Suara.com - Unik, Ada Gatotkaca Bagikan Masker dan Lindungi Warga dari Corona
Belum lama ini, Indonesia dihebohkan dengan aksi sebagian warga yang memakai kostum pocong untuk menjaga agar warga tidak keluar rumah saat virus corona Covid-19 merajalela.
Kini di Sukoharjo, Jawa Tengah selain mendatangkan superhero internasional seperti spiderman dan superman, seorang relawan juga mengenakan kostum superhero lokal Gatotkaca, yang mengingatkan warga untuk tidak lupa memakai masker, cuci tangan, dan tetap berhati-hati.
Diwartakan laman reuters, Selasa (5/5/2020) ketiga superhero ini membagikan masker, handsanitizer, sambil menunjukkan bagaimana cara mencuci tangan dengan benar. Mereka juga menggunakan masker dan menjaga keamanaan rumah penduduk sekitar dari pencurian.
"(Jika) pahlawan super ikut terlibat, maka anak-anak pasti akan mematuhi perintah," ujar Widnarko selaku koordinator acara untuk mengedukasi warga.
"Pertama, cuci tangan mereka, kedua tidak berpergian keluar rumah jika dirasa tidak terlalu penting, dan selalu memakai masker," sambung Widnarko.
Orang-orang juga bisa memanfaatkan pentungan bambu, yang akan mengeluarkan suara kepada orang sekitar agar mereka terhindar dari kejahatan perampokkan. Pentungan bambu ini juga dibagikan para superhero kepada warga.
![Petugas kepolisian berpakaian superhero menyemprotkan cairan disinfektan di Jalan Panglima Sudirman kawasan Kebonagung, Pasuruan, Jawa Timur, Kamis (9/4). [ANTARA FOTO/Umarul Faruq]](https://media.suara.com/pictures/original/2020/04/10/17445-superhero-semprotkan-cairan-disinfektan.jpg)
Herni Kurniawati menyambut baik upaya Widnarko dan rekan-rekannya. Ia percaya jika aksi ini akan berbuah manis mendorong warga untuk merubah kebiasaan buruk mereka dan bisa melindungi diri mereka sendiri.
"Biasanya sangat sulit mengajarkan anak-anak untuk memakai masker karena terlalu merepotkan," kata Herni.
Sementara itu di Indonesia sudah melaporkan sebanyak lebih dari 11.000 kasus positif Covid-19. Adapun total kematian lebih dari 800 korban jiwa. Meski pada awalnya penanganan cukup lamban, namun Indonesia sudah mulai memperbanyak pengetesan.
Keterlambatan penanganan ini membuat para pakar medis memperkirakan, temuan kasus bisa lebih banyak dari data yang terlihat, dan pemutusan rantai penularan menjadi sangat sulit.