Otak Ternyata Bisa Meniru Emosi Orang, Hati-hati Anxiety Bisa Menular

Senin, 13 Oktober 2025 | 12:41 WIB
Otak Ternyata Bisa Meniru Emosi Orang, Hati-hati Anxiety Bisa Menular
Ilustrasi cemas/anxiety. (unsplash)
Baca 10 detik
  • Anxiety merupakan gangguan kecemasan yang sering di alami oleh orang Indonesia yang memiliki kaitan dengan kinerja otak.
  • Menurut Pakar Kedokteran Komunitas dr. Ray, kecemasan bisa menular kepada orang lain.
  • Kondisi ini tidak lepas dari proses kerja sel saraf otak yang secara otomatis meniru emosi hingga perilaku orang lain.

Suara.com - Kecemasan atau anxiety jadi salah satu masalah kesehatan mental yang menjadi momok di Indonesia. Apalagi, penelitian terbaru menunjukkan 2 dari 5 orang Indonesia mengalami kecemasan.

Peneliti sekaligus Pakar Kedokteran Komunitas, Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH, mengatakan kecemasan bisa menular kepada orang lain. Proses penularan terjadi saat seseorang sering terpapar ekspresi atau cerita cemas, baik secara langsung maupun melalui media sosial.

Rasa cemas yang dialami masyarakat Indonesia ini meliputi tekanan gaya hidup dan ekonomi. Apalagi, riset menunjukkan 84 persen kecemasan berhubungan dengan sistem pencernaan.

Fenomena ini sebagaimana saat seseorang panik atau cemas, ia kerap merasakan sakit perut hingga tidak memiliki nafsu makan.

Dr. Ray menjelaskan kondisi ini tidak lepas dari proses kerja sel saraf otak yang disebut mirror neurons. Sel ini akan secara otomatis meniru emosi hingga perilaku orang lain. Sehingga, saat ia terpapar cerita yang membuat cemas, otak akan berusaha menirunya.

“Saat kita melihat seseorang cemas, panik, atau mendengar cerita yang penuh kecemasan, otak kita ikut menyalakan mekanisme itu. Lama-kelamaan, otak belajar untuk meniru pola cemas tersebut, mirip proses social cognitive learning,” jelas Dr. Ray dalam acara talkshow bertajuk Anxiety: From Awareness to Sustainable Self-Healing oleh Lions Club Jakarta Pusat Centennial Terra beberapa waktu lalu.

Perbedaan YOLO, FOMO, FOPO (Freepik)
Perbedaan YOLO, FOMO, FOPO (Freepik)

Kecemasan yang menular ini, kata Dr. Ray, cara kerjanya serupa dengan fenomena panik yang mudah menular dalam kerumunan. Kondisi ini juga terjadi di dunia maya saat adanya konten media sosial yang memicu kecemasan.

“Begitu juga di era digital saat ini, konten media sosial yang membahas kecemasan secara berlebihan justru bisa membuat orang lain ikut merasa cemas,” papar Dr. Ray.

Inilah sebabnya, dokter yang juga peneliti utama Health Collaborative Center (HCC) itu mengingatkan masyarakat untuk lebih selektif dalam menerima informasi, khususnya konten yang hanya memberikan rasa cemas tanpa memberikan solusi yang sehat.

Baca Juga: Viral Siput Diduga Terekam di Makanan MBG, Ancam Kerusakan Otak Jika Termakan

“Kalau terlalu sering melihat konten anxiety di media sosial, otak kita bisa terbiasa berada dalam mode cemas. Akhirnya, kita jadi gampang ikut-ikutan cemas meski tidak ada pemicu nyata. Jadi, berhati-hatilah dengan apa yang Anda konsumsi, bukan hanya makanan, tetapi juga informasi,” pungkasnya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Tes Kepintaran GTA Kamu Sebelum Grand Theft Auto 6 Rilis!
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis: Kamu Tipe Red Flag, Green Flag, Yellow Flag atau Beige Flag?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Apa Kabar Kamu Hari Ini? Cek Pesan Drakor untuk Hatimu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tablet Apa yang Paling Cocok sama Gaya Hidup Kamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Film Makoto Shinkai Mana yang Menggambarkan Kisah Cintamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kalau Jadi Superhero, Kamu Paling Mirip Siapa?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Destinasi Liburan Mana yang Paling Cocok dengan Karakter Kamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Merek Sepatu Apa yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Karakter Utama di Drama Can This Love be Translated?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Menu Kopi Mana yang "Kamu Banget"?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kamu Tipe Kepribadian MBTI Apa Sih Sebenarnya?
Ikuti Kuisnya ➔
×
Zoomed

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI