- Kemenkes mencatat 3,9 juta penduduk Indonesia menderita stroke pada 2023 yang memerlukan penanganan dalam periode emas 4,5 jam.
- Pemerintah memperkuat standar penanganan stroke melalui PNPK Tata Laksana Stroke pada 19 Agustus 2026 untuk menurunkan kematian dan kecacatan.
- Siloam Hospitals Lippo Village telah menangani lebih dari 20.000 kasus neuroscience kompleks menggunakan teknologi dan protokol klinis terstandar.
Suara.com - Stroke masih menjadi persoalan kesehatan serius di Indonesia. Data Kementerian Kesehatan (Kemenkes) pada Juni 2026 menunjukkan sekitar 3,9 juta penduduk Indonesia hidup dengan stroke pada 2023 dan penyakit ini menyebabkan lebih dari 350 ribu kematian. Indonesia juga menyumbang sekitar 6,5 persen beban disabilitas akibat stroke secara global.
Besarnya angka kematian dan kecacatan tersebut membuat kecepatan penanganan menjadi faktor penting.
Stroke merupakan kondisi kegawatdaruratan medis yang terjadi ketika aliran darah ke otak terganggu akibat sumbatan atau perdarahan.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dalam fact sheet yang diperbarui pada 19 Desember 2025 mencatat stroke menjadi penyebab kematian dan disabilitas terbesar ketiga secara global pada 2021.
Pada tahun tersebut diperkirakan terdapat 11,9 juta kasus stroke baru di dunia, dengan total 93,8 juta orang hidup dengan kondisi tersebut.
WHO juga menyebut risiko seseorang mengalami stroke sepanjang hidup meningkat 50 persen dalam 20 tahun terakhir, dengan sekitar satu dari empat orang dewasa diperkirakan mengalami stroke sepanjang hidupnya.
![Ilustrasi pasien stroke. [Dok.Antara]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2024/08/12/86472-ilustrasi-stroke.jpg)
Di Indonesia, Kemenkes sejak 2023 telah mengingatkan mengenai pentingnya golden period dalam penanganan stroke. Kemenkes menyebut periode emas penanganan stroke sekitar 4,5 jam sejak serangan.
Pasien dianjurkan segera dibawa ke rumah sakit karena semakin lama penanganan ditunda, semakin besar risiko kerusakan otak, kematian, maupun kecacatan.
Untuk stroke iskemik atau stroke akibat sumbatan pembuluh darah, waktu juga menjadi bagian penting dalam menentukan pemberian terapi.
Indikator pelayanan stroke Kemenkes pada 2024 menerangkan, pasien stroke iskemik dengan onset kurang dari 4,5 jam dan memenuhi indikasi ditargetkan mendapatkan terapi trombolisis intravena menggunakan rTPA setelah pemeriksaan yang diperlukan.
Terapi cepat tersebut ditujukan untuk membantu melarutkan bekuan darah dan memulihkan aliran darah ke otak.
Pemerintah bahkan kembali memperkuat standar penanganan stroke melalui Pedoman Nasional Pelayanan Klinis (PNPK) Tata Laksana Stroke pada 19 Agustus 2026 kemarin sebagai acuan resmi bagi tenaga kesehatan dan fasilitas pelayanan kesehatan di Indonesia.

Pedoman tersebut ditujukan untuk menstandarkan diagnosis dan pengobatan stroke guna membantu menurunkan angka kematian dan kecacatan.
Kebutuhan terhadap penanganan yang cepat dan terintegrasi tersebut turut mendorong pengembangan layanan neurologi dan bedah saraf. Kabar baiknya, Siloam Hospitals Lippo Village menyebut telah menangani lebih dari 20.000 kasus neuroscience kompleks selama pengembangan layanan selama tiga dekade.
Layanan yang dikembangkan mencakup neurointervensi, rehabilitasi saraf, neuro-onkologi, neurorestorasi, hingga terapi stroke akut melalui penghancuran dan pengangkatan sumbatan pembuluh darah otak.
Kecepatan penanganan ini bisa terjadi lantaran menerapkan layanan stroke didukung kemampuan diagnostik dan intervensi tingkat lanjut, stroke pathway terintegrasi, serta protokol klinis yang terstandar.
Spesialis bedah saraf sekaligus subspesialis neuro-onkologi Siloam Hospitals Lippo Village, Prof. Dr. dr. Julius July, Sp.BS (K), M.Kes, IFAANS mengatakan, perkembangan penanganan penyakit saraf selama tiga dekade tidak hanya ditentukan oleh teknologi, tetapi juga teknik bedah dan kolaborasi multidisiplin.
"Dalam 30 tahun terakhir, kami melihat bagaimana perkembangan ilmu, teknik bedah, teknologi, dan kolaborasi multidisiplin mengubah penanganan berbagai kasus neurologis," ujar Prof. Julius dalam konferensi pers The 2nd Siloam Neuroscience Summit 2026 di Jakarta, Sabtu (19/9/2026).
Ia menambahkan, tantangan berikutnya adalah memastikan kemajuan ilmu dan teknologi tersebut dapat diterjemahkan menjadi pelayanan yang lebih tepat, aman, dan memberikan hasil yang lebih baik bagi pasien.
Persoalan stroke pun tidak berhenti ketika pasien berhasil melewati fase akut. Kemenkes pada Juni 2026 menyebut dampak stroke dapat berupa gangguan fisik dan kognitif jangka panjang yang memengaruhi kualitas hidup, produktivitas, serta kemandirian penyintas. Karena itu, rehabilitasi juga menjadi bagian penting dalam penanganan stroke.
"Tantangan berikutnya adalah bagaimana kita terus mendorong batas tersebut dan membawa manfaatnya lebih luas bagi pasien di Indonesia," pungkas Prof. Julius.