Mengenal DSA, Metode Deteksi Sumbatan Pembuluh Darah Berisiko Stroke Hingga Serangan Jantung

Vania Rossa, Dini Afrianti Efendi

Sabtu, 02 Maret 2024 | 13:55 WIB
Mengenal DSA, Metode Deteksi Sumbatan Pembuluh Darah Berisiko Stroke Hingga Serangan Jantung
ilustrasi Sumbatan Pembuluh Darah (freepik.com/kjpargeter)

Suara.com - Sumbatan di pembuluh darah bisa memicu serangan jantung atau stroke bila terjadi pada otak. Kondisi ini bisa dideteksi dengan metode Digital Subtraction Angiography (DSA) untuk mencegah kondisi semakin parah dan bisa segera dapat penanganan medis. Apa itu metode DSA?

Dokter Spesialis Radiologi Konsultan Radiologi Intervensi RS Royal Progress, dr. Kevin Julius Tanady, Sp.Rad, Subsp.RI (K), menjelaskan DSA adalah salah satu teknologi medis untuk mendiagnosis kelainan kelainan pembuluh darah lebih jelas dan terstruktur.

Dengan begitu, dokter bisa melihat secara menyeluruh gambaran pembuluh darah pasien dan melihat berbagai sumbatan darah yang berisiko mengancam nyawa pasien. Ini karena apabila sumbatan terjadi di otak maka bisa memicu stroke, dan bila terjadi di jantung berisiko serangan jantung.

"DSA dapat dilakukan saat pasien membutuhkan penegakan diagnosa di beberapa kondisi seperti adanya kelainan atau gangguan antara arteri dan vena, diprediksi adanya penyakit pada pembuluh darah, termasuk penyumbatan atau penyempitan pada lumen (bagian dalam) arteri dan vena, pelebaran abnormal pada pembuluh darah (aneurisma), serta adanya tumor yang berasal dari pembuluh darah," ujar dr. Kevin melalui keterangan yang diterima suara.com, Sabtu (2/3/2024).

Dr. Kevin menjelaskan metode DSA merupakan salah satu tindakan minimal invasif atau tidak perlu tindakan pembedahan (operasi) dengan sayatan pisau bedah. Ini karena prosedur dilakukan dengan cara memasukkan kateter di area dekat paha. Kateter khusus ini, dokter akan menyuntikkan cairan kontras ke dalam bagian tubuh pasien yang akan diperiksa.

"Pasien akan lebih dulu dibaringkan pada meja pemeriksaan angiografi, mendapatkan pembiusan secara lokal ataupun bius total sesuai kondisi, sambil dipantau organ vitalnya oleh tim medis," papar dr. Kevin.

Dia melanjutkan, cairan kontras yang dimasukkan melalui kateter ini membuat dokter bisa mengevaluasi kondisi pembuluh darah. Pada tahap ini akan terlihat cairan yang melalui pembuluh darah, apakah mengalami sumbatan atau hambatan saat perjalanannya.

"Saat pemeriksaan dinyatakan selesai, dokter akan langsung melakukan hemostasis pada lokasi penyuntikan untuk menghentikan perdarahan. Setelah proses pemeriksaan selesai, pasien diharuskan beristirahat dengan posisi terlentang selama 4 hingga 6 jam. Tim medis akan melakukan pengamatan terhadap kondisi kesehatan pasien, khususnya komplikasi pada lokasi bekas suntikan," ujarnya.

Bukan hanya memeriksa adanya sumbatan pembuluh darah, melalui DSA ini dokter juga akan melihat dan mampu mendeteksi terjadinya komplikasi seperti pendarahan atau pembekuan darah yang dapat terjadi selama atau setelah tindakan vaskular. Dengan teknologi digital terkini, dosis radiasi dapat diatur sedemikian rupa untuk meminimalkan risiko paparan radiasi pada pasien.

baca juga

Kecanggihan teknologi medis ini jugalah yang membuat Direktur Utama Rumah Sakit Royal Progress, dr. Ivan R. Setiadarma, MM, memilih untuk membuka layanan pemeriksaan tersebut di rumah sakit yang dipimpinnya. Apalagi DSA bisa digunakan sebagai terapi pelengkap sebelum menjalani operasi, dengan cara memasukan obat, alat, maupun implan pada pembuluh yang dituju.

“Di layanan kesehatan rumah sakit ini, bukan hanya kami tunjukkan melalui kehadiran dokter spesialis dan subspesialis yang berkompeten di bidangnya, namun juga dari kemajuan teknologi layanan penunjang. Harapan kami, masyarakat sekitar khususnya mereka yang berdomisili di Jakarta Utara, bisa mendapatkan kemudahan akses pengobatan terbaik untuk menangani permasalahan pada pembuluh darah melalui inovasi DSA di rumah sakit kami,” papar dr. Ivan.

Selain untuk penggunaan di atas, DSA juga kerap digunakan mengevaluasi sistem pembuluh darah pada tumor kanker dan pemberian obat kemoterapi secara langsung ke sel tumor sehingga dapat meminimalisir timbulnya efek samping akibat obat kemoterapi. Yang tak kalah penting, DSA juga dapat memberikan panduan visual untuk prosedur intervensi, seperti angioplasti (pembalonan) dan pemasangan ring pembuluh darah.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Ribuan Warga Jakarta Masih Coblos Purwanto, Caleg DPRD dari Gerindra yang Sudah Meninggal

Ribuan Warga Jakarta Masih Coblos Purwanto, Caleg DPRD dari Gerindra yang Sudah Meninggal

Kotak Suara | Senin, 19 Februari 2024 | 15:54 WIB

Punya Faktor Risiko Penyakit Stroke-Kanker dari Keluarga, Ini yang Dilakukan Melanie Putria Untuk Jaga Kesehatan

Punya Faktor Risiko Penyakit Stroke-Kanker dari Keluarga, Ini yang Dilakukan Melanie Putria Untuk Jaga Kesehatan

Lifestyle | Rabu, 07 Februari 2024 | 11:02 WIB

Mendadak Pusing, Cermati Kegiatan Mengemudikan Kendaraan Umum

Mendadak Pusing, Cermati Kegiatan Mengemudikan Kendaraan Umum

Otomotif | Minggu, 28 Januari 2024 | 11:00 WIB

Terkini

WHO Sebut Pengobatan Gigi Jadi Beban Kesehatan Terbesar Ketiga Secara Global

WHO Sebut Pengobatan Gigi Jadi Beban Kesehatan Terbesar Ketiga Secara Global

Health | Senin, 22 Juni 2026 | 10:05 WIB

Tak Hanya Fisik, Polusi Udara Juga Mengancam Kesehatan Mental

Tak Hanya Fisik, Polusi Udara Juga Mengancam Kesehatan Mental

Health | Senin, 22 Juni 2026 | 10:00 WIB

Makin Banyak Anak Puber Sebelum Waktunya, Dokter Kandungan Waspada Gangguan Hormon!

Makin Banyak Anak Puber Sebelum Waktunya, Dokter Kandungan Waspada Gangguan Hormon!

Health | Minggu, 21 Juni 2026 | 10:41 WIB

Bukan Sekadar Haus, Ini Alasan Mengapa Air Putih Saja Tidak Cukup Saat Latihan Intens

Bukan Sekadar Haus, Ini Alasan Mengapa Air Putih Saja Tidak Cukup Saat Latihan Intens

Health | Sabtu, 20 Juni 2026 | 16:51 WIB

Informed Consent Bukan Sekadar Formalitas: Mengapa Dokter Wajib Bicara Langsung dengan Anda?

Informed Consent Bukan Sekadar Formalitas: Mengapa Dokter Wajib Bicara Langsung dengan Anda?

Health | Sabtu, 20 Juni 2026 | 16:03 WIB

Sering Dianggap Ganas, Padahal Sebagian Besar Tumor Otak Bersifat Jinak

Sering Dianggap Ganas, Padahal Sebagian Besar Tumor Otak Bersifat Jinak

Health | Sabtu, 20 Juni 2026 | 15:14 WIB

Kasus Dermatitis pada Bayi dan Anak Terus Meningkat, Ini Cara Cegah Eksim Si Kecil Kambuh

Kasus Dermatitis pada Bayi dan Anak Terus Meningkat, Ini Cara Cegah Eksim Si Kecil Kambuh

Health | Sabtu, 20 Juni 2026 | 09:45 WIB

Terapi Stem Cell Kian Berkembang, untuk Peremajaan Kulit hingga Pemulihan Cedera Sendi

Terapi Stem Cell Kian Berkembang, untuk Peremajaan Kulit hingga Pemulihan Cedera Sendi

Health | Jum'at, 19 Juni 2026 | 17:01 WIB

Mata Merah dan Buram Tak Boleh Dianggap Sepele, Bisa Jadi Tanda Kerusakan Kornea

Mata Merah dan Buram Tak Boleh Dianggap Sepele, Bisa Jadi Tanda Kerusakan Kornea

Health | Kamis, 18 Juni 2026 | 22:00 WIB

Kesehatan Penglihatan Tak Boleh Diabaikan, Ini Pentingnya Koreksi Refraksi yang Tepat

Kesehatan Penglihatan Tak Boleh Diabaikan, Ini Pentingnya Koreksi Refraksi yang Tepat

Health | Kamis, 18 Juni 2026 | 21:32 WIB