Studi: Kemampuan Jalan Kaki Lambat Terkait Risiko Covid-19 Lebih Tinggi

Selasa, 16 Maret 2021 | 17:43 WIB
Studi: Kemampuan Jalan Kaki Lambat Terkait Risiko Covid-19 Lebih Tinggi
Ilustrasi Covid-19 (Foto: Antara)

Suara.com - Orang yang memiliki kemampuan jalan lambat hampir empat kali lebih mungkin meninggal karena Covid-19. Mereka juga memiliki risiko dua kali lipat lebih tinggi mengalami Covid-19 parah. Hal ini dinyatakan oleh tim peneliti dari National Institute for Health Research (NIHR) Leicester Biomedical Research Center.

Melansir dari Medical Xpress, studi terhadap 412.596 peserta paruh baya Biobank Inggris ini memeriksa hubungan relatif indeks massa tubuh (BMI) dan kecepatan berjalan dengan risiko infeksi Covid-19, penyakit parah, dan kematian Covid-19.

Analisis menemukan pejalan lambat dengan berat badan normal hampir 2,5 kali lebih mungkin untuk mengembangkan Covid-19 parah dan 3,75 kali lebih mungkin meninggal karena virus daripada pejalan cepat dengan berat badan normal.

"Kami sudah tahu bahwa obesitas dan kelemahan adalah faktor risiko utama untuk hasil Covid-19. Ini adalah studi pertama yang menunjukkan bahwa pejalan kaki lambat memiliki risiko yang jauh lebih tinggi untuk tertular Covid-19 yang lebih parah, terlepas dari berat badan mereka," ujar pemimpin penelitian, Profesor Tom Yates di Universitas Leicester.

"Dengan pandemi yang terus membebani layanan perawatan kesehatan dan masyarakat, mengidentifikasi individu dengan risiko terbesar menjadi tindakan yang penting," imbuhnya.

Temuan kunci lebih lanjut dari penelitian ini menunjukkan bahwa pejalan kaki lambat dengan berat badan normal lebih berisiko mengalami kematian atau keparahan Covid-19 daripada pejalan kaki cepat dengan obesitas.

“Pejalan cepat telah terbukti secara umum memiliki kesehatan jantung yang baik, ini membuat mereka lebih tahan terhadap stresor eksternal termasuk infeksi virus tetapi hipotesis ini belum ditetapkan untuk penyakit menular," kata Profesor Yates.

"Menurut saya, penelitian kesehatan masyarakat dan pengawasan penelitian yang sedang berlangsung harus mempertimbangkan untuk memasukkan ukuran sederhana dari kebugaran fisik seperti kecepatan berjalan yang dilaporkan  sebagai prediktor risiko potensial infeksi Covid-19 yang pada akhirnya dapat memungkinkan metode pencegahan lebih baik dan menyelamatkan nyawa," imbuhanya.

Baca Juga: Vaksinasi Covid-19 di Bulan Ramadan, MUI Padang: Belum Ada Fatwa

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Tua Usia Kulitmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Apa Mobil yang Cocok untuk Introvert, Ambivert dan Ekstrovert?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Tahu Kamu Detail Sejarah Isra Miraj?
Ikuti Kuisnya ➔
POLLING: 'Mens Rea' Pandji Pragiwaksono, Apa Layak Dilaporkan Polisi?
Ikuti Kuisnya ➔
Cek Prediksi Keuangan Kamu Tahun Depan: Akan Lebih Cemerlang atau Makin Horor?
Ikuti Kuisnya ➔
POLLING: Kamu di 2026 Siap Glow Up atau Sudah Saatnya Villain Era?
Ikuti Kuisnya ➔
POLLING: Bagaimana Prediksimu untuk Tahun 2026? Lebih Baik atau Lebih Suram?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Trivia Natal: Uji Pengetahuan Anda Tentang Tradisi Natal di Berbagai Negara
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Kepribadian: Siapa Karakter Ikonik Natal dalam Dirimu?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mitos vs Fakta Sampah: Cara Cerdas Jadi Pahlawan Kebersihan Lingkungan
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Sejarah Otomotif: Siapa Penemu Mobil Pertama di Dunia?
Ikuti Kuisnya ➔
×
Zoomed

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI