facebook

Keseringan Makan Daging Turunkan Tingkat Kesuburan Pria, Kok Bisa? Begini Penjelasan Para Ahli

Arendya Nariswari | Shevinna Putti Anggraeni
Keseringan Makan Daging Turunkan Tingkat Kesuburan Pria, Kok Bisa? Begini Penjelasan Para Ahli
Ilustrasi daging (pixabay) / tomwieden.

Pria yang terlalu banyak konsumsi daging memiliki tingkat kesuburan yang lebih rendah.

Suara.com - Sebuah penelitian menemukan pria yang mengonsumsi terlalu banyak daging lebih berisiko tidak subur.

Para ahli memperingatkan orang yang berencana memiliki keturunan harus memastikan bahwa mereka tidak terlalu banyak makan daging ayam, sapi dan domba.

Penelitian yang dilakukan di University of Worcester, menemukan diet tinggi protein atau terlalu banyak konsumsi daging menurunkan testosteron pria hingga 37 persen.

Para pria, kondisi ini bisa menyebabkan testosteron rendah secara medis atau hipogonadisme.

Baca Juga: Ahli Temukan Hubungan Infeksi Virus Corona Covid-19 Ringan dan Risiko Diabetes

Joe Whittaker, seorang ahli gizi, mengatakan tingkat testosteron yang rendah menyebabkan jumlah sperma rendah, yang merupakan penentu utama kesuburan pria.

Ilustrasi daging (pexels.com) / Rachel Claire.
Ilustrasi daging (pexels.com) / Rachel Claire.

Dalam penelitian kami, diet tinggi protein menyebabkan testosteron rendah. Jadi, sangat mungkin diet ini juga menyebabkan jumlah sperma rendah sehingga menurunkan tingkat kesuburan pria.

Testosteron rendah juga terkait dengan penyakit kronis seperti penyakit jantung, diabetes, dan Alzheimer.

Makalah dalam jurnal akademik Nutrition and Health, menggambarkan efeknya sebagai keracunan protein yang disebabkan oleh pemecahan protein menjadi amonia atau racun.

Hal ini menunjukkan bahwa tubuh mungkin terlalu sibuk mengatasi keracunan protein, sehingga menekan produksi testosteron.

Baca Juga: Daftar Makanan untuk Meningkatkan Kesuburan Wanita, Cocok Dikonsumsi Rutin bagi yang Ingin Cepat Hamil

"Ini akan memakan waktu 1 sampai 2 minggu untuk melihat tanda-tanda pertama keracunan protein, seperti mual, diare, dan testosteron rendah," jelas Mr Whittaker dikutip dari The Sun.

Pada penelitian tersebut, Whittaker dan rekan mengumpulkan hasil dari 27 penelitian yang melibatkan 309 pria.

Penelitian ini menemukan bahwa diet tinggi protein yang cenderung rendah karbohidrat bisa mempengaruhi testosteron dan meningkatkan kortisol.

Diet tinggi protein adalah diet di mana 35 persen kalori berasal dari protein, seperti daging, ikan, telur, susu, kacang-kacangan, dan kacang-kacangan.

Pada pria yang makan 2.500 kalori per hari, ini berarti mereka makan sekitar 865 kalori dalam protein.

Jumlah ini setara dengan tiga butir telur untuk sarapan (240kkal), dada ayam untuk makan siang (212kkal), dan 250g daging cincang saat makan malam (420kkal).

Komentar