- Dokter Karina Marcella Widjaja menjelaskan bahwa tubuh memiliki mekanisme adaptasi metabolik setelah berat badan turun.
- Selebriti Adit Insomnia berhasil menurunkan berat badan berkat pendampingan medis dari program Halofit.
- Halofit memperkenalkan berbagai fitur aplikasi untuk mendukung pengguna mempertahankan kebiasaan sehat dalam jangka panjang.
Suara.com - Menurunkan berat badan bukan sekadar mengejar angka tertentu di timbangan. Setelah berat badan turun, tantangan berikutnya adalah mempertahankan hasil tersebut agar tidak kembali naik.
Dokter Spesialis Gizi Klinik dr. Karina Marcella Widjaja, Sp.GK mengatakan, tubuh memiliki mekanisme adaptasi yang dapat membuat seseorang kembali merasa lapar setelah mengalami penurunan berat badan.
“Kalau misalnya kita sudah mencoba untuk menurunkan berat badan, sudah turun misalnya 10 kilogram dalam waktu hanya sekitar dua bulan, tubuh itu punya memory. Tubuh akan mengingat pola sebelumnya sehingga badan kita juga bisa terasa lebih lapar lagi,” ujar dr. Karina dalam perayaan satu tahun perjalanan layanan kesehatan klinik digital Halofit by Halodoc.
Menurutnya, kondisi tersebut merupakan bagian dari adaptive metabolic response. Setelah berat badan turun, kebutuhan energi tubuh juga ikut berkurang. Karena itu, pola makan dan aktivitas fisik tetap perlu dijaga meski target berat badan sudah tercapai.
Tak Perlu Terlalu Sering Menimbang
Dalam sesi health talk bertema "Simplifying Obesity Care & Shaping a Healthier Indonesia", dr. Karina menyarankan penimbangan berat badan dilakukan sekitar satu kali dalam sepekan. Menimbang setiap hari tidak selalu diperlukan karena berat badan dapat berubah akibat cairan tubuh maupun makanan.
“Jangan setiap hari menimbang karena kondisi tubuh kita pasti berubah. Bisa karena faktor cairan. Hari ini kita minum sampai tiga liter, berat badan bisa naik. Habis makan juga pasti naik,” jelasnya.
Selain angka di timbangan, komposisi tubuh, indeks massa tubuh (IMT), dan lingkar pinggang juga dapat dipantau. Pemeriksaan komposisi tubuh, misalnya, dapat melihat massa lemak dan otot.
Lebih lanjut, dr. Karina menyarankan penurunan berat badan juga sebaiknya tidak dilakukan secara terlalu cepat. Target secara umum dapat berada di kisaran 5–15 persen dari berat badan awal atau sekitar 2–4 kilogram per bulan, dengan penyesuaian berdasarkan kondisi masing-masing.
“Enggak mungkin kita langsung ingin turun 10 kilogram dalam sebulan. Yang ada kalori terlalu kecil malah jadi bahaya,” katanya.
Karena itu, kebutuhan kalori, kondisi kesehatan, pola makan, dan aktivitas fisik perlu diperhatikan sebelum menjalani program penurunan berat badan.
Jangan Lupakan Pola Makan, Olahraga, dan Tidur
Dr. Karina mengatakan, pola makan tetap perlu seimbang dengan mencukupi karbohidrat, protein, buah, dan sayur. Asupan gula, garam, dan makanan tinggi kalori perlu dibatasi.
Ia juga menyarankan mindful eating, yakni tetap menikmati makanan tertentu dengan memperhatikan jenis dan porsinya.
Selain itu, aktivitas fisik setidaknya 150 menit per minggu dan latihan kekuatan dapat membantu menjaga kebugaran serta massa otot. Tidur sekitar 7–8 jam per hari juga penting untuk mendukung pola hidup yang sehat.
Jangan Abaikan Fase Pemeliharaan
Ketika target berat badan sudah tercapai, bukan berarti program selesai. Menurut dr. Karina, seseorang tetap perlu memantau kondisi tubuh dan menyesuaikan pola makan serta aktivitas agar berat badan tidak kembali naik.
“Kalau berat badan sudah tercapai, kita harus periksa lagi, pantau lagi. Jangan asal karena sudah turun 10 atau 20 kilogram kemudian kembali makan seperti sebelumnya,” kata dr. Karina.
Pengalaman tersebut inilah yang dijalani oleh selebriti Adit Insomnia. Setelah berat badannya sempat meningkat sekitar 18 kilogram dalam tujuh tahun terakhir, ia mengaku berhasil menurunkan sekitar 10–12 kilogram setelah mendapat pendampingan pengelolaan berat badan bersama Halofit.
“Pendampingan dari tim medis Halofit membuat proses pengelolaan berat badan saya terasa lebih terarah dan membantu saya melihat perubahan sebagai bagian dari perjalanan kesehatan, bukan sekadar mengejar target penurunan berat badan,” ujar Adit.
Ia kini berusaha mempertahankan kebiasaan tersebut dengan tetap aktif bergerak dan menjaga pola makan berkat bantuan dari Halofit, program klinik digital weight management dari Halodoc.
VP Consultation & Diagnostics Halodoc Ignasius Hasim mengatakan, pengelolaan berat badan membutuhkan perubahan yang dapat dipertahankan dalam jangka panjang.
“Pengelolaan berat badan bukan soal transformasi secara instan, tetapi tentang membangun perubahan yang dapat dipertahankan dalam jangka panjang,” ujarnya.
Untuk mendukung proses tersebut, Halofit memperkenalkan sejumlah fitur pendampingan, termasuk Care Room yang memungkinkan pengguna memantau perkembangan program dan berat badan melalui aplikasi Halodoc.
Ada pula Support 24/7 dengan dukungan tim medis dan HILDA (Halodoc Intelligent Digital Assistant) untuk membantu menjawab pertanyaan pengguna. Jika pertanyaan membutuhkan penanganan klinis, kasus dapat diteruskan kepada dokter.
Halofit juga menyediakan widget jadwal injeksi mingguan untuk membantu pengguna mencatat dan mengingat jadwal terapi yang telah ditetapkan dalam programnya.
Ignasius menekankan bahwa fitur tersebut ditujukan untuk mendukung keberlanjutan pendampingan setelah pengguna menjalani program, bukan menggantikan peran tenaga medis.
Dengan demikian, pengelolaan berat badan tidak berhenti ketika target angka di timbangan tercapai. Pola makan, aktivitas fisik, tidur, serta pemantauan kondisi tubuh tetap menjadi bagian dari kebiasaan yang perlu dijaga dalam jangka panjang.