Studi: Penyintas Covid-19 Berisiko Alami Perubahan Kognitif dan Perilaku

Kamis, 24 Juni 2021 | 15:35 WIB
Studi: Penyintas Covid-19 Berisiko Alami Perubahan Kognitif dan Perilaku
Ilustrasi Covid-19. (Andrea Piacquadio/Pexels)

Suara.com - Mantan pasien Covid-19 disebut berisiko mengalami masalah kognitif dan perilaku dua bulan setelah keluar dari rumah sakit. Penelitian ini telah dipresentasikan pada Kongres ke-7 Akademi Neurologi Eropa (EAN).

Melansir dari Healthshots, masalah dengan memori, kesadaran spasial, dan masalah pemrosesan informasi diidentifikasi sebagai kemungkinan overhang dari virus pada mantan pasien Covid-19.  Penelitian ini juga menemukan bahwa satu dari 5 pasien melaporkan gangguan stres pasca-trauma (PTSD), dengan 16 persen menunjukkan gejala depresi.

Penelitian yang dilakukan di Italia ini melibatkan pengujian kemampuan neurokognitif dan pemindaian otak MRI pasien dua bulan setelah mengalami gejala Covid-19.

Lebih dari 50 persen pasien mengalami gangguan kognitif, 16 persen memiliki masalah dengan fungsi eksekutif (mengatur memori kerja, pemikiran fleksibel, dan pemrosesan informasi), 6 persen mengalami masalah visuospasial (kesulitan menilai kedalaman dan melihat kontras). Sementara 6 persen memiliki gangguan memori dan 25 persen mengalami kombinasi dari semua gejala ini.

Masalah kognitif dan psikopatologis jauh lebih buruk pada orang yang lebih muda dengan mayoritas pasien berusia di bawah 50 tahun menunjukkan masalah dengan fungsi eksekutif.

Ilustrasi Covid-19. (Elements Envato)
Ilustrasi Covid-19. (Elements Envato)


Selain itu, pengamatan longitudinal dari kohort yang sama pada 10 bulan dari Covid-19 mulai ada pengurangan gangguan kognitif dari 53 menjadi 36 persen, tetapi tetap ada PTSD dan gejala depresi.

“Studi kami telah mengkonfirmasi masalah kognitif dan perilaku yang signifikan terkait dengan Covid-19 dan bertahan selama beberapa bulan setelah sembuh dari penyakitnya,” ujar penulis utama studi tersebut, Prof. Massimo Filippi, dari Scientific Institute dan University Vita-Salute San Raffaele, Milan, Italia.

 Penelitian ini menunjukkan bahwa tidak ada hubungan signifikan yang diamati antara kinerja kognitif dan volume otak dalam penelitian ini.

Baca Juga: Darurat Covid-19, Pemerintah dan Perusahaan Harus Jamin Keselamatan Jurnalis

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Kamu Ekstrovert, Introvert, Ambivert, atau Otrovert?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Cocok Kamu Jadi Orang Kaya? Tebak Logo Merek Branded Ini
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: iPhone Seri Berapa yang Layak Dibeli Sesuai Gajimu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Andai Kamu Gabung Kabinet, Cocoknya Jadi Menteri Apa?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kamu Masuk ke Dunia Disney Tanpa Google, Bisakah Selamat?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kalau Hidupmu Diangkat ke Layar Lebar, Genre Film Apa yang Cocok?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kira-Kira Cara Kerjamu Mirip dengan Presiden RI ke Berapa?
Ikuti Kuisnya ➔
Checklist Mobil Bekas: 30 Pertanyaan Pemandu pas Cek Unit Mandiri, Penentu Layak Beli atau Tidak
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Mental Health Check-in, Kamu Lagi di Fase Apa?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pilih Jenis Motor Favorit untuk Tahu Gaya Pertemanan Kamu di Jalanan
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Gibran Rakabuming Raka?
Ikuti Kuisnya ➔
×
Zoomed

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI