- WHO menyatakan teknologi kecerdasan artifisial kini telah dimanfaatkan untuk mendukung berbagai kebutuhan sektor kesehatan global.
- Dalam proses diagnosis, misalnya, AI dapat digunakan untuk menganalisis data kesehatan dalam jumlah besar, termasuk rekam medis dan pemeriksaan laboratorium.
- Pameran tersebut menghadirkan berbagai inovasi alat kesehatan modern seperti kursi dokter gigi berbasis perintah suara.
Suara.com - Kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI) perlahan memasuki ruang yang selama ini sangat bergantung pada pengetahuan dan keputusan manusia: layanan kesehatan.
Penerapannya bukan lagi sekadar wacana tentang masa depan. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat AI telah digunakan atau dikembangkan untuk berbagai kebutuhan kesehatan, termasuk diagnosis, perawatan klinis, pengembangan obat, surveilans penyakit, hingga pengelolaan sistem kesehatan.
Dalam proses diagnosis, misalnya, AI dapat digunakan untuk menganalisis data kesehatan dalam jumlah besar, termasuk rekam medis, gambar medis, hasil pemeriksaan laboratorium, dan catatan klinis. Teknologi tersebut dapat membantu mengenali pola, kelainan, maupun faktor risiko tertentu.
Perkembangan ini membuat cara tenaga kesehatan memperoleh dan mengolah informasi medis ikut berubah. Jika sebelumnya proses analisis sangat bergantung pada pemeriksaan dan interpretasi manusia, kini teknologi dapat menjadi salah satu alat bantu untuk mengolah data yang lebih kompleks.
Namun, penggunaan AI dalam kesehatan juga membawa pertanyaan yang tidak kalah penting: seberapa aman teknologi tersebut, bagaimana data pasien digunakan, dan siapa yang bertanggung jawab ketika sistem memberikan hasil yang keliru?
WHO menekankan bahwa penerapan AI dalam kesehatan membutuhkan tata kelola, standar etika, perlindungan data, serta pendekatan yang berorientasi pada keselamatan pasien. Dalam laporan WHO/Europe pada 2025, organisasi tersebut juga mencatat AI sudah digunakan untuk membantu diagnosis di sejumlah negara, terutama dalam pencitraan medis dan deteksi penyakit.
Artinya, perkembangan AI dalam kesehatan bukan semata soal membuat proses medis menjadi lebih cepat. Ada persoalan akurasi, keamanan, tanggung jawab, dan akses yang perlu berjalan bersamaan.
Dari Foto Retina Hingga Bedah Robotik
Gambaran mengenai perkembangan tersebut dapat dilihat dari sejumlah teknologi yang akan dipamerkan dalam Indonesia International Hospital Expo ke-38 pada 7–10 Oktober 2026 di Indonesia Convention Exhibition (ICE), BSD City, Tangerang.
Salah satunya adalah AI-Based Cardiovascular Risk Assessment, yang menggunakan pendekatan oculomics, yakni analisis foto retina untuk membantu mendeteksi risiko penyakit secara noninvasif, cepat, dan tanpa radiasi.
Ada pula Dental Chair with AI yang menurut penyelenggara dapat dioperasikan menggunakan voice command atau perintah suara. Sementara teknologi lainnya adalah Robotic-Assisted Arthroplasty System, berupa sistem navigasi dan bedah robotik genggam yang membantu dokter ortopedi dalam operasi penggantian sendi lutut, baik total maupun parsial.
Ketiga contoh tersebut memperlihatkan bahwa AI dan teknologi digital dalam kesehatan dapat hadir dalam bentuk yang beragam. Ada yang berkaitan dengan pengolahan informasi dan penilaian risiko, ada yang berhubungan dengan perangkat medis, dan ada pula yang digunakan untuk membantu prosedur bedah.
Teknologi Lesehatan Tidak Hanya untuk Rumah Sakit
Perkembangan teknologi medis juga tidak berhenti pada ruang praktik atau ruang operasi. Hospital Expo ke-38, yang diselenggarakan bersamaan dengan Seminar Nasional PERSI ke-22 dan Seminar Tahunan Patient Safety ke-20, akan menampilkan berbagai kategori produk kesehatan. Menurut penyelenggara, cakupannya antara lain peralatan diagnosis, laboratorium, peralatan gigi, radiologi, fisioterapi, ortopedi, peralatan bedah, sistem informasi rumah sakit, hingga peralatan pernapasan.
Pameran tersebut diikuti lebih dari 600 perusahaan dan institusi dengan luas area mencapai 36.910 meter persegi. Sebanyak 66 persen peserta merupakan perusahaan lokal, sementara 34 persen lainnya berasal dari sejumlah negara, termasuk Tiongkok, Korea Selatan, Taiwan, Kanada, Malaysia, India, Thailand, Pakistan, dan Singapura.
Direktur Marketing & Finance PT Okta Sejahtera Insani selaku penyelenggara Hospital Expo, Yudha Imam Sutedja, mengatakan pameran tersebut menjadi salah satu ruang untuk memperkenalkan perkembangan teknologi kesehatan kepada pelaku industri.
“Berbagai alat kesehatan dengan teknologi terkini, termasuk yang mengimplementasikan AI, akan dipamerkan dalam Hospital Expo ke-38, pameran yang berfokus pada berbagai produk industri alat kesehatan dan kebutuhan rumah sakit. Hingga saat ini kami bertahan sebagai pameran terbesar di Asia Tenggara. Tahun ini, pameran diikuti lebih dari 600 perusahaan dan institusi yang menempati Hall 5–10 dengan total luas area pameran mencapai 36.910 m²,” kata Yudha.
Selain teknologi dan produk industri kesehatan, Hospital Expo juga menyediakan sejumlah kegiatan yang dapat diikuti masyarakat umum.
Penyelenggara mencantumkan pemeriksaan gratis berupa gula darah, tekanan darah, lemak tubuh, golongan darah, osteoporosis, kolesterol, asam urat, liver scan, USG, EKG, HbA1c, komposisi tubuh, dan indeks massa tubuh. Ada pula kegiatan donor darah oleh PMI Provinsi Banten.
Agenda edukasi juga menjadi bagian dari rangkaian acara. Beberapa di antaranya adalah talkshow mengenai keselamatan pasien, robotik dalam pembedahan, kesehatan reproduksi, serta pencegahan serangan jantung.