- Iwet Ramadhan dan Dave Hendrik mengalami stroke serta serangan jantung meski merasa menjalani pola hidup sehat.
- Hipertensi sering menjadi penyebab utama komplikasi serius yang tidak disadari karena minimnya gejala fisik secara klinis.
- Omron meluncurkan tensimeter Seri EZ dan IQ untuk mempermudah masyarakat memantau tekanan darah secara mandiri di rumah.
Suara.com - Merasa sehat bukan berarti bebas dari risiko stroke atau serangan jantung. Pesan itu terasa kuat dari kisah dua figur publik Indonesia, Iwet Ramadhan dan Dave Hendrik, yang sama-sama mengalami kondisi serius secara tiba-tiba meski merasa menjalani hidup sehat.
Iwet Ramadhan mengaku sempat tidak menyangka dirinya bisa terkena stroke. Sebagai sosok yang aktif berolahraga dan menjaga pola hidup, ia merasa tubuhnya baik-baik saja. Namun, stres yang terus menumpuk diam-diam bisa menjadi ancaman serius bagi kesehatannya.
“Kalau saya yang merasa sehat saja bisa terkena stroke, berarti siapa pun harus lebih waspada. Jangan tunggu gejala datang, cek kesehatan secara rutin itu penting,” ujar Iwet.
Setelah mengalami stroke, Iwet mulai mengubah banyak hal dalam hidupnya. Ia tetap menjaga rutinitas olahraga, bahkan kini menambahkan latihan angkat beban selain lari. Pola makan juga semakin diperhatikan dengan lebih mindful terhadap apa yang dikonsumsi setiap hari.
Namun, perubahan terbesar justru terjadi pada cara ia mengelola stres. Iwet menyadari selama ini dirinya terbiasa memendam emosi dan berusaha terlihat baik-baik saja. Kini, ia memilih lebih jujur terhadap apa yang dirasakan.
“Dulu aku tipe yang mendem kalau ada apa-apa. Setelah stroke, enggak lagi. Kalau enggak suka ya bilang enggak suka, kalau enggak bisa ya bilang enggak bisa,” katanya.
Ia juga mulai belajar menerima hal-hal yang berada di luar kendali hidupnya. Menurutnya, stres sering muncul ketika kenyataan tidak sesuai harapan.
“Aku mencoba lebih berserah. Ketika ada sesuatu yang terjadi tidak sesuai keinginan, aku tanya dulu ke diri sendiri, ini bisa diatasi atau tidak. Kalau memang tidak bisa, ya sudah let it go,” ujarnya.
Pengalaman serupa juga dialami Dave Hendrik. Aktor, penulis, MC, dan penyiar radio itu mengaku serangan jantung datang tanpa tanda yang ia sadari sebelumnya. Dari pengalaman tersebut, Dave kini menempatkan kesehatan sebagai prioritas utama.
“Kita sering merasa baik-baik saja, sampai akhirnya terlambat sadar. Dari pengalaman saya, memantau kesehatan secara rutin bisa jadi langkah sederhana yang sangat berarti,” kata Dave.
Kini, Dave menerapkan tiga kebiasaan yang menurutnya tidak bisa lagi ditawar dalam hidup: makan bergizi, olahraga, dan tidur cukup.
“Tiga hal yang tidak bisa ditawar saat ini dalam hidup saya adalah makan bergizi, olahraga, dan tidur cukup. Jam 9 atau 10 malam saya sudah berusaha tidur,” ujarnya.
Kisah Iwet dan Dave menjadi gambaran nyata bagaimana penyakit kardiovaskular bisa menyerang siapa saja, termasuk mereka yang terlihat sehat dan aktif. Salah satu faktor risiko terbesar di balik stroke dan serangan jantung adalah hipertensi atau tekanan darah tinggi yang kerap hadir tanpa gejala.
Bahaya Hipertensi
Organisasi Kesehatan Dunia mencatat stroke masih menjadi penyebab kematian tertinggi di Indonesia. Pada 2021, angka kematian akibat stroke mencapai 140,8 per 100.000 penduduk, disusul penyakit jantung iskemik sebesar 90,4 per 100.000 penduduk. Ironisnya, banyak penderita hipertensi tidak menyadari kondisinya sampai komplikasi serius terjadi.