Sebelum Meninggal Dunia, Babe Cabita Pernah Dirawat karena Penyakit Langka

M. Reza Sulaiman | Suara.com

Selasa, 09 April 2024 | 08:57 WIB
Sebelum Meninggal Dunia, Babe Cabita Pernah Dirawat karena Penyakit Langka
Babe Cabita [Instagram]

Suara.com - Komika Babe Cabita meninggal dunia hari ini, Selasa (9/4/2024). Lelaki bernama asli Priya Prayoga Pratama Tanjung ini menghembuskan napas terakhir di rumah sakit kawasan Jakarta Selatan. Diketahui, Babe sebelumnya pernah dirawat karena mengidap penyakit langkap anemia aplastik.

"Innalillahi wa inna ilaihi Raji'un, telah meninggal, anak, ayah, adik, suami kami, Priya Prayogha Pratama bin Irsyad Tanjung (Babe Cabita)," demikian keterangan yang diunggah Kevin Kautsar di Instagram.

Riwayat kesehatan Babe Cabita pernah diungkap dalam tayangan Pagi Pagi Ambyar, September tahun lalu. Ia mengaku pernah mengalami demam tinggi hingga 42 derajat sampai mengalami halusinasi. Berdasarkan keterangan dokter, Babe Cabita mengalami penurunan HB dan leukosit.

"DBD kan cuma trombosit doang turun dan demamnya beberapa saat doang, kalau ini nggak turun-turun. Sudah gitu dokter mulai curiga kalau DBD turun cuma trombositnya saja, kalau aku semuanya turun, leukositnya turun sampai nol drop, HB sempat 6, trombosit setiap hari turun," jelas Babe Cabita.

Dokter kemudian mengambil sampel sumsum tulang belakang milik babe Cabita. Dari hasil pemeriksaan tersebut, dokter mengambil kesimpulan bahwa Babe Cabita mengidap penyakit langka yang juga bisa dibilang autoimun yakni anemia aplastik.

Melansir NIH, anemia aplastik adalah suatu gangguan pada sumsum tulang belakang yang mengakibatkan penurunan produksi sel darah. Hal ini disebabkan oleh gangguan pada sel-sel punca sumsum tulang belakang yang menyebabkan penurunan produksi sel darah merah, sel darah putih, dan trombosit.

Gejala yang mungkin muncul pada anemia aplastik antara lain:

  • Kelelahan yang berlebihan dan mudah lelah karena kurangnya sel darah merah untuk mengangkut oksigen ke seluruh tubuh.
  • Mudah memar dan berdarah karena kurangnya trombosit yang berperan dalam pembekuan darah.
  • Risiko infeksi yang meningkat karena kurangnya sel darah putih yang bertugas melawan infeksi.

Penyebab dari anemia aplastik bisa bervariasi, termasuk paparan bahan kimia tertentu, radiasi, infeksi virus, atau faktor genetik.

Pengobatan untuk anemia aplastik biasanya melibatkan transfusi darah untuk menggantikan sel darah yang kurang, serta terapi imunosupresif untuk menghambat respon sistem kekebalan tubuh yang mungkin merusak sumsum tulang belakang. Pilihan pengobatan lainnya mungkin termasuk transplantasi sumsum tulang belakang.

Dengan pemahaman lebih lanjut tentang penyakit ini dari berbagai sumber, diharapkan masyarakat dapat lebih waspada terhadap gejala yang muncul dan segera mendapatkan pengobatan yang tepat bila diperlukan.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pecahkan 10 Kasus Misterius Ini, Kamu Detektif atau Cuma Amatir?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA SD: 15 Soal Matematika Materi Pecahan Senilai Beserta Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Beserta Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Nyesek, Isi Permohonan Maaf Babe Cabita Sebelum Meninggal Dunia

Nyesek, Isi Permohonan Maaf Babe Cabita Sebelum Meninggal Dunia

Lifestyle | Selasa, 09 April 2024 | 08:32 WIB

Innalillahi, Babe Cabita Meninggal Dunia Hari Ini

Innalillahi, Babe Cabita Meninggal Dunia Hari Ini

Entertainment | Selasa, 09 April 2024 | 08:29 WIB

Ratusan Pegiat Lari Meriahkan Hari Penyakit Langka Sedunia 2024 Lewat "Social Run"

Ratusan Pegiat Lari Meriahkan Hari Penyakit Langka Sedunia 2024 Lewat "Social Run"

Lifestyle | Minggu, 10 Maret 2024 | 16:05 WIB

Terkini

Residu Obat Ditemukan di Sungai dan Danau, Begini Dampak Nyatanya

Residu Obat Ditemukan di Sungai dan Danau, Begini Dampak Nyatanya

Health | Selasa, 31 Maret 2026 | 18:10 WIB

Tak Perlu ke Luar Negeri, Indonesia Kini Perkuat Pengobatan Kanker Lewat Pendekatan Multidisiplin

Tak Perlu ke Luar Negeri, Indonesia Kini Perkuat Pengobatan Kanker Lewat Pendekatan Multidisiplin

Health | Selasa, 31 Maret 2026 | 13:53 WIB

Penjelasan Kemenkes soal Kematian Dokter di Cianjur: Positif Campak dengan Komplikasi Jantung-Otak

Penjelasan Kemenkes soal Kematian Dokter di Cianjur: Positif Campak dengan Komplikasi Jantung-Otak

Health | Selasa, 31 Maret 2026 | 11:37 WIB

Kasus Campak di Indonesia Turun Drastis 93 Persen Sejak Awal Tahun 2026

Kasus Campak di Indonesia Turun Drastis 93 Persen Sejak Awal Tahun 2026

Health | Selasa, 31 Maret 2026 | 11:22 WIB

Cegah Penularan, Kemenkes Keluarkan Aturan Baru Kewaspadaan Campak di RS

Cegah Penularan, Kemenkes Keluarkan Aturan Baru Kewaspadaan Campak di RS

Health | Selasa, 31 Maret 2026 | 10:54 WIB

Lawan Risiko Penyakit Pascabanjir: Membangun Kembali Harapan Lewat Akses Air dan Nutrisi Sehat

Lawan Risiko Penyakit Pascabanjir: Membangun Kembali Harapan Lewat Akses Air dan Nutrisi Sehat

Health | Senin, 30 Maret 2026 | 19:57 WIB

Solusi Makan Nasi Lebih Sehat: Cara Kurangi Karbohidrat Tanpa Diet Ekstrem

Solusi Makan Nasi Lebih Sehat: Cara Kurangi Karbohidrat Tanpa Diet Ekstrem

Health | Senin, 30 Maret 2026 | 13:21 WIB

Ketahui Manfaat Tak Terduga Bermain Busa Lembut Saat Mandi untuk Perkembangan Otak Si Kecil

Ketahui Manfaat Tak Terduga Bermain Busa Lembut Saat Mandi untuk Perkembangan Otak Si Kecil

Health | Minggu, 29 Maret 2026 | 21:12 WIB

Campak pada Orang Dewasa Apakah Menular? Ketahui Gejala, Pencegahan, dan Pengobatannya

Campak pada Orang Dewasa Apakah Menular? Ketahui Gejala, Pencegahan, dan Pengobatannya

Health | Minggu, 29 Maret 2026 | 10:42 WIB

2 Anak Harimau Mati karena Panleukopenia, Dokter Hewan: Lebih Mematikan dari Kucing Domestik

2 Anak Harimau Mati karena Panleukopenia, Dokter Hewan: Lebih Mematikan dari Kucing Domestik

Health | Sabtu, 28 Maret 2026 | 20:55 WIB