Swab antigen bertujuan untuk mencari protein yang terdapat di permukaan virus.
Walaupun belum seakurat tes PCR, tetapi para peneliti mengatakan bahwa rapid test antigen dapat digunakan untuk menentukan pasien mana yang mengalami infeksi.
Rapid Test antigen juga bisa mendeteksi virus secara langsung dan lebih cepat dibandingkan dengan PCR.
Cara Kerja
Virus corona yang masuk ke dalam tubuh akan terdeteksi sebagai antigen (benda asing) oleh sistem imunitas. Antigen inilah yang dapat dideteksi melalui tes antigen.
Tes antigen mengambil sampel dari dalam hidung dengan metode swab. Hasilnya pun bisa langsung dilihat dalam waktu 10-15 menit sejak tes dilakukan.
Tingkat Akurasi
Tes antigen memiliki sensitivitas maksimal 94 persen dan spesifisitas sebesar lebih dari 97 persen. Namun, risiko untuk negatif palsu atau false negative cukup tinggi.
Biasanya, dokter akan menyarankan pasien untuk tetap melakukan tes PCR setelah tes antigen. Apalagi untuk pasien yang hasilnya negatif, padahal memiliki gejala terpapar Covid-19.

Rapid test antibodi merupakan jenis tes Covid-19 yang paling awal muncul. Namun sayangnya, tes ini memiliki tingkat akurasi yang rendah dalam mendeteksi keberadaan virus corona di dalam tubuh.
Hasil pemeriksaan tes antibodi dibaca sebagai reaktif (positif) dan nonreaktif (negatif).
Cara Kerja
Tes antibodi dilakukan melalui pengambilan sampel darah dari tubuh pasien. Perlengkapan rapid test akan mengenali antibodi dalam sampel tersebut.
Antibodi ini merupakan protein yang dibentuk sebagai perlindungan tubuh saat terinfeksi virus corona.
Tingkat Akurasi
Tingkat akurasi dari tes antibodi tergolong rendah jika dibandingkan dengan PCR atau antigen.
Tes antibodi berisiko tidak akurat bila dilakukan pada yang belum pernah terinfeksi virus corona.
Apalagi, tiap orang bisa memberi respon antibodi yang berbeda-beda saat terinfeksi.
![Calon penumpang meniup kantong nafas saat mengikuti tes deteksi COVID-19 dengan metode Gajah Mada Electric Nose COVID-19 (GeNose C19) di Stasiun Gambir, Jakarta, Rabu (24/3/2021). [Suara.com/Angga Budhiyanto]](https://media.suara.com/pictures/original/2021/03/24/70865-tarif-tes-genose-naik-jadi-rp30-ribu.jpg)
Tes GeNose awalnya dilakukan sebagai syarat untuk bepergian dengan kereta api. GeNose merupakan hasil inovasi dari tim peneliti Universitas Gadjah Mada (UGM).
Cara Kerja
GeNose memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) dalam membedakan pola senyawa yang didekteksi lewat hembusan napas.
Orang yang dites akan diminta untuk menghembuskan napas di kantung khusus.
Sebelum melakukan tes, pasien juga diminta untuk tidak merokok, puasa, dan tidak mengonsumsi makanan atau minuman yang berbau khas selama kurang lebih 30-60 menit sebelum tes dilakukan.
Tingkat Akurasi
Akurasi GeNose diklaim sebesar 93-95 persen, dibandingkan dengan tes PCR atau antigen. Hasilnya pun bisa diketahui lebih cepat kurang lebih 3 menit.
Apabila pasien dinyatakan positif dari satu kali kantung napas, maka diduga kuat terinfeksi Covid-19. Sama seperti tes antigen, setelah tes GeNose dokter biasanya akan menyarankan pasien untuk tes PCR.