- dr. Febby Astari dan dr. Oktaviana Niken menjelaskan bahwa kualitas tidur yang buruk dapat berdampak negatif pada konsentrasi, memori, dan pengelolaan stres.
- Seraphim Medical Center meluncurkan Brain Wellness & Sleep Center untuk mengatasi gangguan tidur serta kesehatan otak melalui pemeriksaan medis komprehensif.
- Pusat layanan tersebut menyediakan berbagai teknologi seperti qEEG Brain Mapping, Neurofeedback, dan Transcranial Pulse Stimulation guna menyusun program pemulihan personal.
Suara.com - Tidur sering kali menjadi bagian dari rutinitas yang paling mudah dikorbankan. Kesibukan pekerjaan, aktivitas sosial, hingga kebiasaan bermain gadget sebelum tidur membuat waktu istirahat semakin berkurang.
Padahal, tidur bukan sekadar jeda setelah tubuh menjalani aktivitas seharian, tetapi memiliki peran penting bagi kesehatan otak dan kondisi fisik secara keseluruhan.
Kebiasaan tidur yang kurang baik bahkan dapat berpengaruh pada konsentrasi, daya ingat, suasana hati, hingga kemampuan tubuh mengelola stres. Karena itu, membangun sleep hygiene atau kebiasaan tidur yang sehat menjadi salah satu langkah penting untuk menjaga kualitas hidup.
dr. Febby Astari, IFMCP menjelaskan, kebiasaan sebelum tidur dapat membantu tubuh mengenali bahwa waktu istirahat sudah tiba. Ritual sederhana seperti mengganti pakaian, mengatur suhu kamar, meredupkan lampu, hingga menjauhkan gadget dapat menjadi bagian dari rutinitas tersebut.
“Untuk sleep hygiene yang paling baik itu, terakhir sudah mau tidur, lepas gadget-nya. Kalau bisa agak jauh sedikit,” ujar dr. Febby.
Menurutnya, penggunaan gadget menjelang tidur dapat membuat seseorang yang awalnya sudah mengantuk kembali terjaga, terutama ketika aktivitas berlanjut dengan scrolling. Karena itu, menciptakan suasana kamar yang mendukung tidur menjadi hal yang tidak kalah penting.
Suhu kamar juga sebaiknya dibuat nyaman, tidak terlalu panas maupun terlalu dingin. Sementara pencahayaan dapat mulai diredupkan ketika mendekati waktu tidur. Kondisi gelap membantu tubuh mengenali perubahan waktu dari aktivitas menuju istirahat.

Namun, menjaga kualitas tidur tidak hanya dilakukan pada malam hari. Pola hidup secara keseluruhan juga memiliki peran. dr. Oktaviana Niken P., Sp.N., DAIFIDN., MMRS., FNR., AIFO-K., mengatakan pola makan seimbang dan olahraga teratur turut memengaruhi kondisi tubuh dan kualitas tidur.
“Pola makan yang seimbang, yang bergizi itu penting untuk mempengaruhi aktivitas dan metabolisme sel, serta olahraga yang teratur,” jelasnya.
Ia menambahkan, jenis olahraga yang baik adalah aktivitas yang mampu dilakukan secara konsisten dalam jangka panjang. Aktivitas sehari-hari seperti bekerja di kantor atau mengurus rumah tangga belum dapat dianggap sebagai olahraga terstruktur.
Kualitas tidur juga berkaitan erat dengan kemampuan otak dalam menjalankan berbagai fungsi. Saat tidur, otak tidak berhenti bekerja. Salah satu proses penting yang berlangsung adalah konsolidasi memori.
Ketika kualitas tidur terganggu, proses tersebut dapat ikut terdampak. Akibatnya, seseorang bisa mengalami kesulitan berkonsentrasi, kemampuan belajar menurun, hingga lebih mudah lupa. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut juga dapat berkaitan dengan stres dan perubahan hormon kortisol.
“Tidur itu memang sangat penting. Pada saat kamu tidur, selain otak lagi istirahat, dia juga lagi konsolidasi memori. Jadi pada saat kualitas tidur kita tidak baik, otomatis konsolidasi memori itu tidak terjadi,” ujar dr. Niken.
Karena itu, persoalan tidur tidak selalu cukup diselesaikan hanya dengan mengubah kebiasaan. Jika seseorang sudah menerapkan sleep hygiene dan pola hidup sehat tetapi masih mengalami gangguan tidur, penyebab lain perlu diperiksa.
Kebutuhan tersebut menjadi salah satu alasan Seraphim Medical Center, unit bisnis Bethsaida Healthcare yang berfokus pada layanan wellness dan kualitas hidup jangka panjang, menghadirkan Brain Wellness & Sleep Center. Layanan ini mengintegrasikan kesehatan otak dan optimalisasi kualitas tidur dalam satu pusat layanan.
Brain Wellness & Sleep Center ditujukan bagi masyarakat dengan berbagai keluhan, mulai dari insomnia dan gangguan tidur lainnya, brain fog, mudah lupa, sulit berkonsentrasi, kelelahan kronis akibat stres, gangguan fungsi motorik, hingga kondisi yang berkaitan dengan risiko penurunan fungsi kognitif dan demensia.
Setiap klien menjalani serangkaian pemeriksaan untuk membantu menyusun program yang disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi masing-masing.
Salah satu pemeriksaan yang tersedia adalah qEEG Brain Mapping, yang digunakan untuk memetakan aktivitas gelombang otak dan membantu melihat pola yang berkaitan dengan gangguan tidur, stres, maupun risiko penurunan fungsi kognitif.
“Jadi kita bisa analisis gelombang otaknya. Kemudian kita bisa analisis, ternyata konsentrasinya kurang atau gelombang yang seharusnya meningkat malah menurun,” jelas dr. Niken.
Selain qEEG, layanan ini menghadirkan Neurofeedback untuk melatih otak memperbaiki pola gelombang yang tidak seimbang, dengan tujuan mendukung fokus, kualitas tidur, dan regulasi emosi.
Ada pula Transcranial Pulse Stimulation (TPS), teknologi non-invasif berbasis gelombang ultrasonik yang digunakan sebagai bagian dari pendekatan penunjang fungsi kognitif.
Untuk aspek fisik dan motorik, KINESIQ digunakan untuk menilai fungsi motorik secara objektif. Sementara Biophoton menjadi terapi penunjang berbasis cahaya untuk mendukung keseimbangan energi dan pemulihan tubuh secara menyeluruh.
dr. Febby menegaskan, program yang diberikan tidak dibuat seragam untuk semua orang.
“Setiap program di Brain Wellness & Sleep Center disusun secara personal berdasarkan hasil pemeriksaan masing-masing klien, sehingga penanganan yang diberikan benar-benar sesuai dengan kebutuhan dan kondisi kesehatan otak serta tidur setiap individu,” jelasnya.
Sementara itu, dr. Raymond menjelaskan bahwa pemeriksaan fungsi motorik juga menjadi bagian penting karena gangguan motorik dapat berkaitan dengan kondisi neurologis maupun kualitas tidur.
Sebagai bagian dari ekosistem Bethsaida Healthcare, Seraphim Medical Center mengintegrasikan pendekatan medis modern dengan program wellness berbasis bukti ilmiah.