Tak Hanya Indonesia, Nyamuk Wolbachia Cegah DBD juga Diterapkan di Negara ASEAN

Husna Rahmayunita, Dini Afrianti Efendi

Jum'at, 13 Februari 2026 | 16:21 WIB
Tak Hanya Indonesia, Nyamuk Wolbachia Cegah DBD juga Diterapkan di Negara ASEAN
Ilustrasi nyamuk Wolbachia. [Ist]
baca 10 detik
  • Teknologi nyamuk Wolbachia terbukti efektif menurunkan kasus DBD di wilayah intervensi.
  • Negara ASEAN berkolaborasi gunakan Wolbachia dan vaksinasi hadapi tantangan perubahan iklim.
  • Bakteri Wolbachia alami mampu memblokir virus dengue berkembang di tubuh nyamuk.

Suara.com - Program nyamuk Wolbachia untuk pengendalian demam berdarah dengue (DBD) tidak hanya diterapkan di Indonesia, tetapi juga di sejumlah negara ASEAN yang masih berperang melawan dengue.

Kepala Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan, Prof. Asnawi Abdullah, Ph.D, mengatakan meski Indonesia belum berhasil mencapai nol kasus, inovasi nyamuk Wolbachia terbukti membantu menurunkan kasus dengue pada 2025 di beberapa wilayah yang mendapat intervensi.

"Penurunan angka kasus dengue hingga ke angka 57 per 100.000 penduduk pada 2025 bukanlah sebuah kebetulan. Ini adalah hasil nyata dari pergeseran strategi kita yang lebih proaktif dan adaptif terhadap perubahan iklim, terutama melalui perluasan teknologi Wolbachia dan penguatan cakupan vaksinasi," ujar Prof. Asnawi dalam forum regional pencegahan dan pengendalian dengue pada negara ASEAN di Jakarta, Selasa (13/2/2026).

Prof. Asnawi juga mengingatkan bahwa nyamuk Aedes aegypti tidak mengenal batas negara sehingga dapat berpindah mengikuti mobilitas manusia. Ditambah lagi, pencegahan dengue kini semakin menantang akibat perubahan iklim yang memengaruhi cuaca.

Karena itu, menurutnya, kekompakan negara-negara ASEAN penting dalam melawan dengue. Ia menekankan perlindungan masyarakat dapat tetap maksimal melalui inovasi seperti teknologi Wolbachia dan pemberian vaksin.

“Nyamuk itu tidak butuh paspor untuk pindah-pindah negara, jadi kita di ASEAN harus kompak melawannya. Kita memang tidak bisa mengatur cuaca atau menghentikan El Niño, tetapi kita bisa melindungi warga dengan cara-cara yang lebih cerdas, seperti menggunakan teknologi nyamuk Wolbachia dan memperluas vaksinasi,” papar Asnawi.

Di sisi lain, Direktur Penyakit Menular Kementerian Kesehatan, Prima Yosephine, mengatakan teknologi nyamuk Wolbachia menjadi salah satu cara untuk mengontrol lingkungan dari sisi vektor nyamuk. Cara kerjanya disebut menyerupai vaksin yang diberikan pada nyamuk Aedes aegypti agar tidak lagi membawa virus dengue.

"Kita harus mengontrol lingkungannya, vektor nyamuknya, dan manusianya melalui vaksin. Ketiganya harus berjalan bersamaan secara komprehensif. Jangan sampai kita bicara vaksin, tetapi lingkungannya dibiarkan kumuh," ungkap Prima di acara yang sama.

Perlu diketahui, Wolbachia adalah bakteri yang sangat umum dan muncul secara alami pada sekitar 50 persen spesies serangga, termasuk beberapa nyamuk, lalat buah, ngengat, capung, dan kupu-kupu.

baca juga

Bakteri ini mampu memblokir virus seperti dengue, chikungunya, dan Zika agar tidak berkembang di dalam tubuh nyamuk Aedes aegypti.

Program nyamuk Wolbachia di Indonesia sendiri telah berjalan di lima kota. Hasil evaluasi penurunan kasus dengue di wilayah tersebut rencananya akan menjadi dasar perluasan program secara bertahap ke 20 hingga 100 kota di Indonesia.

Efektivitas nyamuk Wolbachia menjadi salah satu pembahasan dalam Forum Regional: Mendorong Aksi Kolektif dalam Pencegahan dan Pengendalian Dengue di Kawasan ASEAN/Asia Tenggara pada 9–10 Februari 2026.

Forum yang diselenggarakan Kementerian Kesehatan RI bersama Koalisi Bersama (KOBAR) Lawan Dengue ini dihadiri sekitar 150 peserta dan panelis yang terdiri dari pembuat kebijakan, otoritas kesehatan, organisasi regional dan global, komunitas ilmiah, serta mitra pembangunan dari negara-negara ASEAN, termasuk perwakilan 10 dari 11 negara anggota.

Adapun sejak Januari hingga Maret 2025, lebih dari 1,4 juta kasus dengue dan lebih dari 400 kematian dilaporkan di 53 negara dan teritori dalam wilayah WHO. Secara global, lebih dari 3,9 miliar orang berisiko terinfeksi dengue, dengan estimasi sekitar 390 juta infeksi setiap tahun, di mana sekitar 96 juta kasus bersifat klinis.

WHO mencatat dengue kini menjadi salah satu penyakit tular vektor dengan pertumbuhan tercepat di dunia, dengan kawasan Asia Pasifik sebagai kontributor kasus terbesar.

Di sisi lain, kawasan ASEAN telah lama diakui sebagai episentrum global penularan dengue, dengan banyak negara anggota menghadapi wabah siklikal dan kondisi endemis yang berkelanjutan.

Data European Centre for Disease Prevention and Control (ECDC) menunjukkan hampir 400.000 kasus dengue dilaporkan di Asia Tenggara sejak awal 2025 hingga Oktober–November 2025. Vietnam mencatat jumlah kasus tertinggi, diikuti Indonesia, Thailand, Malaysia, Laos, dan Singapura.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Perubahan Iklim Bikin Nyamuk DBD Makin Ganas, Dokter: Kini Bisa Berulang 2 Tahunan

Perubahan Iklim Bikin Nyamuk DBD Makin Ganas, Dokter: Kini Bisa Berulang 2 Tahunan

Health | Sabtu, 07 Februari 2026 | 17:15 WIB

Waspada! Kasus DBD di Jakarta Mulai Merayap Naik di Awal 2026

Waspada! Kasus DBD di Jakarta Mulai Merayap Naik di Awal 2026

News | Selasa, 20 Januari 2026 | 19:05 WIB

Data BPJS Ungkap Kasus DBD 4 Kali Lebih Tinggi dari Laporan Kemenkes, Ada Apa?

Data BPJS Ungkap Kasus DBD 4 Kali Lebih Tinggi dari Laporan Kemenkes, Ada Apa?

Health | Sabtu, 08 November 2025 | 07:54 WIB

Terkini

Mobil Listrik Tak Cuma Soal Teknologi, GAC Bawa AION UT Urban ke GIIAS Semarang 2026

Mobil Listrik Tak Cuma Soal Teknologi, GAC Bawa AION UT Urban ke GIIAS Semarang 2026

Jawa Tengah | Kamis, 01 Oktober 2026 | 12:21 WIB

Apakah Tempe Harus Dimasukkan Kulkas? Begini Faktanya!

Apakah Tempe Harus Dimasukkan Kulkas? Begini Faktanya!

Lifestyle | Kamis, 01 Oktober 2026 | 12:21 WIB

Manga World Trigger Kembali Hiatus, Cuaca Pengaruhi Kondisi Ashihara

Manga World Trigger Kembali Hiatus, Cuaca Pengaruhi Kondisi Ashihara

Your Say | Kamis, 01 Oktober 2026 | 12:20 WIB

Seharian di Jogja Cuma Modal Rp100 Ribu, Bisa ke Mana Saja?

Seharian di Jogja Cuma Modal Rp100 Ribu, Bisa ke Mana Saja?

Lifestyle | Kamis, 01 Oktober 2026 | 12:19 WIB

Kesthuri Siapkan Rp15 Juta untuk Pejabat Kemenag Usai Dibantu dalam Urusan Haji 2024

Kesthuri Siapkan Rp15 Juta untuk Pejabat Kemenag Usai Dibantu dalam Urusan Haji 2024

News | Kamis, 01 Oktober 2026 | 12:19 WIB

Drama Kill It Mengungkap Kisah Tragis Anak-Anak Bernomor di Panti Asuhan

Drama Kill It Mengungkap Kisah Tragis Anak-Anak Bernomor di Panti Asuhan

Your Say | Kamis, 01 Oktober 2026 | 12:15 WIB

Apa Beda Emina Sunscreen Water dan Airy UV Gel? Intip Klaim 2 Variannya

Apa Beda Emina Sunscreen Water dan Airy UV Gel? Intip Klaim 2 Variannya

Lifestyle | Kamis, 01 Oktober 2026 | 12:15 WIB

Mangkir 102 Hari saat Wamil, Song Min-ho WINNER Divonis Hukuman Percobaan

Mangkir 102 Hari saat Wamil, Song Min-ho WINNER Divonis Hukuman Percobaan

Your Say | Kamis, 01 Oktober 2026 | 12:15 WIB

7 Parfum Citrus Bergamot Lokal yang Wangi Tanpa Bikin Pusing saat Cuaca Panas Terik

7 Parfum Citrus Bergamot Lokal yang Wangi Tanpa Bikin Pusing saat Cuaca Panas Terik

Lifestyle | Kamis, 01 Oktober 2026 | 12:14 WIB

Jaksa KPK Tunjukkan Uang Sitaan Hampir Rp11 Miliar dalam Sidang Kasus Haji: Bapak Kenal?

Jaksa KPK Tunjukkan Uang Sitaan Hampir Rp11 Miliar dalam Sidang Kasus Haji: Bapak Kenal?

News | Kamis, 01 Oktober 2026 | 12:13 WIB

×