Infertilitas Bukan Hanya Urusan Perempuan: Saatnya Kesehatan Reproduksi Pria Diperhatikan

M. Reza Sulaiman

Senin, 16 Juni 2025 | 20:42 WIB
Infertilitas Bukan Hanya Urusan Perempuan: Saatnya Kesehatan Reproduksi Pria Diperhatikan
Ilustrasi kesehatan reproduksi pria. (Shutterstock)

Suara.com - Isu infertilitas masih menjadi tantangan besar dalam sistem kesehatan global. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), sekitar 1 dari 6 pasangan di dunia mengalami kesulitan untuk hamil. Di Indonesia sendiri, prevalensi infertilitas diperkirakan mencapai 10–15% pada pasangan usia subur. Meski sering kali dikaitkan dengan kondisi kesehatan perempuan, faktanya hampir 50% dari kasus infertilitas disebabkan oleh faktor pria.

Namun demikian, perhatian terhadap kesehatan reproduksi pria masih sangat minim. Edukasi yang terbatas, stigma sosial, dan anggapan keliru bahwa kesuburan hanya bergantung pada perempuan membuat banyak pria enggan melakukan pemeriksaan atau berkonsultasi. Padahal, kualitas sperma, gaya hidup, nutrisi, serta kesehatan hormonal memainkan peran penting dalam keberhasilan kehamilan.

Melihat kompleksitas dan ketimpangan pemahaman seputar isu ini, Smart Fertility Clinic menyelenggarakan simposium ilmiah bertajuk Smart Scientific Update: Ilmu di Balik Proses Kehamilan. Acara ini menjadi ruang diskusi bagi para profesional medis untuk menggali lebih dalam tentang aspek teknis, klinis, dan sosial dalam penanganan infertilitas—termasuk menyoroti pentingnya keterlibatan pria dalam setiap tahapan program kehamilan.

Simposium ini tak hanya mengangkat kemajuan teknologi reproduksi, tetapi juga menekankan perlunya pendekatan holistik dan kolaboratif dalam menangani infertilitas di Indonesia. Salah satu isu penting yang mengemuka dalam diskusi adalah kurangnya perhatian terhadap kesehatan reproduksi pria, yang selama ini kerap luput dari pembicaraan publik maupun perencanaan medis.

Berikut beberapa fakta penting yang dibahas dalam Smart Scientific Update bertema “Ilmu di Balik Proses Kehamilan”, diselenggarakan oleh Smart Fertility Clinic di Jakarta,(15/6/2025).

1. Hampir 50% Kasus Infertilitas Berasal dari Faktor Pria

Menurut Dr. dr. Rahmawati Thamrin, Sp.And., dalam sesi diskusi bertema Sexual and Reproductive Health in Men, ia menegaskan: “Seringkali kesehatan reproduksi pria luput dari perhatian. Padahal, hampir 50% kasus infertilitas dipengaruhi faktor pria, dan edukasi mengenai masih sangat minim,”

Pernyataan ini menjadi pengingat penting bahwa keberhasilan kehamilan bukan hanya bergantung pada kesuburan perempuan, tetapi juga pria.

2. Pemeriksaan Kesuburan Pria Masih Dianggap Tabu

Minimnya edukasi dan stigma sosial membuat banyak pria enggan memeriksakan diri. Padahal, pemeriksaan sederhana seperti analisis sperma dapat memberikan gambaran penting tentang kualitas dan kuantitas sperma. Deteksi dini memungkinkan penanganan lebih cepat dan efektif.

3. Inseminasi Buatan (IUI) Bisa Menjadi Solusi Awal

Salah satu metode penanganan infertilitas yang dibahas dalam simposium adalah Intrauterine Insemination (IUI), yakni prosedur medis yang memasukkan sperma langsung ke dalam rahim pada masa ovulasi.

Meski lebih terjangkau dibanding program bayi tabung (IVF), tingkat keberhasilan IUI hanya berkisar 10–20%, tergantung pada:

  • Usia pasangan
  • Kualitas dan jumlah sperma
  • Kondisi rahim dan saluran tuba

4. Prakehamilan Adalah Masa Kritis, Termasuk untuk Pria

Prof. Dr. dr. R. Muharam, Sp.OG., Subsp. FER., MPH. menyampaikan dalam materi Optimizing Preconceptions Period: Key in Fertility Management, bahwa masa prakehamilan merupakan jendela penting untuk persiapan reproduksi.

Nutrisi, suplementasi, serta manajemen stres dan emosi tidak hanya penting bagi perempuan, tetapi juga bagi pria yang ingin mendukung keberhasilan program kehamilan.

5. Penanganan IVF Kini Lebih Terjangkau dan Efisien

Prof. Dr. dr. Budi Wiweko, Sp.OG, MPH, Subsp. FER mengangkat tema Time to Pregnancy and Perinatal Outcome in Affordable IVF. Ia menjelaskan bahwa bayi tabung memang bukan prosedur murah, namun teknologi terkini seperti mild ovarian stimulation serta klasifikasi pasien berdasarkan respons hormon (poor, normal, atau hyper-responder) dapat menekan biaya.

Hal ini membuka peluang lebih besar bagi pasangan yang ingin menjalani program IVF tanpa terbebani biaya berlebihan.

6. Perlu Kolaborasi dan Literasi yang Lebih Luas

CEO Smart Fertility Clinic, dr. Laura Leandra Setiawan, dalam sambutannya menyatakan: “Peningkatan pengetahuan dan kolaborasi sangat penting untuk memajukan dunia fertilitas terutama di Indonesia.”

Upaya edukasi dan penyebaran informasi kepada masyarakat luas, khususnya kaum pria, menjadi kunci dalam menciptakan pemahaman yang setara terkait peran reproduksi masing-masing pasangan.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Tak Lagi Pahit, Ini Inovasi Jamu Herbal Rasa Buah untuk Kesehatan Reproduksi Perempuan

Tak Lagi Pahit, Ini Inovasi Jamu Herbal Rasa Buah untuk Kesehatan Reproduksi Perempuan

Health | Senin, 02 Juni 2025 | 16:33 WIB

Studi: Cuaca Ekstrem Memperparah Krisis Kesehatan Reproduksi Remaja

Studi: Cuaca Ekstrem Memperparah Krisis Kesehatan Reproduksi Remaja

Health | Kamis, 29 Mei 2025 | 09:03 WIB

Panas Ekstrem Akibat Krisis Iklim Picu Risiko Kehamilan, Adakah Solusi Atasinya?

Panas Ekstrem Akibat Krisis Iklim Picu Risiko Kehamilan, Adakah Solusi Atasinya?

Health | Rabu, 21 Mei 2025 | 08:41 WIB

Terkini

Notarace 2026 Siap Digelar, Ajang Lari yang Padukan Olahraga dan Wawasan Hukum

Notarace 2026 Siap Digelar, Ajang Lari yang Padukan Olahraga dan Wawasan Hukum

Health | Minggu, 14 Juni 2026 | 19:05 WIB

Rekomendasi Dokter Richard, Ini Solusi Praktis  Redakan Wasir dengan Cara Alami

Rekomendasi Dokter Richard, Ini Solusi Praktis Redakan Wasir dengan Cara Alami

Health | Minggu, 14 Juni 2026 | 15:55 WIB

Kolesterol Tinggi Sering Tanpa Gejala, Dokter Ingatkan Pentingnya Deteksi Dini sejak Usia 20 Tahun

Kolesterol Tinggi Sering Tanpa Gejala, Dokter Ingatkan Pentingnya Deteksi Dini sejak Usia 20 Tahun

Health | Sabtu, 13 Juni 2026 | 20:18 WIB

Dokter Bantah Mitos Obat Kolesterol dan Diabetes Rusak Ginjal, Ini Penjelasannya

Dokter Bantah Mitos Obat Kolesterol dan Diabetes Rusak Ginjal, Ini Penjelasannya

Health | Sabtu, 13 Juni 2026 | 10:29 WIB

Anak Sering Ruam atau Diare Setelah Minum Susu? Bisa Jadi Tanda Alergi Susu Sapi

Anak Sering Ruam atau Diare Setelah Minum Susu? Bisa Jadi Tanda Alergi Susu Sapi

Health | Jum'at, 12 Juni 2026 | 12:50 WIB

Metoo Hadirkan Senyum di Tengah Mobilitas Jakarta lewat Aktivasi Interaktif di CSW

Metoo Hadirkan Senyum di Tengah Mobilitas Jakarta lewat Aktivasi Interaktif di CSW

Health | Jum'at, 12 Juni 2026 | 09:06 WIB

Dorong Pola Makan Seimbang, Konsumsi Buah dan Sayur Masih Jadi Tantangan di Indonesia

Dorong Pola Makan Seimbang, Konsumsi Buah dan Sayur Masih Jadi Tantangan di Indonesia

Health | Kamis, 11 Juni 2026 | 21:51 WIB

Saat Lambung Mulai Sensitif, Ini Pilihan Makanan yang Lebih Ramah di Perut

Saat Lambung Mulai Sensitif, Ini Pilihan Makanan yang Lebih Ramah di Perut

Health | Rabu, 10 Juni 2026 | 17:20 WIB

Quinn Salman Selalu Sempatkan Waktu Bermain Bersama Keluarga, Ternyata Manfaatnya Bagus Banget?

Quinn Salman Selalu Sempatkan Waktu Bermain Bersama Keluarga, Ternyata Manfaatnya Bagus Banget?

Health | Selasa, 09 Juni 2026 | 16:57 WIB

Mobilitas Tinggi Bikin Kulit Lebih Rentan Terpapar Kuman, Kapan Perlu Antiseptik?

Mobilitas Tinggi Bikin Kulit Lebih Rentan Terpapar Kuman, Kapan Perlu Antiseptik?

Health | Selasa, 09 Juni 2026 | 14:09 WIB