Cegah Dampak Buruk COVID-19 Varian Omicron, Vaksinasi Wajib Dipercepat

M. Reza Sulaiman Suara.Com
Rabu, 01 Desember 2021 | 18:22 WIB
Cegah Dampak Buruk COVID-19 Varian Omicron, Vaksinasi Wajib Dipercepat
Omicron. (Dok. Envato)

Suara.com - COVID-19 varian Omicron mengancam kesehatan masyarakat dunia, termasuk Indonesia. Apa yang bisa dilkaukan untuk mencegah dampak buruknya?

Menurut Juru Bicara Vaksin COVID-19 dari Kementerian Kesehatan Siti Nadia Tarmidzi, cara terbaik mencegah dampak varian Omicron adalah dengan mempercepat laju vaksinasi COVID-19. Sebabm diyakini, varian Omicron lebih menular dibandingkan varian virus sebelumnya.

"Percepatan harus kita lakukan, apalagi kalau ada varian Omicron," kata Nadia dalam diskusi daring mengenai vaksinasi yang dipantau di Jakarta.

Dia menerangkan perkembangan vaksin COVID-19 di Indonesia yaitu dosis pertama mencapai 66,8 persen, sedangkan cakupan vaksinasi dosis kedua 45,6 persen. Untuk vaksinasi kelompok lansia dosis pertama 52 persen, sementara vaksinasi lansia dosis kedua baru 34 persen.

Vaksinator menyuntikkan vaksin COVID-19 kepada warga di RPTRA Taman Mandala, Tebet, Jakarta, Senin (29/11/2021). [Suara.com/Angga Budhiyanto]
Vaksinator menyuntikkan vaksin COVID-19 kepada warga di RPTRA Taman Mandala, Tebet, Jakarta, Senin (29/11/2021). [Suara.com/Angga Budhiyanto]

Nadia menerangkan cakupan vaksinasi COVID-19 masih terjadi ketimpangan jika dilihat dari sebarannya. Dia menyebut saat ini baru ada lima provinsi yang cakupan vaksinasi lansianya sudah di atas 60 persen yaitu DKI Jakarta, Bali, Yogyakarta, Kepulauan Riau, dan Jawa Tengah.

Menurut Nadia, vaksinasi kelompok lansia inilah yang perlu dikebut karena kelompok lansia merupakan yang paling rentan apabila terinfeksi COVID-19. Angka kematian kasus COVID-19 pada lansia lebih tinggi empat kali lipat dibandingkan dengan kasus kematian pada kelompok usia muda.

Nadia mengatakan pemerintah menargetkan vaksinasi dosis pertama mencapai 77 persen pada akhir Desember 2021, sedangkan target 55 persen untuk cakupan vaksinasi dosis kedua secara nasional.

"Tapi harapannya kalau kita bisa sama-sama percepat sedikit, maka dosis satu bisa 80 persen, dosis kedua bisa 60 persen," kata Nadia.

Nadia juga mencatat bahwa sebagian besar wilayah Indonesia belum banyak menggunakan vaksin non Sinovac. Menurutnya hal itu dikarenakan banyaknya masyarakat yang merasa takut akan efek samping terhadap vaksin di luar Sinovac. [ANTARA]

Baca Juga: Antisipasi Virus Omicron, Singapura Bersiap Lakukan Vaksin Booster

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Pilih Satu Warna, Ternyata Ini Kepribadianmu Menurut Psikologi
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 16 Soal Bahasa Indonesia untuk Kelas 9 SMP Beserta Kunci Jawaban
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Cek Chemistry, Kalian Tipe Pasangan Apa dan Cocoknya Kencan di Mana Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Cek Jodoh Motor, Kuda Besi Mana yang Paling Pas Buat Gaya Hidup Lo?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Jika Kamu adalah Mobil, Kepribadianmu seperti Merek Apa?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Love Language Apa yang Paling Menggambarkan Dirimu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Tahu Kalian Tentang Game of Thrones? Ada Karakter Kejutan dari Prekuelnya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kalau Masalah Hidupmu Diangkat Jadi Film Indonesia, Judul Apa Paling Cocok?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Satu Frekuensi Selera Musikmu dengan Pasangan?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA Kelas 12 SMA Soal Matematika dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 15 Soal Bahasa Inggris Kelas 9 SMP dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
×
Zoomed

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI