alexametrics

Pangeran Harry Bertekad Memutus Siklus Trauma

Yasinta Rahmawati | Rosiana Chozanah
Pangeran Harry Bertekad Memutus Siklus Trauma
Pangeran Harry. (Instagram/@sussexroyal)

Pangeran Harry ingin memastikan siklus trauma tersebut berhenti pada dirinya.

Suara.com - Pangeran Harry, Duke of Sussex, berbicara tentang rasa sakit dan penderitaan genetik yang menurutnya diturunkan dalam keluarganya dalam episode podcast "Armchair Expert" baru-baru ini.

Suami dari Meghan Markle ini mengatakan kepada host podcast, Dax Shepard dan Monica Padman, bahwa ia ingin memastikan siklus trauma tersebut berhenti pada dirinya.

"Saya pikir kita tidak harus menyalahkan atau menuduh siapa pun, tetapi yang pasti, dalam hal mengasuh anak jika saya pernah mengalami suatu bentuk rasa sakit atau penderitaan akibat rasa sakit, atau penderitaan yang mungkin dialami ayah atau kedua orang tua saya... Saya akan memastikan saya memutus siklus itu agar saya tidak menurunkannya," katanya.

Menurut Insider, trauma memang dapat diturunkan dengan berbagai cara, misalnya dari cara orangtua membesarkan anaknya hingga ekspresi kode genetik.

Baca Juga: Mobil Terbalik Akibat Diseruduk Avanza, Sopir Fortuner Trauma

Meski pengalaman traumatis tidak dapat mengubah DNA, pengalaman tersebut dapat 'menghidupkan' dan 'mematikan' gen, dan efek tersebut dapat menurun ke generasi selanjutnya.

Pangeran Harry kekinian (kiri) dan Pangeran Harry saat masih kecil dan berada dalam gendongan Putri Diana (kanan). [Daily Express]
Pangeran Harry kekinian (kiri) dan Pangeran Harry saat masih kecil dan berada dalam gendongan Putri Diana (kanan). [Daily Express]

Trauma dapat mengubah ekspersi gen lintas generasi

Berdasarkan ilmu pewarisan epigenetik, apa yang Anda makan, tempat tinggal Anda, dan stres yang Anda alami, semuanya dapat memicu perubahan pada generasi selanjutnya.

Epigenetik mengacu pada pengaruh faktor lingkungan terhadap ekspresi gen. Para ilmuwan sekarang mempelajari manusia dan hewan untuk menentukan bagaimana pengaruh epigenetik dapat diturunkan melalui beberapa generasi.

Dalam sebuah penelitian terhadap tikus yang dipisahkan dari induknya, efek trauma dari kejadian tersebut dapat diamati dalam perilaku keturunan lima generasi. Tikus tersebut bertindak depresi, antisosial, dan mengambil lebih banyak risiko.

Baca Juga: Sedang Terapi Trauma, 11 Anak Palestina Jadi Korban Serangan Israel

Mempelajari trauma pada manusia lebih rumit, tetapi para peneliti telah menganalisis keturunan tentara yang ditahan di basecamp tahanan selama Perang Saudara Amerika Serikat.

Komentar