Suara.com - Ruang hijau di perkotaan tidak hanya berfungsi sebagai tempat rekreasi. Berada di taman, hutan kota, atau ruang terbuka hijau juga dapat membantu menurunkan stres, meningkatkan aktivitas fisik, dan mendukung kesehatan mental.
Konsep ini bahkan mulai diterapkan dalam layanan kesehatan melalui nature prescription atau resep alam. Pendekatan tersebut mendorong tenaga kesehatan merekomendasikan pasien untuk menghabiskan waktu di lingkungan alami sebagai bagian dari upaya menjaga dan meningkatkan kesehatan.
Melansir laman Earth.org, Kamis (1/10), dokter dapat menyarankan berbagai aktivitas seperti berjalan kaki, berkebun, atau meditasi di taman, hutan, kebun, hingga ruang terbuka biru.
Sejumlah program seperti Park Rx America di Amerika Serikat dan PaRx di Kanada telah diterapkan untuk membantu tenaga kesehatan memberikan rekomendasi aktivitas di luar ruangan.
Hubungan Alam dengan Kesehatan Mental
Manfaat berada di ruang hijau turut ditemukan da;lam berbagai penelitian. Sejumlah bukti menemukan bahwa aktivitas berbasis alam dapat membantu menurunkan tekanan darah, mengurangi gejala kecemasan dan depresi, hingga mendorong masyarakat untuk lebih aktif bergerak.
Salah satu meta-analisis terhadap sejumlah uji coba membuktikan adanya penurunan tekanan darah pada peserta yang mengikuti intervensi berbasis alam.
Berdasarkan temuan tersebut, dilaporkan rata-rata berjalan mereka hampir 900 langkah lebih banyak setiap harinya dibandingkan kelompok kontrol.
Tidak hanya berkaitan dengan kesehatan fisik. Manfaat tersebut turut dirasakan oleh hormon tubuh, seperti kortisol. Saat berada di alam, hormon kortisol dapat menurun dan lebih rileks sehingga mengurangi kadar stres.
Fenomena tersebut menjadi relevan bagi masyarakat perkotaan yang setiap hari menghadapi kemacetan, kebisingan, tekanan pekerjaan, hingga paparan layar digital.
Dengan memanfaatkan lingkungan alami, secara tidak langsung memberikan stimulasi yang lebih lembut sehingga dapat membantu mengatasi kelelahan mental.
Bahkan dalam penelitian yang dikutip laman tersebut, menunjukkan bahwa paparan terhadap lingkungan alami dapat membantu meningkatkan konsentrasi, memori kerja, dan kemampuan mengendalikan impuls.
Taman Saja Tidak Cukup, Perlu Ada Fasilitas Pendukung
Meski demikian, keberadaan ruang hijau tidak secara otomatis cukup mengatasi permasalahan tersebut. Kualitas dan kemudahan akses terhadap ruang tersebut juga sangat penting.
Dengan menghabiskan waktu sekitar 15 menit di lingkungan alami perkotaan, khasiatnya sangat signifikan, yakni memberikan ketenangan secara psikologis.
Di dalamnya ada juga keanekaragaman hayati yang ikut mengambil peran. Studi di Kanada menguak temuannya bahwa masyarakat di lingungan dengan keanekaragaman burung cenderung lebih sehat mental, yakni lebih tinggi sekitar 6,64 persen.
Karena itu, desain taman juga harus jadi perhatian. Jalur pejalan kaki yang mudah diakses dan terintegrasi secara tidak langsung mendoronng masyarakat untuk lebih banyak berjalan kaki.
Pada sisi lain, melalui penyajian beragam lanskap turut memberikan kenyamanan untuk menghabiskan waktu di luar ruangan.
Ruang hijau bahkan bisa menjadi tempat untuk membangun interaksi sosisal. Misalnya, kebun atau taman kota, dapat membuka peluang bagi masyarakat untuk bertemu dan mengurangi rasa kesepian.
Selain memberikan manfaat bagi kesehatan, pepohonan dan tanaman juga membantu mengurangi panas. Adapun keberadaan pepohonan itu mampu memperbaiki kualitas udara, meminimalisir limpasan air hujan.
Demikian, lingkungan luar ruangan menjadi lebih nyaman untu digunakan masyarakat. Pada akhirnya, taman kota tidak hanya berfungsi sebagai ruang rekreasi atau penghias kota.
Ketika dirancang dengan akses yang baik, lingkungan yang aman dan keanekaragaman hayati yang terjaga, ruang hijau pun dapat menjadi bagian dari upaya menghadirkan masyarakat yang lebih sehat.
Penulis: Chairunisa