- Atelier of Minds dan Agape Psychology mempromosikan pendekatan neuro-afirming untuk mendukung kesehatan mental anak neurodivergent dalam lingkungan pendidikan inklusif.
- Pendekatan ini berfokus pada pemenuhan kebutuhan sensori dan regulasi emosi, bukan memaksa anak menyesuaikan diri dengan aturan kaku.
- Kolaborasi ini bertujuan menciptakan lingkungan pendidikan yang mendukung perkembangan holistik bagi 2,4 juta anak neurodivergent di Indonesia.
Suara.com - Peringatan Bulan Kesadaran Autisme Sedunia tahun ini mendorong pergeseran cara pandang terhadap kesehatan anak, khususnya bagi anak neurodivergent seperti autisme, ADHD, dan disleksia. Tidak lagi sekadar soal bebas dari perundungan, lingkungan sekolah kini dinilai berperan besar dalam menjaga kesehatan mental dan emosional anak secara menyeluruh.
Sejalan dengan terbitnya Permendikdasmen No. 6/2026 tentang “Budaya Sekolah yang Aman dan Nyaman”, pendekatan terhadap kesejahteraan anak pun semakin berkembang. Atelier of Minds, after-school care dan enrichment center inklusif di Jakarta Selatan, menilai bahwa rasa aman bagi anak neurodivergent harus dilihat dari perspektif kesehatan yang lebih luas—termasuk bagaimana lingkungan memengaruhi regulasi emosi, stres, hingga perkembangan sosial anak.
Anak neurodivergent kerap menghadapi tantangan yang tidak selalu terlihat, mulai dari kesulitan memahami situasi sosial hingga tekanan untuk terus menyesuaikan diri dengan lingkungan. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat berdampak pada kesehatan mental jika tidak ditangani dengan pendekatan yang tepat.
Salah satu fenomena yang sering terjadi adalah masking, yaitu ketika anak menutupi karakteristik dirinya agar terlihat “sama” dengan orang lain. Meski tampak adaptif, masking justru dapat memicu kelelahan emosional dan meningkatkan risiko stres berkepanjangan.
Karena itu, pendekatan neuro-afirming mulai dinilai sebagai solusi yang lebih sehat bagi perkembangan anak. Pendekatan ini tidak memaksa anak untuk menyesuaikan diri, melainkan mendukung mereka berkembang sesuai cara kerja otak masing-masing.
“Bagi anak neurodivergent, sekolah tidak otomatis menjadi tempat aman hanya karena tidak ada perundungan secara fisik. Rasa aman muncul ketika anak dapat menjadi dirinya sendiri tanpa takut disalahpahami. Dalam perspektif Occupational Therapy, regulasi emosi anak sangat dipengaruhi oleh bagaimana lingkungan mendukung kebutuhan sensori mereka,” ujar Ries Sansani, Occupational Therapist dan Lead Coach di Atelier of Minds.
“Ketika anak dipaksa ‘menyesuaikan diri’ melalui pendekatan disiplin yang kaku tanpa memahami kebutuhan sensori dan regulasinya, hal tersebut justru dapat meningkatkan stres dan disregulasi. Kebutuhan sensori yang terpenuhi dapat membentuk regulasi diri yang baik serta mengembangkan Functional Emotional Development Capacity, yaitu kapasitas perkembangan emosional yang memungkinkan anak merasa aman dan percaya ketika membangun hubungan dengan orang lain, serta secara bertahap mengembangkan kontrol emosi dan perilaku yang lebih adaptif,” tambah Ries.
Untuk memperkuat implementasi pendekatan ini, Atelier of Minds berkolaborasi dengan Agape Psychology, klinik psikologi berbasis di Singapura yang telah berpengalaman lebih dari satu dekade dalam praktik pendidikan inklusif.
Jeremy Ang, Clinical Director Agape Psychology, menekankan bahwa pendekatan neuro-afirming tidak hanya berdampak pada kenyamanan belajar, tetapi juga kesehatan mental anak dalam jangka panjang.
“Tujuan kami adalah menerjemahkan praktik neuro-afirming yang telah kami kembangkan secara mendalam di Singapura ke dalam dunia pendidikan Indonesia,” kata Jeremy Ang.
“Pendekatan ini bukan sekadar tentang menerapkan model asing, melainkan tentang bersama-sama membangun kerangka kerja yang berkelanjutan dan peka terhadap budaya, sehingga anak-anak Indonesia dapat berkembang secara baik dalam sisi akademis, sosial, dan emosional,” lanjutnya.
Kebutuhan akan pendekatan ini semakin mendesak. Berdasarkan data global WHO yang dirujuk Kementerian Kesehatan, sekitar 1 dari 100 anak mengalami Autism Spectrum Disorder (ASD). Di Indonesia, jumlahnya diperkirakan mencapai 2,4 juta anak, menunjukkan pentingnya sistem pendidikan yang mendukung kesehatan mental dan perkembangan mereka secara optimal.
Sebagai langkah awal, sekolah dapat mulai menerapkan pendekatan sederhana yang berfokus pada kesehatan anak secara holistik:
1. Mengutamakan keamanan sensorik
Rasa aman juga berarti bebas dari tekanan sensorik. Penyediaan ruang tenang atau penggunaan headphone peredam suara dapat membantu anak menjaga stabilitas emosi.