alexametrics

Seks Anal Lebih Meningkatkan Penularan HIV, Begini Penjelasannya

Yasinta Rahmawati | Rosiana Chozanah
Seks Anal Lebih Meningkatkan Penularan HIV, Begini Penjelasannya
Ilustrasi HIV/AIDS [Yayasan AIDS Indonesia]

Topik seks anal sedang banyak diperbincangkan, ketahui dampaknya terkait HIV!

Suara.com - Topik seks anal ramai diperbincangkan setelah istri siri ayah Taqy Malik, Marlina Octoria Kawuwung, secara terang-terangan mengungkap bahwa Mansyardin Malik pernah memaksanya berhubungan seks anal saat dirinya menstruasi.

Pemaksaan berhubungan seks anal yang dilakukan sebanyak enam kali itu menyebabkan Marlina mengalami cedera hingga stadium empat.

Seks anal merupakan praktik dengan memasukkan penis, jari, atau benda asing seperti vibrator ke dalam anus demi mendapatkan kenikmatan seksual.

Marlina Octoria Kawuwung dan kuasa hukumnya saat menunjukkan bukti dinikahi ayah Taqy Malik. [Suara.com/Yuliani]
Marlina Octoria Kawuwung dan kuasa hukumnya saat menunjukkan bukti dinikahi ayah Taqy Malik. [Suara.com/Yuliani]

Ada berbagai macam risiko dari seks anal, salah satunya terinfeksi Human Immunodeficiency Virus atau HIV.

Baca Juga: Sering Tak Sengaja Kencing saat Hubungan Seks? Begini 4 Cara Mengatasinya!

Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC), seks anal merupakan jenis seks paling berisiko dalam menulari atau tertular HIV, 18 kali lebih besar daripada seks vaginal.

Ini terjadi apabila melakukan hubungan seks anal bersama pengidap tanpa menggunakan pelindung.

Alasan seks anal sangat meningkatkan risiko penularan HIV, melansir Verywell Health:

  • Tipisnya jaringan dubur, memungkinkan virus mengakses langsung ke aliran darah melalui robekan kecil atau lecet.
  • Tingginya konsentrasi HIV dalam air mani dan cairan pra-mani (pre-cum) dapat melipatgandakan risiko infeksi.
  • Pada pengidap HIV, seluruh selaput lendir di dalam tubuh mengandung HIV, tak terkecuali dalam cairan di dubur yang dihasilkan oleh selaput lendir rektum.
Ilustrasi berhubungan intim. (Shutterstock)
Ilustrasi berhubungan intim. (Shutterstock)

Bahkan, ada penelitian menunjukkan jumlah rata-rata virus di dalam cairan dubur lebih tinggi daripada di air mani. Mengapa? Sebab, sebagian besar sel kekebalan, termasuk yang menjadi target utama HIV, terletak di selaput lendir saluran pencernaan termasuk rektum.

Menjadi pasangan reseptif (yang berada di bawah/bottom) lebih berisiko terkena HIV daripada pasangan insertif (berada di atas/top).

Baca Juga: Sederet Fakta Ayah Taqy Malik, Dikabarkan Seks Menyimpang

Risiko penularan semakin meningkat jika pasangan insertif tidak disunat.

Komentar