disertai biopsi.
“Urea Breath Test menjadi pilihan utama pemeriksaan non-invasif karena memiliki sensitivitas dan spesifisitas yang tinggi. Selain untuk mendeteksi infeksi, UBT juga dapat digunakan untuk mengevaluasi keberhasilan terapi eradikasi,” jelasnya.
Penelitian terbaru juga mengindikasikan bahwa infeksi H. pylori berhubungan dengan peningkatan risiko terbentuknya polip di usus besar, beberapa di antaranya berpotensi berkembang menjadi keganasan.
Hal ini memperkuat pentingnya deteksi dan penanganan sejak dini, bukan hanya untuk meredakan gejala, tetapi juga mencegah komplikasi jangka panjang.
Baca Juga: Kemenkes Siapkan Strategi Swab Mandiri untuk Perluas Deteksi Dini Kanker Serviks
Fasilitas layanan kesehatan seperti Siloam Hospitals TB Simatupang menyediakan pemeriksaan UBT dan endoskopi, termasuk gastroskopi dan kolonoskopi, untuk membantu evaluasi kondisi saluran cerna secara menyeluruh.
Pada kasus yang telah berkembang menjadi kanker kolorektal atau keganasan saluran cerna lainnya, pendekatan bedah digestif dapat menjadi bagian dari terapi komprehensif.
dr. Mudatsir, SpB Subsp. BD(K), menjelaskan bahwa penanganan kanker saluran cerna bersifat individual.
“Strategi terapi ditentukan berdasarkan kondisi pasien, ukuran tumor, dan luas penyebarannya. Jika belum terjadi metastasis luas, operasi kuratif dapat dilakukan untuk menurunkan risiko kekambuhan,” ujarnya.